29 Maret 2022
21.17
Menjadi tak enakan karena sekarang tidak sedih sendirian. Maaf. Bahkan untuk calon manusia bumi ini harus ikut bersedih karena keegoisan saya tidak bisa mencari alasan bahagia. Seperti sudah kebiasaan lama, saya menulis untuk waras saya di bumi. Maaf saya menangis kembali lagi ini.
Tangis marah karena perdebatan yang seharusnya tau kondisi untuk bicara. Saya ingin obrolan bahagia bukan nasehat dan kenapa tidak Anda katakan saja ke saya terkait sprei yang sudah dibuang? Kenapa harus menjadi api dan mengadu tak tau waktu. Main hp, berbicara sambil lihat hp. Jika ingin bicara ke saya hentikan dulu hp nya !! Dan laporan sendok vicenza yang tak seharusnya disampaikan di vcall. Saya selalu meminta maaf pada calon manusia bumi ini karena menangis seperti sekarang.
Saya dipaksa kuat oleh keadaan. Dipaksa mandiri oleh kondisi. Terkadang saya rindu saat semua masih berkumpul di rumah ini. Saya yang menyibukkan diri, tapi setidaknya saat saya keluar kamar masih ada manusia bukan lagi dinding saja. Tapi seharusnya saya bersyukur, karena masih punya keluarga dan orang tua. Yang bahkan menyayangi lebih dari dirinya sendiri. Saya rindu rumah tanpa tingkat. Saya rindu aktivitas rumah saat di sini. Saya rindu ibu bangunkan dan bapak cium kening saat pagi. Bahkan saya harus terbiasa untuk memulai hidup baru seperti ini. Saya rindu tidur seranjang bareng bareng. Bahkan kerinduan yang membuat saya merasa kesepian sekarang. Dan pelampiasan amarah yang tak seharusnya. Maaf.
Setelah marah, saya membuka pesan salah satu kawan karib saya. Kado pernikahan yang katanya terlambat, saya yang mudah terharu untuk segala perbuatan yang sederhana. Terlebih hal yang belum pernah ia lakukan sebelumnya. Saya akan lanjut besok ya.