Kamis, 01 Oktober 2015

Surat untukmu

Stasiun cawang, 1 Oktober 2015
17.44

Surat ini kutulis khusus untukmu. Surat terakhirku, saat kau akan segera berpergian jauh. 

Assalamualaikum, 

    Apa kabar Kak? Pertanyaan bodoh, padahal sudah kutau kabarmu. Anggap saja formalitas, seperti surat lainnya yang bertanya kabar terlebih dahulu. Haha
      Kak, aku tau kau tidak baik. Tapi sejak kemarin, sejak kutau kau sedang berjuang aku berharap dan terus berharap kau dapat bertahan. Kau tau, kau yang paling baik menurutku. Mungkin dibanding yang lainnya, bertemu denganmu meninggalkan kesan untukku. Perjumpaan kita yang tak dapat kusebutkan kebetulan atau memang sudah takdir Tuhan. Tapi aku bersyukur, pernah mengenalmu dihidupku. Pernah berbincang sangat lama, sangat dekat. Mungkin Tuhan cemburu, kau terlalu dekat dengan aku dan duniamu, sehingga ia menginginkanmu dekat dengan-Nya. 
    Kak, terima kasih. Atas pertemuan singkat kita di acara MPA. Atas bimbinganmu yang luar biasa. Atas lelah kita, dengan hasil yang sangat menakjubkan. Seperti katamu, "Jangan sampai dunia membuat kita terus berleha-leha. Biarkan lelah perjuangan kita di dunia, dan surga menjadi tempat peristirahatan kita."
    Kau tau Kak, seperti tanpa firasat apa apa kau berbicara seperti itu. Aku mengingat betul, mungkin itu adalah obrolan terakhir kita. Selamat beristirahat Kak, kau sudah berjuang. Sangat lelah kau berjuang di dunia, semoga perjuanganmu menjadi amal ibadahmu di surga. Selamat beristirahat Kak Suci, selamat malam. :')

Endang Rachmawati

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Beerkomentarlah dengan bijak

Hidup di Jakarta Akhir akhir ini

Jakarta, 10 Juli 2025 17.22 Hidup di Jakarta akhir-akhir ini kenapa menjadi seperti ini. Udara yang semakin memburuk membuat saya malah terk...