Minggu, 25 Desember 2016

Ingin dan Jangan

25 Desember
14.12

Aku ingin kembali. Mendatangi dan mengabadikan momentku di sana. Aku telah berkorban banyak. Aku telah bertaruh untuk ini.

Tidak akan kusalahkan, anggap saja aku yang kelewatan. Anggap saja aku berlebihan, selesai dengan demikian. Lebih baik tidak datang, daripada kelak hari buruk ini membuatku membenci tempat ini.
Butuh berapa lama hingga ku lekas tak sendirian ?
buruh berapa waktu lagi, agar ku tak merasa sakit sendirian ?

Aku Menyukainya !

Anyar, 25 Desember 2016
10.54

     Sudah lama, entah kapan tepatnya sangkaku sudah menghilang. Duduk berlama lama, asyik diam merasakan kesunyian. Menemukan kembali diriku yang lama, memikirkan banyak hal. Memikirkan apapun yang terlintas, bukan hal berat yang memusingkan. hanya sampah.. dan kenangan.
     Tidak ada kehidupan lainnya, hanya aku, laut, dan hewan hewan di sekitarnya. Tidak ada manusia ! Tempat yang indah sekali, syukurku menemukan ini. Deburan ombak yang menghantam karang dan bibir pantai. Angin bersepoi sepoi, ah ayunan ini.. aku suka sekali.
     Untung kita bertemu, sebelum kesalku berambisi menguasai hasratku untuk PULANG ! Sebelum kesalku menyalahkanku untuk ikut.
     
menjelang 120 menit...
Aku suka tempat ini.

Selasa, 06 Desember 2016

Pintamu

Rumah, 14 November 2016
00.10

Aku menginginkanmu. Seperti bulan yang menginginkan bintangnya. Seperti martabak yang menginginkan telurnya. Seperti aku yang menginginkan kamunya.

Rinduku gegabah, mengkhawatirkan tak jua ada. Tapi ucapmu menenangkan. Kau bilang aku untuk tenang. Atas segala kemungkinan dan prasangka buruk tentang kita, kau memintaku bersabar. Dan rinduku kini lebih lebar

Berhenti

Sudirman, 6 Desember 2016
16.50

Saling menemukan, karena kau mengaminkan. Atau kita sama sama saling mendoakan ?

Senja itu ayahmu berkunjung datang, menggenggam secarik siluet wajah yang harusnya kukenal saat itu. Sayangnya, tak ada aku saat perjumpaan itu. Hanya ada ayahku, dan ayahmu tentunya.

Senja itu ayahmu meminta untuk kita saling disatukan. Kamu, pria yang selalu aku semogakan. Dalam dekapan sajadah sepertiga malamku. Ayahku tak tau, begitupun ayahmu dan kamu tentunya. Hanya Tuhan, yang mendekap doaku dalam kabulnya.

Ayahmu tak berhenti sampai disitu. Kali kedua, senja yang berbeda ia berkunjung. Keadaan yang sama, tak ada aku disitu. Tak ada kamu, hanya ada ayahmu dan ayahku. Dan ia kembali membicarakan kita.

Sudahkah kamu berencana ? Untuk Mengatur semua pertemuan ayah kita ? Untuk menghadirkan ayahmu di ruang tamuku. Untuk meminta agar kita dijodohkan, agar menjadi cerita yang tak disengaja?

Entahlah, tetaplah berkunjung seperti biasa. Denganmu aku suka. Denganmu aku ingin hidup lebih lama, berdua. Denganmu, Tuan yang kabul-Nya dihadirkan. Semoga kita benar benar didekatkan.

inspirasi dan untuk temanku LISK~

Hidup di Jakarta Akhir akhir ini

Jakarta, 10 Juli 2025 17.22 Hidup di Jakarta akhir-akhir ini kenapa menjadi seperti ini. Udara yang semakin memburuk membuat saya malah terk...