Kamis, 05 Desember 2019

Hari Ini

22.03
Apakah saya semenyebalkan itu ? Kamu bilang saya cuek, tidak mencari. Saat saya mencari langsung seperti ini, seperti memang melampiaskan saja. Bahkan kamu bilang saya pengganggu sekarang, disaat 5 tahun sebelumnya semenyebalkan saya ttp kamu tak pernah bilang itu. 

Bahkan saya hanya ingin menghibur, seperti anak kecil yang belum menyentuh gelas kaca tapi sudah menjadi terdakwa. Takut. Saya benar benar takut. Tiba tiba menghapus foto, tanpa tau salah saya apa. Ini benar salah saya, atau memang kamu mau melampiaskannya saja ? Saya benar-benar ketakutan saat ini, dimana kamu yang dulu saya kenal ? Dimana kamu yang dulu dengannya, saya bisa melihat banyak janji bahagia dan cinta. Menjanjikan bahwa saya tidak akan terluka, dan dengan saya kamu bahagia. Tapi sekarang, kamu merasa terbebani dengan adanya saya. Biarkan saya pergi, Sudah menjadi biasa saya ditinggal saat saya sudah mulai membuka lebar dan membiarkan kamu melenggang, dan menempati semua ruang.

Saya merasa menjadi tak pantas untuk siapapun saat ini. Sangat menyebalkan hingga orang sepertimu sudah menjadi lelah. Saya tak pantas untuk siapapun, bahkan untukmu juga. 

Senin, 18 November 2019

daripada mati, saya ingin tidak dilahirkan saja

Jakarta, 20.35 

Hadir dan membuat masalah, bukankah lebih baik tidak dilahirkan saja ? Daripada mati, bahkan untuk hidup saya tidak ada bayangan tentang surga dan saya di dalamnya. 
Daripada serumit itu, bukankah tidak ada dari awal adalah jawabannya ? 
Tidak minta dilahirkan tapi kalian yang menginginkan, namun slalu menjadi salah bahkan untuk semua lebih yang bahkan padamu tak terlihat. 
Saya lebih memilih menyerah jadi manusia di keluarga ini, bertingkah bahagia di luar tapi rusak di dalam.

Jika menurutmu saya tidak sesuai kamu dan maumu, jika menurutmu saya menyusahkan kamu, jika menurutmu saya buruk dan tidak diinginkan, bukankah lebih baik dari awal saya tidak dilahirkan ? Agar kalian berbahagia. 

Rabu, 13 November 2019

Jangan Lagi

02.55

Jangan lagi curiga, atau berfikir mengada-ada. Bagaimana bisa membuatmu percaya? Bahkan aku sudah lelah dengan kata-kata. Menjadi lebih baik dan lebih mengarah pada dirimu, apakah kurang? 
Bahkan untuk hal sama, kau curiga dan tak percaya tanpa ungkapan denganmu aku cinta. 

Sudah, aku lelah bertengkar. Menjadi menyenangkan kembali, ayo kita nikmati hari. Aku ingin kita menjadi baik. Selalu baik. 

Aku ingin bertengkar denganmu, memperebutkan makanan yang kita suka, bertengkar karna acara tv kita berbeda, beradu argumen untuk menghidupkan atau mematikan lampu. Aku ingin bertengkar seperti itu saja, dan tidak lama kita kembali berpelukan saling memaafkan. Menjadi saling berbaikan dan mencintai lagi. 

Terima Kasih untuk Tetap Ada

Kamar, 13 November 2029
02.48

    Malam ini kembali, terbangun di waktu yang membuat susah terpejam. Dan tertidur di waktu yang salah. Di saat janji kembali teringkar, padamu. Jangan marah, aku benar tertidur dan tak sengaja. Kembali tak sengaja, maafkan. Menjadi menakutkan jika kamu marah, bahkan kini aku tidak dapat kembali terpejam. Kamu. Tiba tiba saja menjadi bergemuruh memenuhi isi kepala. 
    Ah. Menyebalkan jadi aku. Dan sungguh sabar denganmu. Dengan tingkah rumitku, dengan segala kekecewaanmu, terima kasih sudah ada dan bertahan. Terima kasih sudah sabar.
Untukmu yang ada di rencana masa depanku, menjadi sebersyukur ini punya kamu. Terima kasih. 
   

