Rabu, 24 Februari 2016

Kamar, 24 Januari 2016
19.44

      Mungkin ini rasanya, menjadi salah satu dari 18 finalis mewakili universitas di lomba berengsi nasional. Mendapat ucapan selamat dari teman teman,  senior, web UNJ, bahkan dari Mapres (mahasiswa prestasi) UNJ.
        Senang rasanya diperlakukan istimewa. Saat kau datang ke ruangan Pembantu Rektor III/PR 3 sebagai wakil pemerintahan kampus yang mengurusi segala hal terkait perlombaan di UNJ termasuk lomba PKM (Program Kreativitas Mahasiswa), awalnya tidak ada yang menghiraukan kalian di sana. Tidak istimewa. Tapi ketika mereka mendengar kau adalah salah satu finalis dari lomba bergengsi tersebut, perlakuan mereka Padamu menjadi berubah. Bahkan kau dilayani yang menurutku lebih baik daripada saat kondisi mereka belum mengetahuinya. 
       Kau tau, ini adalah tahap pertama dalam seleksi perlombaan ini. Setelah di tahap pertama mengalahkan ribuan kelompok menjadi sekitar 200 kelompok, kini kami harus melalui tahap kedua yaitu pelaksanaan. Kami melaksanakan kegiatan yang telah disusun disertai anggaran yang pasti akan diberikan dibawah dana yang kami minta. Setelah melakukan kegiatan kami melakukan laporan kegiatan seperti LPJ(lembar pertanggungjawaban) setelah itu akan diseleksi kembali. Dan seleksi terakhir kelompok yang lolos akan mempresentasikan kegiatan yang telah dilakukan. Seleksi itu bernama PIMNAS (Pekan Ilmiah Nasional). 
         Aku tidak berharap banyak, karena masih banyak yang lebih dan lebih dari kami. Aku hanya berharap lolos sampai tahap presentasi. :) bissmillah..

Terbiasa

Lenteng, 24 Februari 2016
18.32

     Manusia adalah makhluk kebiasaan. Ia biasa makan jika lapar, maka ia melakukan hal yang sama jika lapar. Ia biasa tidur saat mengantuk, maka ia melakukan hal yang sama saat mengantuk. Begitupun kesendirian. Manusia akan terikat dan saling ketergantungan, bila dipertemukan secara terus bersama. Dipersatukan dalam berbagai keadaan, sehingga memaksa mereka untuk merasa nyaman dan saling ketergantungan. 
        Berbeda bila ikatan itu longgar dan membuat ia melangkah sendirian. Kebiasaan membuatnya sendiri dan terbiasa tidak menciptakan ketergantungan. Yang pernah ada di dirinya. Psikologi mengatakan membentuk kebiasaan butuh waktu 30 hari. Dan untuk hari keberapa ini hingga saat itu, kau akan temukan ia yang mampu berjalan sendiri. Tanpa kamu. Bahkan tanpa bayangannya sendiri. Hanya ia dan dunianya. :~


Endang Rachmawati 

Kejadian di kereta

Kereta, 23 Februari 2016
18.04

      Penuh sesak di tempat ini aku berada. Dengan tinggi yang tidak bisa disebut tinggi juga, aku berdiri diantara ketiak. Ya tinggi ku yang setinggi ketiak laki laki disini, ditempeli keringat mereka di lengan baju, yeah setidaknya mereka masih wangi. 

      Baru pertama sejak awal ditempatkan kuliah di sudirman, aku dapat masuk kereta menjelang pukul enam. Tak seperti biasa aku setidaknya menunggu dua sampai lebih setidkanya terlihat agak longgar. Ingin ku bagi seberapa sesaknya disini, atau di stasiun kau akan menggelengkan kepala, setidaknya inilah kami setiap hari hoho..

       Rutinitas hari ini sungguh menyenangkan, mood baik tidak berubah dari pagi. Btw tadi ada kejadian kecil di kereta, termasuk romantis sih. Haha anggap saja penghilang penat. Tadi satu lagi menuju stasiun ku, saat hendak membuka jalan menuju pintu. Tiba tiba laki laki di sebelah, membuka jalan juga. Itu memudahkan ku untuk mendekati pintu. Setibanya di stasiun yang kutuju saat pintu terbuka aku langsung turun disertai lainnya. Tapi ternyata saat aku hendak melangkah keluar, ada yang bertanya pada sosok itu turun dimana dan ia yang sudah berdiri di dekat pintu sama denganku, mundur dan mengatakan stasiun yang ia tuju. 
       Stasiun itu masih lumayan jauh dari stasiun yang kutuju. Kau tau artinya? Aw setidaknya itu membantu apapun itu arti kebaikannya. Haha~ 
(Sambil berdiri di depan alfa nunggu dijemput) 

