Kamis, 30 April 2015

Seharusnya kita sangat dekat

Seharusnya kita sangat dekat.
Bahkan tertawa dan segala. 
Entah darimana kapan tepatnya.
Aku tak mampu menggapai, bayangan yang terlalu jauh tergapai.

Entah kapan waktunya, aku merasa tak mengenal, mereka yang seharusnya kukenal.
Aku rindu, pada tawa yang baru.
Tawa tentang apapun tanpa haru, tapi entah mereka tidak akan merindu..

Kau menyukai hal yang tidak kumengerti.
Kau membicarakan yang entah.. Tak ada minat.
Bahkan aku harus merasa kesendirian. Kembali.

Entah saat aku pergi apakah mereka akan memintaku kembali..

Sudirman, 30April 2015

Senin, 20 April 2015

Bingung

20 April 2015
22.53

Selalu seperti ini, Kesedihan merajai tanpa pasti. Apakah Kau memintaku melangkah lebih dekat? Saat aku sedang melangkah mundur menjauh.

Selalu seperti ini, aku merasa hampa. Kekosongan jiwa tanpa warna. Hanya kelabu tanpa hal baru. Sial. Bahkan aku seperti peculas meminta bahagia. Sedang Kau memberiku sempurna. 

Aku hanya merasa tak tau, apa yang kumau. Semua terlihat kurang, bagiku yang seharusnya bercukupan. 

Selalu saja menulis puisi balada. Sesengsarakah hidupku yang ada? Apakah kau inginkan ku menulis tawa, jika tak ku berasa? 
 
Aku hanya mampu menulis ini, isyarat hidup seorang penyair. Kesedihan seperti ini sudah hobi diratapi. Puisi adalah ungkapan hati tanpa perlu kau mengerti. Jadi anggap saja aku sedang merasa, sedih yang terlalu perasa.

Endang rachmawati

**tulisan ngawur

Selasa, 07 April 2015

Atas segala keruwetan jalanan, yang kucaci perlahan.

Angkutan umum, 7 April 2015
17.47

     Setiap hari selalu saja kutemui keramaian. Dari pagi hingga kemalaman. 
Berdesak desakan dari kereta hingga angkutan. Bukan lelah yang kurasa, tapi paru paru meminta lebih banyak udara. Berhimpitan hingga ruang tak sanggup beri spasi. Walaupun hanya bergerak satu senti. 
      Untuk aku, yang selalu terlambat datang. Bukankah keajaiban, sampai sebelum dosen berdatangan. Setidaknya aku memiliki cerita miris, yang akan aku ceritakan dengan sangat manis. 

Endang rachmawati

Jumat, 03 April 2015

Untuk malam

Untuk malam yang menenangkan, aku menuliskan dengan perlahan.

Parung, 3 April 2015
22.03

     Entah kenapa aku menyukai tulisan. aku menyukai kata dan rangkaiannya. Seperti aku menyukaimu. Hari ini, ada kawan lama yang memintaku untuk menulis kembali. Rangkaian kata yang selalu kami suka.
     Ini adalah malam yang menenangkan. Tanpa perlu memikirkan banyak hal, aku terjaga dalam tenang. Aku menyukai kesunyian, karena siang berarti sunyi tak tampakkan kehadiran. Semua aktivitas berjalan tanpa bisa didengar, karena mimpi mimpi telah menyibukkannya.
    Hanya malam, aku dapat mendengar tanpa banyak telinga ikut mendengar. Aku dapat berbicara, meski lewat goresan kata, tanpa banyak bertanya "kau kenapa?"

    Karena ramai, bukan nyawaku lagi. 

Parung, 3 April 2015
Endang Rachmawati
     

     
     

Kamis, 02 April 2015

Untuk hari ini

Untuk hari ini, pagi yang merisaukan. Membuat rasaku berantakan.

Kereta, 2 April 2015
07.30

      Saat pagi yang menyenangkan, awalnya. Kukira dengan hujan mengawali pagi, akan membawa rasaku kembali. Ternyata ini puncak akan semua ledakan. Rasanya ingin kukutuk saja keadaan, ingat. Keadaan. Bukan tuhan. Setidaknya aku masih memiliki iman jika mengutuk tuhan.
      30 menit menjelang kealfaan, jika dosen sedang mood datang. Tidak untuk keberuntungan. Aku merenungkan segala kemungkinan, mungkin ada yang salah dengan pilihan. 
      Aku ingin berjalan pergi, menyepi atas keruwetan yang terjadi. Tapi bagaimana dengan mereka? Yang membiayaiku dengan payah. 
      Tapi sumpah. Demi Tuhan. Aku ingin pergi saja. Aku ingin berjalan sendiri, seperti akhir akhir ini aku juga selalu sendiri. Ada tangisan yang seharusnya tersalurkan, bukan dipendam dan mengeram membentuk karang. 

      ::Aku hanya butuh kepastian..::

Endang Rachmawati
2 April 2015
       

Rabu, 01 April 2015

Kesendirian

Hari ini akan ku tuliskan tanpa perlu menghapus rangkaian selain kesalahan.
Hari ini akan ku tuliskan tanpa perlu fikiran berkuasa berlebihan.

Kereta, 1 april 2015
18.56

Tanggal 1 mengawali bulan. Mengawali hari. Mengawali semua perasaan dan kejadian yang tak pernah serupa sama.
Banyak hal yang kurasakan hari ini, jika kepaitan adalah salah satu syarat agar aku bisa sukses. Aku bersedia.
      Saat pagi, bahkan terlalu pagi untuk ke kampus. Tapi jika aku tau suasana pagi seindah ini, mungkin aku akan terus mengusahakan agar lebih pagi. Aku memperhatikannya, memperhatikan semesta yang merajuk meminta.
       Tidak ada yang istimewa selain menunggu dosen dan belajar. Namun aku merasakan kesendirian itu kembali, padahal ramai. Aku menyukai saat orolan, tapi entah sejak kemarin tidak ada obrolan yang menggairahkan. Membuatku ingin berbincang lama. Dan aku merasakan perbedaan, banyak jarak yang telah mereka jaga. Semoga itu bukan selamanya.
       Hari menjelang petang, rapat dan rapat. Banyak hal yang harus dikatakan. Tapi tidak sekarang. Aku akan menceritakan tentang hari ini, rapat membahas proker makrab kaderisasi. Tapi aku merasakan kembali, kesendirian yang melekat enggan pergi. 
       Ketidakadilan sikap membuatku lemah, atau memang aku saja yang terlalu membawa perasaan. Atau memang aku yang jarang dalam kehadiran. 
     Seakan tidak memiliki siapa siapa sangat dan bahkan lebih menyakitkan 

::Memang kusuka menyendiri tapi tidak untuk sendiri::

Endang Rachmawati
1 april 2015

Hidup di Jakarta Akhir akhir ini

Jakarta, 10 Juli 2025 17.22 Hidup di Jakarta akhir-akhir ini kenapa menjadi seperti ini. Udara yang semakin memburuk membuat saya malah terk...