Kamis, 25 April 2024

semakin lama

​Jakarta, 25 April 2024

22.35


Satu-per-satu menikah. Dan sudah memulai hidupnya sendiri. Malam ini, satu teman saya mengirimkan undangan pernikahannya. Manusia yang akhirnya menemukan pasangannya. Begitupun saya. Dengannya saya menjadi diri sendiri, dan saya beruntung punya kamu, Mas. Kamu mengusahakan banyak hal untuk aku dan anakmu. Untuk segala kurang dan lebihnya, aku sayang kamu selamanya. 


Tapi, semakin lama saya menjalani kehidupan ini. Menjelang 28. Sudah 5 tahun saya resmi menjadi guru. Sudah 2 tahun terlewatkan saya menjadi istri. Dan sudah 1 tahun terlewatkan saya menjadi ibu. Semakin lama.. saya merasa semakin harus menutupi diri saya sebenarnya. Tautan blog yang saya sematkan, harus dihapus karena disini diri saya semuanya ada. Dan mereka tidak boleh tau. Kegiatan yang saya bagikan, malah menjadi bom waktu untuk manusia lain yang tidak suka untuk menjatuhkan. Tidak seperti sebelumnya, jika tidak suka ya sudah tidak usah diperdulikan. Tapi berbeda. Saya berada di lingkungan yang semuanya kaku dan rumit, tidak boleh salah sedikit. Tidak boleh salah bicara dikit. Ah saya jengah rasanya. 


Saat ini.. 

saya sedang berifikir, apakah sampah-sampah ini harus berhenti di tautkan ?!


Unggah aktivitas bahkan harus diperhitungkan, karena sudah tidak seaman dulu. Bahkan saya nyaman untuk tidak diperdulikan, daripada menjadi pusat perhatian seperti saat ini. Manusia yang tidak pernah menyaksikan aktivitas saya, tiba tiba menjadi pertama untuk menyaksikan. Dan semua membicarakan saya. Ah ini menakutkan hingga saat ini rupanya. 


Selasa, 23 April 2024

Endang.

​Jakarta, 23 April 2024

21.04

Hai, namaku Endang. Hanya disini saya masih baik-baik saja menyebutkan nama itu. Nama yang di esok pagi akan kembali bersembunyi, takut untuk tampak. Atas kejadian Jumat-Sabtu yang berakhir panjang dan.. memalukan.

Dia, yang bahkan tidak bisa saya sebut manusia dengan sengaja dan sadar menangkap layar status Instagram saya, yang saya akui itupun kelalaian saya. Dari 100 manusia yang melihat, ada 1 yang dengan sengaja dan jahatnya menangkap layar dan melaporkan di JAKI. Dalam sekejap, saat saya sedang membuat bubur untuk Reesa yang sedang tak enak badan, mendapat panggilan yang membuat saya harus segera ke sekolah. 

Bahkan sepanjang hari saya harus klarifikasi, dan menyaksikan orang lain kesusahan karena ulah saya yang gilaknya disebar luaskan. Guru-guru yang terlihat di foto, kepala sekolah, pengawas, kepala dinas, semua geger dan kalang kabut atas laporan ini. Bahkan saya harus menanggung sanksi sosial hingga saat ini. Malu jika bertemu manusia lain satu profesi (jangan jangan dia tau juga berita ini), untuk segala pertemuan dengan orang lain saya malu, bahkan untuk nama Endang yang dengan tai nya rasanya ingin diubah saja. 

Geram. Marah. Malu. Takut. Bahkan untuk manusia lain yang ingin tau ‘Endang yang mana ?’ Semua berkecamuk. Tidak menangis. Bahkan saya tidak menangis untuk masalah ini! Segala hal saya tangisi, bahkan untuk hal remeh pun saya tangisi. Ini tidak? Dan itu meresahkan! 

Puas Anda ?! Bahkan untuk status saya setelahnya Anda rekam layar dengan alasan manusia itu menanyakan kabar saya. Apakah itu alasan ?!

Dan semua menjadi tersebar pula setelahnya. Demi Tuhan. Saya memaafkan tapi tidak akan saya lupakan. Jangan berbahagia untuk setelahnya ! 

Oh iya, dulu hidup saya tentram dan baik-baik saja. 

Saya tidak suka capek, saya tidak suka pusing, ataupun hal yang mengganggu lainnya. Bahkan saya harus menonaktifkan sementara akun Twitter dan Tiktok saya. Semenakutkan itu. 





Rabu, 10 April 2024

capek

​Bojonegoro, 10 April 2024

21.45


Masa jadi ibu, masih nangis kayak anak kecil.

Masa jadi ibu, keinginannya harus diturutin semua.

Harus ngerti dong, malu sama anak.


Bahkan untuk janji kecil pun yang tidak jadi dilaksanakan, saya menangis sejadi nya. 

Harus mengerti, harus memahami, udah ada anak, udah jadi ibu, harus harus dan harus.


Menjadi semakin beban, semua jadi semakin berat. Menahan semua hal, lelah. Dari sebelum libur Lebaran kerja, saat pulkam, saat Lebaran, semua emosi yang ada dan harus ditahan. Diperbaiki, perbaiki, perbaiki semuanya! Dan gilanya saya malah menjadi seperti itu juga! Sial. 


Setelah hari ini, saya semakin yakin untuk satu dulu. Hingga kapan ? Hingga nanti, 5 tahun mungkin. Mental saya benar benar belum siap. Setelah ini, saya akan diam saja. Diam untuk semuanya. Semua hal yang dirasakan, akan saya diam, dan dan saya akan mencari pelarian emosi. 


Saya capek. Capek banget. 

Untuk segala tuntutan menjadi manusia baik, ibu baik, istri baik, menurut ibu, bapak, dan dewan guru, serta lingkungan, saya capek. 

Hidup di Jakarta Akhir akhir ini

Jakarta, 10 Juli 2025 17.22 Hidup di Jakarta akhir-akhir ini kenapa menjadi seperti ini. Udara yang semakin memburuk membuat saya malah terk...