Selasa, 23 Februari 2016

Pengumuman PKM

Jakarta, 23 Februari 2016
07.04

        Pagi ini dilalui seperti biasanya. Biasa bangun. Biasa mengecek Gadget sebelum beranjak. Lebih tepatnya membuka grup kelas di line. Tapi ada yang berbeda, kamu tau secara mendadak aku langsung terkejut dan duduk seketika, saat membuka line dari salah satu teman..
        Pagi yang indah... Kami lolos PKM (Program Kreatifitas Mahasiswa). Alhamdulillah. Seperti cahaya yang mulai bersinar, aku kembali bermimpi. Aku kembali bersemangat, sangat bersemangat. Seperti sudah lama tak memperjuangkan apa apa, aku kembali hidup. Dengan sinar baru, harapan baru, dan mimpiku yang baru. 
        Baru tahap pertama sudah  membuat mood ku sangat indah pagi ini, tersisa dua tahap kami akan tingkat nasional. Dari universitas sendiri hanya ada 18 kelompok yang lolos dan melanjutkan ke tingkat selanjutnya. Tingkat pelaksanaan. Menurutku itu tingkat yang paling memacu adrenalin. Kau tau, semua rancangan yang telah dibuat dan tersusun rapih di proposal, harus mulai kami kerjakan. Seperti bermain game, kami mulai menyusun strategi. 
        Mungkin kami akan menjadi lebih sibuk sangat sibuk. Semoga saja cepat pulih total agar aku bisa melangkah maksimal. 
         Oh ya hari ini aku mulai melakukan test wawancara BEMP. Baiklah nanti akan aku ceritakan mengapa sekarang namanya BEMP bukan BEMJ. Aku ingin bercerita sekarang, tapi maaf tak sempat. Kereta Sudirmannya sudah datang, sampai nanti. :}
  (Terlihat tidak? Cari saja namaku) :}

Rabu, 17 Februari 2016

Pertemuan

Kereta, 17 Februari 2016
06.46

Kemarin, usai sudah janji terakhir terealisasikan. Bertemu dengan kawan lama, yang sudah sangat lama tak berjumpa. 

Kemarin, beban karena janji janji itu sudah menguap. Tidak lagi membebani. Ternyata banyak praduga yang salah,  seperti kamu yang slalu senang menduga. 

Aku tidak memiliki banyak teman, tapi dengan mereka aku merasa cukup. Karena kesalahan tidak menyempatkan waktu, hampir sudah aku kehilangan. Mereka yang pernah membuatku bahagia. Mereka yang membuat pandanganmu tentang dunia berubah. Setidaknya dengan mereka mampu membuatku menjadi aku yang sekarang. 

Terima kasih. Karena masih sudi menjadi sahabat. Terima kasih. Karena masih sudi bertemu dan menyempatkan waktu. Jika kutau berkumpul dengan kalian seperti ini terasa masih sangat menyenangkan, aku akan menyempatkannya sesering mungkin dengan kalian. 


Selasa, 09 Februari 2016


Jika tak berniat mewarnai hidup 

seseorang, jangan pudarkan warna 

aslinya. 

-Aditya I. 


Btw thanks kata katanya. 
Dan Selamat Malam !

Sesempurna Itukah ?

Jakarta, 9 Februari 2016
21.18

      Sejak aku mulai suka untuk menjadi pengamat, aku menyukai mengamati segala hal. Mengamati pergerakan langkah cepat manusia. Menyenangkan ketika kesibukan mulai beraktivitas mengitari sekitarmu, dan kamu duduk. Mengamati segala hal yang terlihat cepat ketika kita diam. Menatap kesibukan berbeda setiap orang. Ada yang bermain Gadget, mengobrol, berlari, makan, dan sebagainya. 
    
        Sejak dulu aku slalu bertanya apa kekurangan di dirimu? Apakah kau terlalu sempura, sehingga tak kutemukan cacat di dirimu. Seperti jelmaan bidadari tanpa celah kau bersikap sempurna. Aku suka menatapmu, mendengarkan kau berbicara ataupun tertawa, bahkan dalam berkomunikasi kau tidak memiliki cacat. Pantas kau dulu adalah primadonanya. 

        Mungkin hanya kau yang tak memiliki kekurangan itu, tapi hari ini. Malam ini, pertama dalam hidupku aku merasakan kecewa yang teramat. Sangat. Dalam. Menyakitkan. 

        Mungkin sudah biasa aku diabaikan tugas yang kau kerjakan, itu salah satu kekurangan yang berhasil kutemukan. Sejak kecil, aku tidak dibiasakan bersikap manja dan menuntut yang tak ada. Tapi seperti kucing ku di rumah, yang bertingkah manja. Malam ini aku menuntut diperhatikan. 

        Tak masalah apa yang kumakan hari ini. Seperti anak kecil meminta mainan, aku mengemis minta diperhatikan. Tapi tak diindahkan, kau tetap asyik dengan Gadget. Persetan untuk Gadget, hilang sudah semua perhatian. 

