Selasa, 22 Desember 2020

Mengenang

Jakarta, 22 Desember 2020

17.27 


Perjalanan kereta menuju Juanda.

hai sudah lama saya tidak menyapa, dunia sekarang sunggu menyibukkan! Dan ada lagi corona, semua teralih dan sekolah terhenti. Oh iya, selamat hari ibu! Untuk instastory teman-teman  yang sudah menjadi ibu, dan akan menjadi ibu. 

Hari ini saya kembali menaiki kereta setelah sekian lama, menjadi mengingatkan akan banyak hal. Tentang perjuangan yang setiap harinya tidak pernah absen untuk menumpang dengan membayar tentunya hingga Sudirman. Pukul saat ini, Sudirman sedang padat padatnya. Mengantre bahkan untuk dapat masuk ke pintu kereta, tidak duduk dan berdempetan. Dan saya selalu mengeluh jika kereta menggunakan kipas seperti ini, karena PUANAAASSSS!!!

Pernah waktu itu berangkat kampus pagi jam 07.00 masuk baju rapi keluar kereta baju kusut dan kancing ada yang copot :| pernah juga saat menaiki kereta saya memakai sepasang sepatu, dan saat turun salah satu sepatu saya tertinggal di kereta! Haha :| 

Saya akui dulu sangat susah, dengan uang jajan yang kurang, saya harus mengajar privat untuk tambahan. Perjalanan dari Sudirman ke kampus yang jauh bahkan jika sekarang saya berjalan tidak mungkin sesanggup dulu, manusia kereta yang bar bar, dan segalanya yang dulu saya anggap mudah 

Kamis, 13 Agustus 2020

Saya Serius.

Jakarta, 13 Agustus 2020
21.42

Saya serius, saat saya katakan ingin bertahan. Saya serius, saat saya katakan “hanya kamu”
Saya pun serius, saat saya katakan saya sayang kamu apa adanya, untuk lebih dan kurangmu. 

Saya menyadari, bahwa seharusnya saya berdamai dengan semua. Sejak awal.
Seharusnya.. 
Saya menerima jika sebelumnya dia sudah tidak mau dengan saya.
Saya menerima jika kamu adalah hal terbaik yang pernah saya punya.
Saya menerima jika saya sudah tua. 
Saya menerima jika saya memang gemuk.
Saya menerima jika panggilan ‘ibu’ adalah karena ketidaktahuan dan biarkan saja. 
Saya menerima jika saya tidak photogenik.
Saya menerima jika orang lain dan saya berbeda. 
Saya menerima untuk semua yang ada sejak awal, saya yang seharusnya bersyukur. 

Seharusnya saya bersyukur, 
Hidup menjadi lebih baik untuk manusia yang tidak ada ‘wah wah’ nya. 

Saya menerima semua. Bahkan tahi lalat di pipi kiri yang tersembunyi, kini tidak apa-apa. Manusia lain menerima, kenapa saya tidak ? 

Sekali lagi, saya menerima semuanya. Terima kasih untuk diri yang masih kuat pada manusia bernama Endang Rachmawati yang selalu menuntut lebih. Karena covid-19 saya menjadi lebih menerima banyak hal; diri, keluarga, dan kehidupan. 

Terima kasih. Mencintai diri sendiri dan menerima semuanya terasa menjadi lebih mudah. 


akan baik baik saja ?

21.31

Satu per satu langkah mereka sudah menemukan akhirnya. Pernikahan. Dan kehadiran anak untuk penantian 8 tahun lamannya.

Kembali seperti sebelumnya. Manusia manusia yang telah dilepas menemukan bahagianya sendiri. Menjadi ketakutan seperti tujuh tahun sebelumnya, dia yang saya pertahankan, tapi saya yang ditinggalkan. Dia yang saya menangkan, tapi saya yang dikalahkan. 

