28 Oktober 2021
22.31
Saya tidak tau, sesedih ini rasanya. Tentang masakan yang sudah disiapkan. Karena terlambat datang untuk pergi sebentar, ia tidur dan tak ingin makan. Untuk menu yang ia inginkan.
Hari ini, saya tidak pernah uleg sambel, apalagi masak pagi sebelum kerja. Tapi karna kamu tidak selera, enggan dibawa. Semua harus menu kamu, sayang? Saya usahakan hal yang tidak pernah saya lakukan, untuk kamu. Tapi semua salah saya jadinya. Saya siapkan sarapan terlalu lama, saat saya siapkan kamu katakan segera tanpa ucapkan terima kasih atau menikmati. Bahkan tidak menawari atau menunggu saya makan dengan sabar. Dengan alasan terlambat. Dan karena saya lama.
Hari kemudian, saya masak kikil yang bahkan saya belum pernah memasaknya dan itu enak. Tapi kamu tidak mau, karena saya sudah lama memasaknya. Dan kamu tidur.
Ternyata sesedih ini jika orang yang kita harapkan untuk makan dengan lahap bahkan tidak menyentuh sama sekali. Sakit. Dan nanti akan salah saya lagi. Saya tidak pernah menyia nyiakan masakan ibu sebelumnya, sekenyang di luar saya tetap makan walaupun sedikit. Dan melihat Tyo makan dengan lahap lauk malam ini setidaknya mengobati. Ada yang menghargai masakan saya.
Sepertinya saya terlahir untuk ‘nurut’ oh tidak. ‘Harus nurut’ dan ‘saya salah’ atau kita balik ‘ini salah saya’ semuanya akan kembali ke salah saya.