Minggu, 16 Juni 2019

itulah mengapa untuk seterusnya, bahkan untuk hal remeh aku akan jujur, padamu.

Saat kamu berbohong,
itu artinya kamu sudah siap ada cinta yang akan berkurang. Itu artinya kamu sudah siap ada langkah kaki yang tak lagi berjalan berdampingan. Itu artinya kamu sudah siap akan ada kisah yang tak lagi berjalan dengan baik. Itu artinya, seseorang yang kamu bohongi tak lagi begitu berarti.

Seringkali kita mengira, kebohongan akan membuat cinta di hati seseorang yang dibohongi berkurang. Padahal bukankah sering kita temui, seseorang yang begitu sering dibohongi, seseorang yang menangis di tengah malam yang sunyi, seseorang yang ingin melepas namun malah menerimanya kembali, tetap mempertahankan seseorang yang ia duga sebagai cinta sejati. 

Itu karena, Sang Dusta tahu bahwa cinta adalah sebuah hal yang sakral, yang tak akan mampu apa pun unsurnya untuk berlaku buruk terhadapnya, maka dusta tak akan mungkin untuk mengintervensi cinta di hati yang tak melakukan kesalahan, apalagi mengurangi cinta di hati seseorang yang dibohongi. Namun Sang Dusta tak akan segan untuk mengurangi rasa cinta di hati seseorang yang membohongi. 

Meskipun seseorang yang ia cintai telah berbohong berulang kali. Hanya karena William Shakespeare berkata bahwa “Perjalanan cinta sejati tidak pernah berjalan mulus.” Bukan berarti lukamu atas dustanya adalah bagian dari cinta sejati yang tak berjalan mulus. Cinta sejati memang tak pernah berjalan mulus, sebab dipenuhi rintangan untuk dihadapi berdua dengan kesetiaan di hati keduanya, bukan dihadapi hanya oleh dirimu seorang. Cinta sejati tak pernah berjalan mulus, yaitu saat dunia memberikanmu cobaan di mana jika salah satu merasakan duka, maka duka itu akan dirasakan bersama. Bukan malah duka itu disebabkan olehnya. 

Maka harus kau tahu, ada satu hukuman yang tak seorang pembohong pun mampu untuk menghindarinya. Sehebat apa pun ia menyembunyikan kebohongannya, hukuman itu tetap tak dapat dihindarinya. Hukuman itu adalah, berkurangnya cinta yang ia miliki, tanpa ia sempat untuk menyadari.
Semakin sering ia berbohong, semakin besar pula cinta itu hilang dari hatinya. Padahal, cinta adalah rasa atas energi yang tak mudah didapatkan. Perlu waktu yang lama sebelum akhirnya kita dipertemukan dengan seseorang yang memicu agar cinta itu tumbuh. 

Kebohongan besar atau pun kecil yang dilakukan berulang kali, membuat energi cinta yang kita miliki semakin menipis. Akibatnya, kita tak lagi bisa merasakan unsur romance berjalan dengan baik di dalam sebuah hubungan.

Dan saat romance terhenti, saat itulah sebuah hubungan tak sebaiknya dipaksakan tetap terjalin. Karena hanya akan kau temui siklus yang akan membuatmu lelah. Karena kau hanya akan menjumpai seorang teman yang mendengarkan ceritamu tanpa peduli lagi, sebab ia telah lelah mendengar keluh yang selalu sama. Pada akhirnya engkau bagaikan seseorang yang menyelami lautan harapan yang tak memiliki dasar kepastian. Semakin dalam kamu selami, maka permukaan semakin jauh kamu tinggalkan. Lalu kau terjebak di antara ketidakinginanmu untuk bertahan, namun terlalu jauh untuk kembali ke permukaan.

Demikianlah dusta itu bekerja. Jika cinta bagaikan rangkaian puzzle yang terbentuk utuh di dua hati anak manusia yang saling mencintai. Maka satu kebohongan yang kau lakukan kepadanya, bagaikan satu potongan puzzle yang terjatuh dari hatimu sendiri. Semakin sering kau berbohong, tak akan ada lagi potongan puzzle yang tersisa. Lantas cintamu pun melemah. Dan kau lebih tertarik kepada orang lain. Kau bagaikan menyusun rangkaian puzzle yang baru.