Saya tidak tau, bagaiman jika itu kembali? Saya tidak bisa menghabiskan 7 tahun atau bahkan lebih untuk sembuh kembali. Saya tidak tau, semoga dengannya semua akan baik-baik saja. :)


Sabtu, 18 Juli 2020

Pada saatnya saat kamu ingin saya selamanya, saya jelaskan bahwa saya suka kejutan. Saya suka seperti di drama dan cerita putri yang kau tau sebelumnya. Seperti sukanya saya pada rasa coklat, saya suka sesuatu yang manis. 


Putri

Sabtu, 18 Juli 2020
16.38

Sejak saya mengenal warna, saya suka merah muda. Sejak usia 1 perayaan, saya suka hadiah. Sejak saya sudah bisa per kata, saya suka putri seperti Cinderella. Dan sejak semakin dewasa, saya ingin bahagia seperti putri di istana.

Saya ingin terus bersama laki-laki yang membuat saya selalu bahagia, walau dia tidak punya istana, walau dia tidak perlu bertarung menggunakan kuda. Tapi di mata saya, dia membuat saya merasa wanita paling kaya karena dia selalu ada. Di keadaan susah sekalipun, dengannya saya yakin semua akan baik-baik saja. Karena saya tidak sendirian. 

Laki-laki paling tampan dimata saya, tidak untuk pangeran dan tidak untuk seluruh di dunia karena dia selalu tersenyum dan tetap mencintai saya padahal dia sudah sangat tau saya. 

Laki-laki yang membuat saya beruntung telah terlahir sebagai manusia di bumi, laki-laki yang lebih mengutamakan bahagia saya. Laki-laki yang sekali lagi, dengannya dunia akan tetap seru untuk dibagi cerita hingga tua, laki-laki yang dengannya.. saya merasa sangat dicintai.
Dengan laki-laki ini, saya akan menjaga, melayani, dan mencintainya lebih dan lebih. Saya ingin kamu juga bahagia. 

Laki-laki yaitu kamu. Terima kasih. ❣️

Sabtu, 11 Juli 2020

Rangkaian Kejadian Pagi

Jakarta, 7 Desember 2018
08.40

Kejadian yang mengawali pagi cerah hari ini. Mendapatkan sesuatu menjadi lupa bersyukur, kehilangan sesuatu menjadi kacau dan menyalahkan Allah. Manusia. Tapi setidaknya, untuk kejadian hari ini, aku tidak benar benar menyalahkan Allah. Tidak sama sekali, setidaknya ada manfaat yang masih ada dari Daarul Tauhid (semoga Allah merahmati dan menjaga AA Gym dan keluarga aamiin) 

Kehilangan yang tidak seberapa, tapi menjadi banyak untuk mahasiswa seperti saya. Hari ini saya kehilangan uang dengan nominal rupiah tertinggi, dan seperti rangkaian kejadian di depan mata sudah ada yang mengambilnya terlebih dahulu. 

Kacau. Saya marah dan kesal. ‘Seenaknya saja dia mengambil uang tertinggi di dompet saya padahal itu bukan miliknya!’ Umpat saya dengan wajah marah. Karena terdesak say langsung melanjutkan perjalanan. 

Di perjalanan saya sama sekali tidak menyalahkan Allah atas kejadian hari ini. Tidak-sama-sekali. Seperti sudah tertanam segala kejadian pasti ada keterkaitan dan sebab akibat. Saya ingat, bulan itu saya belum bersedekah. Lebih tepatnya Allah membantu saya untuk mengeluarkan rezeki profesi saya waktu itu sambil bekerja sebagai guru private. 

Dan ada lagi kejadian menarik, saya kehilangan gadget yang belum lama saya beli. Sekali lagi, saya tidak menyalahkan Allah dan marah atas kejadian ini karena sudah belajar dari kejadian sebelumnya. Pasti ada sebab akibat. Ada satu titik saya sudah mulai mengikhlaskan Gadget saya itu, namun saya masih terus berusaha untuk mencari dengan bantuan aplikasi. ‘Sebelum baterai habis akan saya usahakan, setelahnya jika tidak ketemu ada yang lebih berhak memiliki.’ Batin saya.

