Minggu, 11 Juli 2021

Jika Dulu Saya Menyerah

Kamar, 11 Juli 2021

00.05


    Seperti biasa, saat malam semua tertidur lelap dan keheningan malam, otak saya kembali mencercau tidak jelas. Terlalu banyak yang kembali minta diingatkan.

     Jika dulu saya menyerah, bahkan untuk segala pincingan mata dan meremehkan hanya karena saya selalu remedial Kimia. Lamban di Fisika. Dan dianggap bodoh hanya karena itu saja. Sial. Saya kesal sekarang. Mereka yang bahkan tak pernah bertanya dan melewati saya bahkan dia itu saya yang ajarkan! Saya bodoh tapi saya berusaha, belajar lebih giat dan gila gilaan, walau tetap remedial tapi saya sudah berusaha. Kau tau? Bahkan tatapan guru yang meremehkan karena saya selalu.saja.remedial. Bahkan tidak sekali untuk menyentuh angka 75 saya tidak jarang harus remedial berkali.kali. 

   Ah saya ingat tatapan tatapan itu dan siapa saja mereka! Puncak ‘label bodoh’ dari mereka kelas 12. Saat sedang giat giatnya latihan soal, bahkan saya yang menemukan jawaban tapi dia yang mereka tanya. Dia tau itu dari saya! Tapi tidak ada yang percaya. 

    Kami dekat, bahkan sangat dekat hingga selalu berdua melekat. Di kantin. Di kelas. Bahkan kami sebangku dan satu tempat les. Selalu melekat, tapi semua bertanya padanya. Satu tahun lebih, saya harus tertekan karena ‘perlakuan berbeda mereka’  Bahkan saat diskusi soal saya tidak dilibatkan, dan dari dulu saya tidak pernah mau tau nilai dan jawaban benarnya apa. Saya semakin menurun dan bahkan melakukan labeling pada diri saya bahwa benar bodoh. Lucunya, saat UN kimia tidak ada satupun pelajaran yang masuk ke otak saya, blank. Dan nilai UN saya 4,5 jika tidak salah. Haha hanya benar menjawab kurang dari 10 soal. Dari segala upaya saya, dari segala pencapaian teman yang bahkan selalu mendapat 100 matematika dan Toblerone, dari segala pencapaian tertinggi dia pun saya hanya mendapat nilai itu. Persetan! Bahkan gagal di tes kedokteran. 

Saya pun melanjutkan ke universitas keguruan, dan saya berkembang. Sangat pesat. Mungkin ini namanya passion . Saya bahkan tidak perlu belajar gila-gilaan untuk mendapat predikat cumlaude ,dan menjadi Mahasiswa Berprestasi, tembus dua kali ke Pimnas, bahkan saya tidak perlu menjadi gila-gilaan dan melakukan label bodoh. Karena saya menikmatinya. Saya menikmati belajar. Saya menikmati mendengar dosen memberikan kuliah umum ditengah ngantuknya saya, saya tidak perlu berusaha keras karena saya sudah menikmati awalnya. 

Dan bahkan dengan memukaunya saya benar benar merasa ini adalah jalan hidup terbaik saya, waktu kuliah adalah pencapaian terbaik yang saya miliki. Dengan segala lebih dan kurangnya saya bersyukur. Hingga banyak teman yang bertanya dan mengajak saya berdiskusi tentang banyak hal. Saya dianggap. Tidak ada pincingan mata itu lagi disini. 

Hingga setelah lulus saya menjadi gila gilaan kembali untuk belajar, tapi taukah kamu? Saya sangat menikmati belajarnya. Tidak ada kimia. Tidak ada yang menekan saya. Dan hingga saya lulus dengan usaha yang gila gilaan menjadi Pegawai Negeri Sipil. Lalu kamu tau mereka? Rasanya saya ingin tertawa di depan wajah mereka, orang orang yang sudah memincingan mata dan melakukan label bodoh ke saya, kesulitan kerja. Kerja biasa saja. Saya puas telah melakukan pembalasan dendam yang positif. Untuk hidup dan karier. 

Jika dulu saya menyerah; saya tidak menjadi apa apa dan akan kalah. 

Manusia yang kalian label bodoh sekarang sudah menemukan cahayanya sendiri, saya akan kembali lebih bersinar hingga menyilaukan kalian. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Beerkomentarlah dengan bijak

Hidup di Jakarta Akhir akhir ini

Jakarta, 10 Juli 2025 17.22 Hidup di Jakarta akhir-akhir ini kenapa menjadi seperti ini. Udara yang semakin memburuk membuat saya malah terk...