19.12
Aku belum bisa menerima, bahwa mereka akan menua. Ah tidak, bahkan sekarang mereka sedang mengalami proses itu. Tanda tanda yang sialnya tidak dapat ditunda.
Ia bilang baik baik saja, terlihat biasa saja dan menerima. Bahkan saat putrinya menatap dengan tak percaya.
Tes-tes-tes
Air mataku mengalir deras, dan sialnya dia lebih mengkhawatirkan putrinya yang secara tiba-tiba menangis, tidak untuk dirinya saja yang seharusnya dikhawatirkan.
Kesedihan perlahan, melihat kekuatan mereka yang perlahan menghilang. Menatap gigi yang akan selalu berkurang.
Mengamati perubahan yang perlahan lahan malah semakin mencabikku dengan kesengajaan.
Bahkan aku tidak bisa berhenti menangis untuk hal seperti ini. Seperti menjelang kematian, lebih baik aku yang meninggalkan. Aku slalu berharap untuk tidak melihat kematian. Kepergian satu persatu yang hanya akan menjadi kenangan. Tapi tidak bisa bukan? Saat Tuhan sudah berbaik hati memberikan aku melihat kehidupan.
Aku harus selalu ingat, bahwa aku tiba-tiba bisa ditinggalkan.
Untukku di masa depan, jika kelak kau kembali dan membaca ini. Saat orang-orang satu per satu meninggalkan. Kamu tidak sendirian. Aku. Dari sini, usiaku 22 tahun dan aku selalu yakin kamu kuat. Aku. Disini slalu bersamamu. Kamu sudah hebat, kamu sudah berikan yang terbaik. Kamu harus ikhlaskan, bukankah sekali lagi. Tuhan sudah berbaik hati memberimu banyak kehidupan ? Tetaplah berbahagia.
(Tulisan absurd gausah dibaca, hehe)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Beerkomentarlah dengan bijak