Selasa, 25 November 2014

Sendiri

Terkadang kau membutuhkan kesendirian. Tanpa apapun dan siapapun. Tanpa gadget tanpa teman. Karena kesendirian mampu menjelaskan banyak hal, perihal perasaan perihal impian. Tentang kesalahan dan kebenaran. 
Terkadang kau membutuhkan kesendirian, tanpa hujan tanpa penerangan apalagi kebisingan. Karena kesepian merupakan alasan kau tidak pernah sendirian. Dan itu yang kurasakan. Menjadi ketergantungan di setiap kegiatan. 
Kadang ada di masa kau ingin sendiri, dan pergi dari rutinitas setiap pagi. Dari orang orang yang kutemui setiap hari. Jenuh. Sangat jenuh.  (25/11)
-bersambung-

Jumat, 14 November 2014

Cukuplah

         Aku sudah mencoba untuk lupa. Bahkan untuk pura pura lupa aku sudah mencoba. Bukan.. Bukan karena tidak ada yang lebih baik sayang. Cukuplah laki laki yang datang, namun tidak ada yang seperti kamu. Cukuplah laki laki yang mengungkapkan rasanya, namun sekali lagi tidak ada yang seperti kamu. Kamu yang terlalu tidak perduli, datang dan pergi seingin hati. Kamu yang terlalu jahat, hatiku pun kau sayat. Kamupun yang terlalu pengecut, diawal saja kau berjuang. Tidak bisa kah kau berjuang di akhir pula? Agar aku tidak terlalu merasa letih berjuang sendirian. (17/08)

Tersisa

        Delapan belas tahun terlewatkan, hanya sisa sisa kenangan. Hanya sisa sisa ingatan. Semua telah berjalan, begitupun aku dan mimpiku. Berjalan terpisah di persimpangan. Apa gerangan terjadi, melewatkannya pergi. Atau berjuang satu kali lagi. Hanya pilihan yang ia beri. Tidak ada kepastian yang harus dinanti. Aku akan berjuang satu kali lagi.(27/08)

Mengingat

     Pukul 01.44 tiba tiba saja ingin menulis. Tiba tiba saja ingin mengingat kembali, kenangan yang tergadai pergi. Aku tidak ingin mengingat, bahkan meraba apa yang pernah terjadi. 
   Ada satu masa ketika aku sangat membenci atas yang tuhan beri. Ada satu masa ketika aku mempertanyakan kelayakan aku hidup. Aku tidak memiliki siapa siapa selain keluarga. Tertolak seperti barang usang dalam kegamangan arah. Tidak memiliki sahabat, hanya orang tua dan kerabat. Hidup dalam dunia yang bahkan aku merasa itu dunia mereka bukan duniaku. 
      Aku suka bermain, tapi mereka tidak suka mengajakku bermain. Harus aku slalu yang memulai, karena jika tidak aku akan sendiri. Aku benci ketika harus sendiri, karena hanya bertemankan diri aku akan mengutuk hidup kembali. namun kadang mereka mengajakku bermain tapi lebih karena mereka butuh. Bukan karena mereka menganggapku sahabat sekali lagi karena mereka butuh.
     Pernahkah kau merasa hidup tanpa memiliki seseorang yang slalu memastikan kamu ada bersamanya? Tidak Memiliki seseorang yang bisa diajak bercanda saat bosan mendera? Bahkan kau harus terus membiasakan sendiri dengan keramaian yang ada dua langkah di sekitarmu? Aku pernah dan jangan sampai kau ingin merasakannya. Itu pahit sangat pahit hingga membuatmu kehilangan segala rasa bahagia dan tawa. Terlalu sederhana, dan bahkan sangat sederhana hingga rasanya aku tak pantas mengharap istimewa. (14/11)

-bersambung-
      

Hidup di Jakarta Akhir akhir ini

Jakarta, 10 Juli 2025 17.22 Hidup di Jakarta akhir-akhir ini kenapa menjadi seperti ini. Udara yang semakin memburuk membuat saya malah terk...