Sabtu 24 Juli 2021
01.33
Seharusnya saya mengerti sejak awal, jika setiap manusia memiliki prioritas. Dan bumi tidak hanya berputar untuk saya saja. Ingin dimengerti, diperlakukan sama seperti yang sudah saya lakukan padanya, tidak seharusnya seperti itu. Karena benar, yang paling mengecewakan adalah karena saya terlalu berharap pada manusia. Seperti toxic, saya menjadi berharap diperlakukan istimewa.
Malam ini saya merasa resah, rumit otak lewat pukul tengah yang selalu saja. Bahkan teman teman saya tidak ada yang bisa saya andalkan. “Nanti kalau ada apa apa cerita ya.” Tapi saat saya cerita, ia tidak benar benar menyimak. Memberi respon seadanya, dan kembali terulang tidak bermanfaat, tidak memberikan jalan keluar, tidak menenangkan.
Akhir akhir ini saya menjadi lebih sering bercerita di sini, sambil mengetik dan berfikir. Tidak ada bedanya bercerita pada manusia, yang bahkan saat saya coba bercerita ia tidak benar benar menyimak. Apa bedanya saat saya bercerita disini? Setidaknya disini tidak ada yang membuat saya kecewa, dan entah sejak kapan, menyelesaikan masalah dari solusi saya sendiri.
Dan setelah pemikiran panjang 2 jam, setelah akhirnya saya memutuskan untuk mencuci muka dan minum vitamin, saya menyadari selama ini saya mencari prioritas diistimewakan, dimengerti dari manusia yang bahkan mereka tetap lebih peduli diri mereka sendiri. Saya lupa punya orang tua yang bahkan menjadikan saya prioritas di hidupnya. Ah melow saya, menjelang nikah. Bahkan di usia 25 saya baru menyadari ini. Saya mencari dan menuntut dimengerti, tapi ada dua manusia yang bahkan lebih peduli saya dari dirinya.
saya akan memulai mengurangi bermain hp mulai besok dan banyak berkumpul dengan keluarga. Menyampaikan keluh kesah dan manja saya, setidaknya mereka akan peduli dan mengerti. Setidaknya mereka yang paling sayang saya di bumi. Sial saya malah menangis.