Jakarta, 7 Desember 2018
08.40
Kejadian yang mengawali pagi cerah hari ini. Mendapatkan sesuatu menjadi lupa bersyukur, kehilangan sesuatu menjadi kacau dan menyalahkan Allah. Manusia. Tapi setidaknya, untuk kejadian hari ini, aku tidak benar benar menyalahkan Allah. Tidak sama sekali, setidaknya ada manfaat yang masih ada dari Daarul Tauhid (semoga Allah merahmati dan menjaga AA Gym dan keluarga aamiin)
Kehilangan yang tidak seberapa, tapi menjadi banyak untuk mahasiswa seperti saya. Hari ini saya kehilangan uang dengan nominal rupiah tertinggi, dan seperti rangkaian kejadian di depan mata sudah ada yang mengambilnya terlebih dahulu.
Kacau. Saya marah dan kesal. ‘Seenaknya saja dia mengambil uang tertinggi di dompet saya padahal itu bukan miliknya!’ Umpat saya dengan wajah marah. Karena terdesak say langsung melanjutkan perjalanan.
Di perjalanan saya sama sekali tidak menyalahkan Allah atas kejadian hari ini. Tidak-sama-sekali. Seperti sudah tertanam segala kejadian pasti ada keterkaitan dan sebab akibat. Saya ingat, bulan itu saya belum bersedekah. Lebih tepatnya Allah membantu saya untuk mengeluarkan rezeki profesi saya waktu itu sambil bekerja sebagai guru private.
Dan ada lagi kejadian menarik, saya kehilangan gadget yang belum lama saya beli. Sekali lagi, saya tidak menyalahkan Allah dan marah atas kejadian ini karena sudah belajar dari kejadian sebelumnya. Pasti ada sebab akibat. Ada satu titik saya sudah mulai mengikhlaskan Gadget saya itu, namun saya masih terus berusaha untuk mencari dengan bantuan aplikasi. ‘Sebelum baterai habis akan saya usahakan, setelahnya jika tidak ketemu ada yang lebih berhak memiliki.’ Batin saya.
Titik Gadget saya berada di Fatmawati tempat yang baru saja saya lewati dan saya rasa terjatuh daerah sana, namun tidak berapa lama titik lokasi Gadget saya ada di Kemang dan berakhir di kebagusan. Benar. Saya mengajar di Kebagusan, saat itu pagi saya dari rumah sakit Fatmawati langsung ke Kebagusan untuk
Mengejar absen pagi.
Saat saya sudah lepas harap karena tidak ada respon dari yang menemukan Gadget saya dan titik yang semakin jauh. Allah menunjukkan jalan, 14.30 titik lokasi menjadi dekat hanya berjarak 100 m dari sekolah. Saya terkejut dan telepon yang sudah dicoba untuk menghubungi diangkat. Ternyata orang yang menemukan rumahnya dekat dengan sekolah saya.
Saya bergegas kesana. Dan kamu tau ? Apa makna dibaliknya? Ternyata Gadget saya jatuh di dekat sekolah bukan di Fatmawati seperti dugaan saya. Lalu ditemukan oleh seorang ibu yang hendak mengantar anaknya ke sekolah di Pejaten. Mengapa GPS menunjukkan Fatmawati? Karena setelah mengantar anak ia harus mengantar ibunya cuci darah. :’
Ia kebingungan hari itu tidak ada uang, untuk membeli makan dan beli obat ibunya di apotek, dan kamu tau ? Satu sisi sebagai ungkapan terima kasih, saya memberikan uang. Tanpa direncana tanpa diminta.
Seperti takdir. Atau memang takdir ? Ini yang saya suka di kehidupan sebagai manusia, banyak hal yang tidak bisa kita tebak akan seperti apa. Uang yang saya berikan memiliki jumlah yang sama dengan yang ia doakan pada Tuhan.
Ternyata hidup ajaib. Dan ketentuan Allah lebih ajaib. Jadi.. seburuk apapun hidupmu tetap berbaik sangkalah pada Allah. :)