Titik Gadget saya berada di Fatmawati tempat yang baru saja saya lewati dan saya rasa terjatuh daerah sana, namun tidak berapa lama titik lokasi Gadget saya ada di Kemang dan berakhir di kebagusan. Benar. Saya mengajar di Kebagusan, saat itu pagi saya dari rumah sakit Fatmawati langsung ke Kebagusan untuk
Mengejar absen pagi. 

Saat saya sudah lepas harap karena tidak ada respon dari yang menemukan Gadget saya dan titik yang semakin jauh. Allah menunjukkan jalan, 14.30 titik lokasi menjadi dekat hanya berjarak 100 m dari sekolah. Saya terkejut dan telepon yang sudah dicoba untuk menghubungi diangkat. Ternyata orang yang menemukan rumahnya dekat dengan sekolah saya. 

Saya bergegas kesana. Dan kamu tau ? Apa makna dibaliknya? Ternyata Gadget saya jatuh di dekat sekolah bukan di Fatmawati seperti dugaan saya. Lalu ditemukan oleh seorang ibu yang hendak mengantar anaknya ke sekolah di Pejaten. Mengapa GPS menunjukkan Fatmawati? Karena setelah mengantar anak ia harus mengantar ibunya cuci darah. :’
Ia kebingungan hari itu tidak ada uang, untuk membeli makan dan beli obat ibunya di apotek, dan kamu tau ? Satu sisi sebagai ungkapan terima kasih, saya memberikan uang. Tanpa direncana tanpa diminta.

Seperti takdir. Atau memang takdir ? Ini yang saya suka di kehidupan sebagai manusia, banyak hal yang tidak bisa kita tebak akan seperti apa. Uang yang saya berikan memiliki jumlah yang sama dengan yang ia doakan pada Tuhan. 

Ternyata hidup ajaib. Dan ketentuan Allah lebih ajaib. Jadi.. seburuk apapun hidupmu tetap  berbaik sangkalah pada Allah. :)

Hatimu Sudah Terluka Sejak Awal

Jakarta, 5 Desember 2019
22.48

Hatimu, sudah terluka sejak awal. Sejak aku berlagak dan kau terluka. Hatimu sudah sakit awalnya dan tidak menghilang, malah membekas dan mengendap menjadi bayangan kelam. Memicu ketakutanmu tentang aku, dan rasa sakit yang sama. Bahkan jika aku berteriak tepat di depan wajahmu bahwa 'aku benar cinta kamu!' Dan menggila, kau tetap pada asumsimu, bahwa aku akan kembali menjadi demikian dan kamu terluka.

Fakta yang seharusnya tidak saya sangkal dan saya terima, bahwa kau sejak awal masih terluka..
Dan kau akan tetap curiga. 
Itu fakta.

Seenaknya Saja

Jakarta, 10 Juli 2020



Seenaknya saja berlaku sebagai manusia. Menjadi tumbal agar ‘diri dan temannya’  tidak kesulitan, biarkan saja Endang masih muda. Biarkan saja, saya yang lebih tua. Biarkan saja dia baru menjadi guru. 

Semuanya menjadi seenaknya. Tak berguna bahkan saat kau punya kocokan yang menjadi bukti. Bahkan menuduh saya yang V-A dan dia V-B sesuai kelas. Padahal sudah ada buktinya. 

Menjadi diminta ini itu untuk dibuatkan, tapi berlaku dengan kekuasaan seenaknya saja. Diminta pendapat tapi belum diberikan sudah keluar pembagian  ke orang tua. Tanpa perlu dipastikan kedua belah pihak maunya bagaimana. Pendapatmu tak berguna.

Harusnya kau bisa bicarakan dengan baik.”
Haha saya pengecut untuk itu. Terlalu emosional untuk mengatakan keresahan takut menyakitkan takut terlihat saya benar marah. Sulit. Saat saya merasa disini lebih baik, saat saya merasa sudah bisa berteman tanpa perlu berfikir buruk kemunafikan dan lainnya. Ternyata saya salah. Menjadi penakut untuk kembali maju dan terbelenggu dengan kesendirian saja. Saya tidak butuh mereka. 




