Selasa, 19 Juni 2018

Surat Cinta untuk Bapak dan Ibu

Mei, 2018

Assalamualaikum Bapak, Ibu. 

Apa kabar kalian di kota sana ?
Sudah teratur kah makan mu di tiap harinya ?
Bahkan aku rindu mengingatkanmu makan, yang dulu bosan aku lakukan.
Di meja makan, kita berbicara panjang. 
Dari Bandung, aku merindukan kalian.
Sangat rindu, di hari hari kita bertemu.

Bapak, Ibu, satu bulan sudah kita tidak saling jumpa seperti biasa. 
Di hari-hariku semua bayangan tentang kalian melangkah mundur perlahan di hari-hari belakang. 
Tentang bahagiaku dilahirkan, wajah riang bapak menerimaku dalam pelukan. 
Tentang sakitnya ibu melahirkan, wajah teduh ibu meredakan tangisan. 
Tentang sakitnya aku di malam, wajah khawatir bapak dan ibu terjaga hingga pagi menjelang. 

Hingga aku tumbuh menjadi remaja dan dewasa, cinta bapak dan ibu tidak pernah berubah bahkan semakin bertambah. 
Seperti manusia tidak tau diri, semakin dewasa tidaklah berbakti malah semakin menyakiti. 
Tidak tau diri.
Tidak tau terima kasih. 
Tidak tau balas budi. 
Kalian mencintaiku dengan sangat, aku menyakiti kalian dengan hebat. 

Seringkali aku marah, pada bapak yang tidak mengiyakan mauku. Tak perdulikan yang Bapak khawatirkan.
Seringkali aku membentak, yang lagi pada bapak dengan cintanya berusaha menjagaku.  Anak perempuannya yang semakin keras kepala. 

Seringkali aku kesal pada ibu yang tidak paham, pada hal yang sudah berkali-kali ia tanyakan dan sudah aku jelaskan. Tanpa kuketahui dulu dengan ibu, aku sering bertanya banyak hal. 
Seringkali aku mengeluh, pada ibu yang  memintaku melakukan ini dan itu. 
Ibu tau, aku sibuk mengerjakan tugas yang harus kuselesaikan segera. 
Tanpa kuperhatikan bapak dan ibu bukannya tidak tau, tapi sudah tak mampu lakukan ini dan itu. 
Bukan menyuruh, Bapak dan Ibu, kalian hanya ingin dibantu. 
Dan kini aku tau, semua hanya soal waktu. 

Aku mencoba untuk mengingat lebih, dan lebih lagi. 
Tubuh tegap yang dulu slalu bapak banggakan, kini menjadi semakin semakin semakin membungkuk.
Rambut hitam yang dulu slalu ibu rawat di pagi hari dan malam, satu per satu kini mulai beruban. 
Wajah-wajah itu, sejak kapan menjadi kering dan memiliki banyak kerutan. 
Sejak kapan kalian menjadi semakin menua. 

Bapak, Ibu
Terima kasih, sudah sudi menjadi orang tuaku. 
Terima kasih, sudah menjadi satu satunya manusia dengan memiliki cinta yang tulus membesarkanku.
Menjadi satu satunya manusia, yang siap terluka dan memasang badan paling depan untuk melindungi anaknya. 
Menjadi manusia, yang tetap sabar menghadapi tingkahku yang tidak melulu menyenangkan. 
Menjadi manusia, yang dengan kerelaan hati memberikan seluruh yang dimiliki, bahkan untuk hidupnya. 
Terima kasih, sudah mengenalkanku pada Allah.

Bapak, Ibu,
Maafkan untuk seluruh egoku yang bahkan lebih mementingkan diri sendiri daripada kalian. 
Maaf, untuk ucapan dan tindakanku yang bahkan selalu menyakitkan. 
Tapi kalian selalu memaklumi, beranggapan bahwa seperti tidak ada apa apa. Tidak ada yg menyakitkan. 
Selalu memaafkan, bahkan sebelum aku berniat untuk meminta maaf. 

Terima kasih, sudah menjadi takdir dengan mau menjadi orang tuaku. 
Terima kasih. 
Mulai hari ini, aku akan mencintai kalian lebih. 
Menurunkan egoku di hadapan kalian.
Merawat kalian, setiap Bapak dan Ibu butuhkan. 

Bapak, Ibu, terima kasih. 
Semoga Allah memberikan surga terbaik untuk kalian. 











Karena Sayang

20.27

Karena bapak dan ibu saling sayang, mereka menikah.
Karena ibu sayang, ibu memilih melahirkan.
Karena bapak sayang, bapak memilih membesarkan. 
Karena ibu sayang, ibu mengatakan banyak hal yang dilihat jika kurang pantas.
Karena bapak sayang, bapak melarang berpergian berjauhan. 
Karena hanya bapak dan ibu, yang benar benar sayang. 


Ibu memberi nasehat, malah menyangkal.
Bapak melarang perjalanan, malah membantah.
Tak tau diri. 
Mereka yang satu satunya sayang, tapi disakiti dengan sangat hebat.
Tak tau terima kasih. 
Sudah untung dilahirkan dan dibesarkan, tapi tidak mau memberi kasih sayang. 
Betapa tak tau diri putrinya, tapi tetap bapak dan ibu sayang. 
Terima kasih. 

Hidup saat ini, karena doa doa mereka yang slalu terucap rapi dalam setiap bapak ibu mengadu pada Tuhan. 
Betapa nakal anaknya, tapi tetap didoakan.
Betapa keras kepala putrinya, tapi tetap disayang bak putri kesayangan.


Semoga Bukan Pertanda

Kudus, 19 Juni 2018
20.14

       Dalam perjalanan menuju pulang, menuju rumah yang tak lama dihuni karena mudik. Saat ini segala rasa bercampur, setiba kematian menghampiri ingatan. Bukan aku. Tapi orang tuaku. 

       Setiba ibu meminta aku dan adikku di bangku belakang untuk menggunakan sabuk pengaman, katanya “ibu baru tau, di belakang ada safety belt” DEG !! 
Sudah bertahun tahun, dan ibuku baru mengatakan seperti itu. Dan tadi ibu mengajak kami berfoto di mobil, berempat. 

      Setiba aku merasa kesedihan yang teramat, membayangkan banyak hal. Untuk segala kemungkinan kecelakaan yang akan terjadi pada kami. Setiba aku  merasa ajalku yang benar benar sudah dekat. Apakah secepat ini? Untuk segala dosa yang belum terampuni? Apakah mereka yang kehilangan , atau aku yang akan menangisi kepergian ? 


Aku harap semua baik baik saja. Keselamatan Bapak, Ibu, Tyo, dan Aku. Ya Semoga. 

Hidup di Jakarta Akhir akhir ini

Jakarta, 10 Juli 2025 17.22 Hidup di Jakarta akhir-akhir ini kenapa menjadi seperti ini. Udara yang semakin memburuk membuat saya malah terk...