22.28
Menjadi orang dewasa harus belajar, mengerti benar tentang anak anak. Tidak hanya benar atau salah, terlebih pintar atau bodoh. Tidak anak yang bodoh, hanya ada anak yang telah diberi label bodoh.
Menjadi orang dewasa harus belajar, bahwa tidak semua harus dapat menguasai ilmu eksak, sosial, terlebih matematika. Di negeriku terlihat lucu, anak dianggap bodoh bila tidak dapat menyelesaikan soal matematika. Sedangkan di luar sana, setiap anak dibebaskan untuk belajar yang ia suka. Bukan memaksakan yang tidak ia suka.
Terkadang, selama proses belajar menjadi guru aku lebih banyak tau bahwa selama 12 tahun aku belajar dan diajar oleh guru, mungkin bisa dikatakan 10% guru berhasil. Guru terbaik adalah guru yang dapat meninggalkan kesan mendalam untuk muridnya. Ia memiliki sesuatu berbeda sehingga dapat terkenang.
Seperti hari ini, aku bertemu dengan seorang stand up comedy kompas TV. Namanya Alfi. Dunia bisa dikatakan sangat sempit, karena saat sd ia pernah diajarkan oleh Ibu. Ia tidak pintar matematika, tapi dengan bakatnya dalam dunia stand up membawa dia menjadi dikenal oleh masyarakat. Entah untuk temannya yang lain, mungkin ia lebih pintar matematika. Ia mendapat juara 1 di masanya. Apakah ia sudah dapat dikategorikan sukses seperti Alfi ? Tidak ada yang tau masa depan seorang anak, bahkan ketika ia terlihat bodoh.
Berbicara kebodohan, seperti aku katakan itu hanyalah labelling dari lingkungan pada diri anak itu. Seorang anak akan tetap tegar saat teman teman, orang tuanya menganggap bodoh, tapi ia akan terluka dan jatuh sejatuhnya bila gurunya pun menganggap demikian. Menganggap ia tidak mampu, Menganngapnya hanya tim peramai kelas dan tidak terlihat keberadaannya seperti hantu, tidak dibiarkan untuk mengerjakan soal di papan tulis. Karena hanya akan membuang waktu.
Dipandang rendah, seakan sampah yang mengganggu proses pembelajaran. Anak anak terlalu peka untuk hal hal demikian, jika ia tidak nyaman dengan gurunya selamanya ia akan mengingat dan menjadi traumatis berlebih. Membuatnya tidak menyukai pelajarannya entah sampai kapan. Tapi jika beda hal jika ia menyukainya, seorang anak akan mengikuti gurunya kemana pun.
Seperti yang telah diceritakan, ketika seorang anak tau bahwa gurunya akan mengalami mutasi. Ia menceritakan hal ini pada orang tuanya, dan orang tuanya menemui guru itu dan berkata, "saya dengar ibu akan dimutasi ? Kalau ibu X pindah kamu langsung pindah aja ya nak." Seperti itu yang dikatakan orang tua siswa kepada anak dan gurunya. Dengan senang anak itu menganggukan kepala, kau dapat bayangkan berapa berbekasnya seorang guru. Bahkan anak itu tidak memikirkan apakah ia akan mendapatkan teman baru, bagaimana dengan teman teman di sekolahnya yang lama.
Karena guru adalah segalanya. Tingkah, tutur kata, gerak jalan, berpakaian, akan menjadi model untuk murid muridnya kelak.. :')
Endang Rachmawati
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Beerkomentarlah dengan bijak