Berantakan

Jakarta, 11 Juli 2020

Berantakan. Perasaan yang kacau seharian. Dari harus selalu mengerti, untuk segala sibuk yang harus dipahami. Saya menjadi tidak suka dengan diri saya seperti ini, sudah bagus dikabari sudah bagus masih ada waktu disela sibuknya. 

Kemudian apa yang kau rasa, saat sampah masih dianggap layak? Kau mengambil yang seharusnya sudah sampah atau diamkan saja!
Sial, diposisi saat ini saya menjadi lebih tidak suka dengan diri saya. 

Kemudian setelahnya, menjadi terluka dan menyesal di saat bersamaan ? Menjadi lebih.lebih.lebih.tidak menyukai diri saya yang bahkan tidak bisa menjadi baik. 


Sabtu, 29 Februari 2020

Segala Tercapai

Jakarta, 29 januari 2020

Banyak hal yang sudah terjadi akhir-akhir ini. Dengan tanpa rencana menjadi pelayan publik. Dengan tanpa rencana bertemu mereka satu hal yang saya syukuri. Dengan tiba-tiba nenek jatuh dan harus dirawat. Menjadi rutinitas untuk ada, bahkan di kondisi hampir tidak ada. Menjadikan saya lemah seketika, dan menangis sepanjang rasa. Lalu seiring waktu, saya menjadi kuat dan menguatkan. Untuk ibu yang sudah lemah, dan bapak yang sudah lelah. Dengan tiba-tiba tanpa rencana, pengangkatan menjadi tetap lebih cepat dari rencana. 

Semua tanpa rencana dan tiba-tiba, saya tidak siap tapi harus dilewati. Mau tidak mau, suka tidak suka. Hidup mulai menunjukkan sisi menariknya, perlahan saya harus siap menghadapinya. Suka tidak suka. 
Saya menjadi harus kuat dan berani, untuk hidup saya dan hidup mereka. Dari saya berusia 23. 

Hujan Merindu

Jakarta, 29 februari 2020
21.03

Menjelang akhir bulan yang katanya romantis, 
Pada dinginnya hujan yang tetiba menjadi ramai dan aku memeluk tubuhku berharap menjadi tak semakin dingin.
Ah, sudah lama aku tidak bersua, menjadi rindu tiba-tiba.
Pada manusia, yang dengannya berbincang menjadi hal seru dan baru.
Pada manusia, yang semua ia tau. 
Pada manusia, yang membuatku bersyukur ada.
Aku ingin ia sekarang, selain hujan aku ingin dia menjadi riuh dan berisik tentang cerita. 
Aku ingin mendengar semua. Bahkan jika itu sangat lama.
Aku mau dia, sekarang.

Sabtu, 18 Januari 2020

egois

18 januari 2020

Selain ibu, semua menjadi egois. Begitupun saya. Melarikan diri dari yang dihadapi, tidak adanya yang seharusnya menjadi figure pemimpin dalam kelyarga, kacau. Begitu menyedihkan seperti ini. Dan dengan pengecutnya semua melarikan diri, kecuali ibu. 

Ibu sakit, bahkan saya hanya menambah ia menjadi sakit. Ibu menderita, bahkan ibu sering menahan kesal dengan keluarga. Jika ibu tidak ada, kalian mau gimana? Tak ada yang berani mendekatkan, semua saling menjauhkan. 

Bahkan jika tak ada ibu, mungkin saya akan tidak punya keluarga. Mungkin bapak dengan keluarga barunya, adik dengan keluarga kecilnya, dan begitupun saya. Hingga saat ingin kembali, kami tak memiliki rumah untuk dihuni. Menyakitkan. 

Saya akui, hari ini saya begitu menyebalkan. 

Hidup di Jakarta Akhir akhir ini

Jakarta, 10 Juli 2025 17.22 Hidup di Jakarta akhir-akhir ini kenapa menjadi seperti ini. Udara yang semakin memburuk membuat saya malah terk...