Kamis, 29 Oktober 2015

Tunggulah nanti

Jakarta, 29 Oktober 2015
15.56

"Bisa jadi kau membeci sesuatu, padahal itu baik bagimu. Dan boleh jadi kau menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Sungguh, Allah Maha Mengetahui segala sesuatu yang tidak kau ketahui."

Benar. Allah mengetahui lebih dari yang kutau. Tapi harus terulang seperti ini. Jika sakit adalah cobaan kesabaran dan pengguguran dosa. Bagaimana dengan aku, yang benar benar menolak. Aku tidak suka seperti ini, esok adalah hari yang kutunggu dengan tabah, tapi seakan bertaruh untuk berlari kencang. Aku terkapar di pertengahan. 

Esok adalah hari ku. Hariku setahun yang lalu. Saat menjadi peserta, dan kini mimpiku terwujud untuk menjadi panitia di acara PKMJ (Pelatihan Kepemimpinan Mahasiswa Jurusan) 2015. Aku ingin melihat, ingin mengulang aku yang setahun silam. Menurutku ini adalah kebanggaan, mimpi pertamaku di dunia kampus terwujud, menjadi Badan Eksekutif Mahasiswa. Mimpi keempatku ingin kembali mengikuti rangkaian proses PKMJ. Entah takdir apa di esok lusa, bisa atau tidak aku tetap memiliki harapan untuk berangkat besok.

Aku lelah, dan aku hanya ingin menjadi sekalian lelah bersama di rangkaian PKMJ. Bersama angkatan ku yang berjumlah 30 orang. Bersama adik adikku yang berjumlah 300 orang. Aku hanya ingin minta waktu sehat hingga selesai Rangkaian PKMJ. Setelah itu? Aku akan istirahat. Ya istirahat untuk beberapa saat.

Jika kau berkata aku maniak organisasi? Mungkin itu pendapatmu yang tidak mengikuti organisasi. Karena aku hanya menjalankan amanah yang sudah tersampir di pundak. Aku hanya ingin menata duniaku, yang tidak boleh rusuh karena salahku. Aku akan memperbaiki, agar benar benar...bukan aku yang salah pilih. Dan bukan salah kepercayaan yang salah mereka beri. 

Endang Rachmawati 

Mengenal :)


Jakarta, 20 Oktober 1015
07.19

    Ini adalah cerita yang sebenarnya sudah terlewat. Ini adalah cerita, tentang duniaku. Yang lagi lagi baru~
------------------------------------------------
    Di duniaku, berkenalan itu sulit. Terlebih dalam lingkungan baru, dimana mereka tak sendiri. Di duniaku, tak semudah untuk dekat dan membuat mereka tertawa. Bukankah dalam perkenalan perlu menampilkan kesan menawan, dan hal yang membuat mereka tertawa adalah perkenalan paling ampuh untuk cepat mendapat sahabat. Tapi aku tak bisa menampilkan kesan seperti itu, satu satunya cara adalah dengan menjadi baik buat mereka. 
      Not bad, aku berbicara pada banyak kawan. Walaupun saat awal ingin kurasa pulang, karena sendirian itu menyebalkan. Terlebih tiba tiba temanku membatalkan ikut, tidak hanya ikut orientasinya tapi tidak mengikuti organisasinya. Menyebalkan. Menyedihkan. Itu yang kurasa awal. Tapi penerimaan buatku mengikhlaskan. Aku belajar membuka diri dengan obrolan atau join bareng saat mereka ngobrol, aneh banget sih tapi tahan malu aja untung aku memiliki teman kelompok. 
      Jika kau berfikir ini mudah, aku merasakan kesulitan. Karena dalam posisi ini aku termasuk senior yang berada di lingkungan didominasi maba. Memang ada beberapa yang seangkatan bahkan lebih tua, namun mereka memiliki teman satu jurusan. Dan aku you know lah :' 
     Tapi setelah aku mencoba menjalani, tidak seburuk yang dibayangkan. Aku mengenal banyak orang, aku berdiskusi dengan orang orang berbeda fakultas dan karakter. Belajar mempresentasikan pkm yang sedang aku ikuti bersama teman sejurusan. Setelah acara ini selesai, aku menambah teman dekat. Setidaknya aku memiliki koneksi di beberapa fakultas. Tidak hanya melulu pgsd. 
     Di hari kemudian, aku memiliki alasan untuk terus datang ke sana. Ke acara LKM( lembaga kajian mahasiswa) setiap haru selasa-Kamis, dengan materi berbeda. Ada public speaking, bedah buku, dan menulis. Kau tau? Ada seseorang yang membuatku selalu ingin kembali ke sana. Mungkin sudah terbiasa apapun itu namanya. Dan aku sedang mengerjakan proker pkm bersama kelompok yang berbeda. Ya kelompok aku di lkm. 

Terima kasih, setidaknya aku pernah mengenal kalian 😊 
      

Kamis, 01 Oktober 2015

Surat untukmu

Stasiun cawang, 1 Oktober 2015
17.44

Surat ini kutulis khusus untukmu. Surat terakhirku, saat kau akan segera berpergian jauh. 

Assalamualaikum, 

    Apa kabar Kak? Pertanyaan bodoh, padahal sudah kutau kabarmu. Anggap saja formalitas, seperti surat lainnya yang bertanya kabar terlebih dahulu. Haha
      Kak, aku tau kau tidak baik. Tapi sejak kemarin, sejak kutau kau sedang berjuang aku berharap dan terus berharap kau dapat bertahan. Kau tau, kau yang paling baik menurutku. Mungkin dibanding yang lainnya, bertemu denganmu meninggalkan kesan untukku. Perjumpaan kita yang tak dapat kusebutkan kebetulan atau memang sudah takdir Tuhan. Tapi aku bersyukur, pernah mengenalmu dihidupku. Pernah berbincang sangat lama, sangat dekat. Mungkin Tuhan cemburu, kau terlalu dekat dengan aku dan duniamu, sehingga ia menginginkanmu dekat dengan-Nya. 
    Kak, terima kasih. Atas pertemuan singkat kita di acara MPA. Atas bimbinganmu yang luar biasa. Atas lelah kita, dengan hasil yang sangat menakjubkan. Seperti katamu, "Jangan sampai dunia membuat kita terus berleha-leha. Biarkan lelah perjuangan kita di dunia, dan surga menjadi tempat peristirahatan kita."
    Kau tau Kak, seperti tanpa firasat apa apa kau berbicara seperti itu. Aku mengingat betul, mungkin itu adalah obrolan terakhir kita. Selamat beristirahat Kak, kau sudah berjuang. Sangat lelah kau berjuang di dunia, semoga perjuanganmu menjadi amal ibadahmu di surga. Selamat beristirahat Kak Suci, selamat malam. :')

Endang Rachmawati

Hidup di Jakarta Akhir akhir ini

Jakarta, 10 Juli 2025 17.22 Hidup di Jakarta akhir-akhir ini kenapa menjadi seperti ini. Udara yang semakin memburuk membuat saya malah terk...