        Aku tak suka menjadi tua, hingga tak dianggap pantas aku bermanja. 3 bulan 10 hari genap 20 aku berusia. Setegar dan setenang apapun aku di luar sana. 

:: Denganmu, aku ingin bermanja lebih lama... ::
       


Endang Rachmawati 

          

mbeeer


       Jika kau mau merendahkan hati sedikit saja dan kembali mengingat pada hari di mana kau belum mengenalnya, kau akan sadar. Bahwa jauh sebelum hari itu, dia tidaklah berharga untukmu.

Bukankah memang selalu seperti itu?



        Yang sangat kau specialkan hari ini, dulu bukanlah siapa-siapa untukmu. Tanpanya kau tetap ceria. Tak ada dirinya kau bisa tertawa. Bahkan ada suatu masa di mana ketika dekat dengannya, kau merasa tak nyaman.

Lantas, apakah ketika hari ini ia memutuskan untuk pergi kau tetap melihatnya sebagai yang tak tergantikan?
Ya. Kau akan tetap melihatnya seperti itu. 



        Tapi, dua paragraf pertama di atas tidak mengartikan dan mengajarkan bahwa kau bisa melihat orang specialmu itu seperti seseorang yang tak kau kenal dulu. Itu tidak mungkin! Otak manusia tidak diciptakan untuk melupakan kenangan.

Dan kembali tapi, dua paragraf pertama di atas akan mengajarkanmu untuk berani melihat orang lain sebagaimana kau pernah melihat seseorang specialmu dulu itu. 



        Dia yang tak pernah special, akan menjadi special jika kau berani membuka mata dan melangkah. Dan apakah dengan seperti itu kau akan melupakan seseorang yang sempat meninggalkanmu tadi?

Tidak. Otak manusia tidak diciptakan untuk melupakan kenangan. Namun ia bisa dibuat untuk memilih kenangan mana yang akan kau kenang. Dan tentu, kenangan lama bisa digantikan dengan kenangan baru. Bersamaan dengan orang baru yang tak kau kira sebelumnya.



  Maka melangkahlah. 


Sebagaimana kau mencoba melangkah bersamanya dulu ketika kau belum tahu ia siapa. 


Semua yang pernah menjadi special. 

Dulu, tanpanya, kau pernah bahagia.


Dan semua bisa menjadi special. 

Ketika kau mengizinkannya.


Goodluck.

Selasa, 02 Februari 2016

Pertama kali

Kamar, 1 Februari 2016
01.47

Selamat malam menjelang pagi. Awal Februari, aku awali dengan tidak tidur. Baiklah aku belum mengantuk. Sebenarnya aku mudah tidur cepat. Tapi karena beberapa hal jadi tidur pagi, misalnya karena menonton anime. Seperti saat ini, sudah 3 jam aku menonton anime Kuroko, terbagi dalam 3 sesion dan saat ini aku baru menonton season 3 episode 12. 

Menyukai sesuatu karena seseorang. Itu aku. Anime diperkenalkan oleh adikku, dan hasilnya seperti saat ini..aku menyukainya.. 

Tidak seperti biasanya, aku tidak menyukai tokoh utama, tapi malah musuh namanya Aomine. Laki laki berkulit coklat ini tergolong manis, ia egois tapi tetap membantu temannya walaupun caranya jauh dari kata baik. Tapi aku menyukainya..
Dan entah sejak kapan aku mulai menyukai pria berkulit coklat. Padahal sebelumnya, sd dan smp aku menyukai cowok berkulit putih. Mungkin bisa dikatakan sejak aku memasuki sma..

Tahun 2014 aku resmi menjadi salah satu murid SMA negeri di Jakarta selatan. Dan sejak itu, aku mulai mengenalnya. Menyukainya dengan warna kulitnya yang coklat. Mendapatkannya tidak mudah, ia satu organisasi denganku. Mulai dari balasannya yang jauh dari kata ramah. Sulit, tapi itu yang membuat aku penasaran. Seperti diberikan mainan puzzle, aku menyukai saat menyusun bagian bagian itu. 

Mungkin setahun kurang untuk aku mendekat, meski ada perubahan dari respondnya. Ia menjadi lebih banyak bercerita dan tetap aku tidak berani menyapanya langsung. Hal itu membuat aku menyerah, dan aku memutuskan untuk menjalin hubungan dengan temannya. 

"padahal tinggal sedikit lagi." Ujarnya dan itu membuatku galau, karena ia sudah tau aku berhenti berjuang..

sedih kalau inget itu... 
Mungkin itu pertama kali aku menyukai cowok berkulit coklat. Hanya itu kriteria ku yang berubah, tapi entah mengapa aku lebih menyukai cowok cowok cerdas. Tanpa sadar itu adalah hal terpenting.. 

Hidup di Jakarta Akhir akhir ini

Jakarta, 10 Juli 2025 17.22 Hidup di Jakarta akhir-akhir ini kenapa menjadi seperti ini. Udara yang semakin memburuk membuat saya malah terk...