Rabu, 13 April 2016

Kereta, 13 April 2016
07.31

Entah apa yang difikirkan orang orang ini, sungguh.. Aku bersungguh-sungguh untuk tidak lagi seperti ini saat aku kerja nanti. Cukup..cukup sampai pada kelulusanku kuliah. 

Bukan aku yang tidak suka dunia seperti ini, bukan berarti aku tidak mencintai kereta. Cinta datang karena terbiasa, seperti kecintaanku pada kereta. Aku pernah sering mengutuk kereta, saat ia tidak datang tepat. Saat ia bermasalah dan aku berpayah pindah. Namun setidaknya ia membuatku menghindari kemacetan. Kau tau kan wilayah sudirman itu seperti apa. Setidaknya selama hampir 2 tahun, inilah rutinitas ku. Inilah hidupku. 

Demi mengejar uang makan, mereka sampai harus seperti ini. Terhimpit dan berlari mengejar absensi. Tanpa sadar waktu mereka tlah habis untuk dinikmati. Tanpa sadar dunia hanya akan berupa kenangan. 


Rabu, 06 April 2016

Kejadian hari ini

Jakarta, 6 April 2016
18.49

Siang tadi aku sangat merasa terkejut. Benar benar kenyataan yang menampar. Menunjukkan kesia-siaan. Media sosial.
Tadi ada salah satu senior laki lakiku, aku sedang bersama temanku yang kenal dengan dia. 

Senior laki lakiku menyapa temanku, dan aku menyapa senior laki lakiku. Tanpa terduga...dia memanggil temanku dan dia lupa nama ku. Astaga. Kenyataan yang pahit, secara kita sering memberikan love di Path dan Instagam masing masing. Seharusnya dia dapat mengenaliku. Karena kita pun sering bertemu.

Pait. Pait. Benar benar seperti tertambat keras, menyadarkan akan satu hal..media sosial tak berguna. Mereka mungkin akan mudah memberikan love atau like pada postingan aku, tapi tidak benar benar peduli atau menyadari apa yang sedang aku hendak sampaikan. Bisa jadi kebahagiaan, keresahan, atau lainnya. 

Ya.. Mereka tidak benar benar perduli.  

Jumat, 01 April 2016

Hari ke-4 Pengabdian

Kereta, 1 April 2016
07.42

18 menit menuju jam delapan. Awal bulan adalah awal mimpiku. Awal cerita baru. Awal terciptanya kenangan. Hari ini aku tampak santai sekali, seperti tak ada beban. Bahkan hari ini hanya satu mata kuliah. Haha, kalau bukan karena ingin merayakan ulang tahun seorang teman, mungkin hari ini akan kugunakan absen yang belum terisi. 

Aku ingin bercerita terkait kemarin. Seusai dinyatakan lolos ke tahap berikutnya di lomba PKM, aku mulai mengadakan kegiatan selama kurang lebih 3 bulan. Dengan dua pertemuan setiap satu minggu, benar benar menguras tenaga dan dana. Kegiatan diadakan setiap rabu Kamis, dan kau tau saat kegiatan hari rabu minggu ini dari 20 peserta pelatihan hanya ada enam guru yang hadir, karena sebagian guru sedang mengurus pajak. Hal itu yang membuat aku sempat Down, jika berkurang secara terus menerus itu akan membuat penilaian berkurang. 

Jujur, aku benar benar ingin hingga taham PIMNAS. Aku benar benar ingin sampai IPB, tak mengapa jika tidak menjadi juara setidaknya aku dan tim ku pernah merasakan wawancara di PIMNAS. Setidaknya perjuangan kami membuahkan kemajuan, walaupun tidak berhasil.

Lalu saat semangatku tidak ada, saat kebosanan sudah melanda. Keajaiban, saat pelatihan hari Kamis guru guru banyak yang berdatangan. Walaupun mereka telat, tapi karena ada beberapa urusan seperti rapat dan kelasnya baru selesai, setidaknya ada setitik cerah di kegiatan kami. 

Seusai kegiatan selalu aku mengucapkan terima kasih sebanyak banyaknya, terima kasih sudah tidak bosan. Terima kasih semangat kalian menentukan langkah kami selanjutnya. Terima kasih untuk tetap tidak merendahkan kami. Semoga mereka masih mau berjuang hingga akhir, hingga 3 bulan berakhir. 

Terima kasih.. 




Pilihan

Bekasi, 1 April 2016
21.04

Malam ini aku lalui dengan perasaan tidak baik. Perjalanan menuju Bandung dalam acara jalan jalan perpisahan. Mungkin awal terasa menyenangkan, tapi sekarang kuping ku menjelang koma nya. Berdenging. Berisik. 

Aku fikir dia terlihat sangat menawan dengan prestasinya. Cantik, pintar, berprestasi, baik. Bahkan saat pertama mengenal kampus, dan melihatnya aku ingin seperti dia. 

Tapi semakin lama aku tau, bahwa dia telah membuat pilihan di hidupnya. Berprestasi tapi tidak memiliki teman, atau menjadi biasa tapi kehilangan prestasi. 

Dia telah membuat pilihan di hidupnya. Atau bahkan sikapnya yang membuat ia seperti itu. Ia tak memiliki teman. Atau hanya aku yang melihatnya demikian? 

Seperti tidak tau kondisi, ia terus bernyanyi. Seperti dunia punya sendiri. Baru tau, mungkin seseorang yang terlalu berprestasi harus kehilangan banyak hal. Termasuk kepekaan dan pertemanan. 

Aku bersyukur, hingga hari ini masih ada yang perduli. Setidaknya aku tidak kehilangan apapun. Terima kasih..

Jika bisa aku memilih menjadi biasa tapi tetap ada.  Setidaknya tidak terlalu terang menjadi cahaya yang menyilaukan, dan membuatmu sendirian. 

Hidup di Jakarta Akhir akhir ini

Jakarta, 10 Juli 2025 17.22 Hidup di Jakarta akhir-akhir ini kenapa menjadi seperti ini. Udara yang semakin memburuk membuat saya malah terk...