Selasa, 20 Januari 2015

Hei

Hei kamu, yang beberapa hari menghilang dari peredaran duniaku. Laki lakiku. Panggilan yang terlalu lucu, tapi cocok untukmu yang terlihat tapi bolehkah aku memanggilmu seperti itu? 

Endang Rachmawati
Jakarta, 1 Januari 2015

Haruskah aku menunggumu lebih lama?

       Entah sudah berapa lama, tak tau pastinya. Kita tidak berjumpa.
Entah kapan terakhir kita tertawa bersama, kau tau itu lebih lama dari perjumpaan terakhir kita. Aku merindukannya. Aku merindukanmu. Aku merindukan kita. 
Bisakah aku mendengarnya? Satu tahun sudah sangat lama menunggu, butuh berapa tahun lagi aku bisa mendengarnya? Mendengar yang kau rasa. Tidak pada siapa tapi padaku. Aku tidak suka rahasia, aku tidak suka menunggu. Tapi kau mampu membuatku menunggu dengan rahasia yang telah akrab padamu. 
Mungkinkah ini terlalu cepat? Pelabuhan yang kulakukan. Ataukah aku harus menunggumu, lebih lama mungkin. Satu tahun mungkin belum cukup untukmu, dan kau perlu waktu. Apakah tidak seharusnya aku tetap menunggumu? Mungkin kau butuh waktu. Aku tidak ingin kembali, cukuplah luka atas dirimu. Aku hanya ingin tau satu, mengapa kau putuskanku? 

Endang Rachmawati
Jakarta, 7 Januari 2015

Duniamu

       Hari ini aku menangis, menangis untukmu yang pertama. Mendominasi pembicaraan disetiap obrolan. Tidakkah kau sadar akan perubahan? Apakah harus kukatakan agar kau dengar? Atau diam dengan segala kemungkinan pengharapan kau akan sadar? 
Bagaimana bisa aku mempercayaimu untuk hatiku, sedangkan segalanya aku harus bersabar. Kemungkinan luka itu akan kembali, dan aku tidak siap. Aku kembali menyusun, benteng-benteng pertahanan. 
      Mungkin kau boleh menceritakan duniamu, aku akan menjadi penyimak yang baik. Tapi aku tidak akan menceritakan duniaku, menulis lebih baik. Walau tidak didengar, setidaknya ia tidak menyakitkan. 

Endang Rachmawati
Jakarta, 4 Januari 2015

Sabtu, 03 Januari 2015

Lebih dipilih

Kacau. Sangat kacau. Perasaan yang membuatmu risau. Menjelaskan yang dirasakan, mambuatmu geram. Bukan karena menyakitkan, tapi karena kau tidak mampu jelaskan. Tentang perasaan.  Impian. Harapan. Yang ingin kau genapkan. 
Kacau. Sangat kacau. Ketika memahami tidak dipentingkan lagi. Saat kau mencoba jelaskan yang kau rasa, membutuhkan lengan yang membuatmu kuat. Tapi tidak dapat kau dapatkan. 

Dan diam lebih menguntungkan. 

Endang Rachmawati
Jakarta, 5 Januari 2015

Jumat, 02 Januari 2015

Keberapa

Harus berapa kali aku bertanya, pada jiwa yang tlah lama sirna. Haruskah aku tertawa agar kau tau aku bahagia? Jiwa jiwa yang menghilang datang dengan segala rupa, seakan aku adalah raga yang tlah mereka tinggal lama. Aku terjatuh, berdarah darah parah. Berlari dari jiwa jiwa yang meremukkan raga.
Hingga jiwa jiwamu beraga tanpa rasa. 

Endang Rachmawati
Jakarta, 6 Januari 2015

Hidup di Jakarta Akhir akhir ini

Jakarta, 10 Juli 2025 17.22 Hidup di Jakarta akhir-akhir ini kenapa menjadi seperti ini. Udara yang semakin memburuk membuat saya malah terk...