Itulah mengapa, seseorang begitu mudah melukai hati seseorang yang mencintainya, sebab cinta di hatinya, sudah tak lagi ada. Jika kau berhenti berbohong mulai saat ini, kau bukan hanya menyelamatkan hubungan yang ada, demikian juga kau menyelamatkan cinta di hatimu untuknya agar tetap ada. 

— Ars
#Arstories

Selasa, 11 Juni 2019

4 Juni 2019



     Hei. Selamat atas hari lahirmu. Sudah 23 kau semakin dewasa. Bahkan aku menjadi pengecut, baru me-publish sekarang. Hei manusia, yang denganmu aku tidak pernah menampar orang untuk hari lahir di selanjutnya. Karna itu tentangmu semua.

      2013. Saat hari lahirmu ke-17, tanpa tau kau sedang merayakan aku memberi kejutan dengan tamparan di pipi kirimu sepertinya ? Dan aku tertawa kamu diam. Itu sakit pasti ya ? “Selamat ulang tahun!” Ucapku yang kembali tertawa. Kamu diam dan menjadi gagap saat itu mengucap terima kasih mengelus pipimu. ‘Ah benar sakit rupanya’

      Seperti sudah rencana takdir untuk membuatku merasa.... sedikit bersalah dan memberimu hadiah. Tidak istimewa, tapi kau suka. ‘’Hei manusia, terima kasih.’’ Ucapmu di pesan singkat itu. Haha, bahkan takdir terus memperpanjang cerita untuk kita, hingga bersama. 

     Aku tau, menjadi bodoh dengan tidak berbuat banyak untukmu saat itu. Dan kamu mempertanyakan hal yang tak bisa kuucapkan. Mari kuucapkan dengan baik sekarang, aku cinta kamu saat itu, Tuan. 

      Selamat atas hari lahirmu, semoga selalu bahagia dan terus menjadi manusia. Jadilah lelaki dewasa, yang tidak pergi tiba-tiba. 

Sabtu, 25 Mei 2019

Setelah Usia 23

Jakarta, 25 Mei 2019
03.02

      3 jam lebih 2 menit terlewat, menjadi benar-benar genap untuk usia 23. Huh. Menjadi usia pertengahan menjelang dewasa 20 dan sudah dewasa 25. Di usia 23, ibuku menikah. Di usiaku 23, aku belum punya apa-apa. Menjadi usia yang sangat rawan ditanya, “kapan mau nikah?” Disaat saudara laki-laki seumuranku sudah melangkah lebih dulu untuk wanitanya.
      Hanya kamu! Kata mereka, saat aku belum memikirkan pernikahan dan membuat rumit untuk segera dihalalkan.  Memang cuma kamu yang berfikir seperti itu! Ucap kawanku lainnya, saat aku berfikir jika hidup dengan satu laki-laki selamanya, kenapa harus cepat-cepat? Toh nanti sama dia ini.
       Aku merasa beruntung, untuk hari kelahiran banyak yang ingat dan merayakan. Menjadi hari menyenangkan paginya, saat ada guru bercerita tentang dirinya, menjadi lebih dekat. Karena ‘berbuat baik, ramah, dan selalu tersenyum’ seperti yang kau bilang, sayang. Menjelang terik, saya merasa sangat pegal. Duduk berlama 2 jam untuk mendengar perbincangan yang tidak jelas dan alasanku ada disini. Buang-buang waktu, ucapku. 
     Menjelang senja, aku berjumpa dengan kawan lama. Teman yang selalu baik dan sama hingga sekarang. Berbagi cerita, melakukan ‘ghibah’ tentang orang lain. Untuk hal lama yang tidak dilakukan kemudian sejak bekerja. 
     Mendapat kejutan dan beberapa hadiah. Aku senang. Aku menjadi mengharu biru untuk usahamu. Terima kasih untuk hari ini. Terima kasih untuk sedikit cerita bergerak darimu. Aku suka. Sangat suka hari ini karna ada kamupun di dalamnya.

Hidup di Jakarta Akhir akhir ini

Jakarta, 10 Juli 2025 17.22 Hidup di Jakarta akhir-akhir ini kenapa menjadi seperti ini. Udara yang semakin memburuk membuat saya malah terk...