Minggu, 07 September 2014

Karena Segalanya #2

       Aku mengatakan merindukanmu dan kau diam. Aku mengatakan akan menunggumu, dan kau bilang jangan. Dan saat aku tidak perduli kau datang lagi. Akhirnya aku memutuskan pergi, dan kau? Membatu. Diam, namun matamu menjelaskan banyak hal dan aku diam. Aku menundanya, dan bersabar menunggu. Hari ini harus kuulangi kembali, rutinitas yang ku tinggal pergi. Memperjuangkanmu. Saat itu kau memang diam, tapi matamu menatapku dalam. Seakan kau ingin menggenggam dan mengatakan banyak hal. Dan aku harus bersabar, bukankah itu bentuk perjuangan terbesar? Dan aku harus kembali menerka fikiranmu. Bukankah sudah kukatakan berulang kali? Aku bukan peramalmu, bahkan orang tuamu belum tentu bisa membacanya. Tapi kau tersenyum, senyum yang membuatku runtuh. Senyum yang menular, aku bahagia. Senyumannya tetap sama, ia memang tidak banyak bicara, bahkan aku harus berjuang keras menebak jalan fikirannya. Tapi aku menyayanginya, ia pun juga. Dan pada akhirnya cintalah yang membuat kami bertahan. Karena aku tidak perlu menuntut banyak hal untuk kesempurnaannya, karena sejak awal aku telah mencintainya dengan kesederhanaan yang ia punya. Cinta adalah bagaimana kau mampu bertahan untuknya, bukan bagaimana dia bisa bertahan untukmu. 

Endang rachmawati
Jakarta, 6 September 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Beerkomentarlah dengan bijak

Hidup di Jakarta Akhir akhir ini

Jakarta, 10 Juli 2025 17.22 Hidup di Jakarta akhir-akhir ini kenapa menjadi seperti ini. Udara yang semakin memburuk membuat saya malah terk...