20.20
Kata ibuku, hal paling menyakitkan adalah perpisahan. Entah perpisahan sementara ataupun selamanya. Hari ini, untuk kesekian kali harus aku alami kembali. Perpisahan, memang bukan selamanya tapi itu menyakitkan. Dua hari sudah ku biasakan dengan mereka, bermain, dan sebagainya. Walaupun saat itu aku ingin segera lepas pergi. Walaupun bosan melanda diri. Tapi mereka adalah keluargaku. Kesedihan pun pasti ada..
Akankah kutemui mereka di perjumpaan selanjutnya ? Atau itu adalah perpisahan selamanya.. Entahlah
Aku merasa, semua takkan lagi pernah sama. Semua kejadian, entah perpisahan dan perjumpaan takkan lagi sama. Kata salah satu seniorku, kejadian tidak akan menciptakan moment yang sama.
Mungkin Lebaran selanjutnya, takkan kutemui salah satu dari mereka. Seperti tahun sebelumnya, aku harus kehilangan salah satu keluargaku. Padahal dua tahun lalu kami berbincang dan berfoto bersama. Merinding ku rupanya. Semoga kau tenang ya Lek Minti :)
Aku selalu berharap, setiap hari akan seperti ini. Tidak akan ada yang hilang, tak kan ada yang pergi. Karena semua orang tak suka perpisahan. Jika saja boleh aku berharap seperti itu. Tapi di kenyataannya, entah kapan waktunya perlahan aku akan kehilangan satu persatu kawanku, atau bahkan keluargaku. Seperti tukang parkir di dekat rumahku, setiap hari saat berangkat sekolah sejak SMP aku bertemu dengannya, berbincang. Dan pada hari yang telah terlewatkan aku tak menemuinya, dan aku mendapat kabar ia telah meninggal. Innalillahi. Walaupun aku tak mengenalnya, tapi ada kesedihan yang mendera ku. Aku benci perpisahan. Aku benci kehilangan.
Jika kita masih bersama mereka, Tuhan sedang memperpanjang waktu kita bersamanya. Aku sedih menulisnya, aku sedih memikirkannya, dan aku menangis rupanya . :' ah lemah sekali hati kau Endang.
Jika mengingat ini, aku ingin terus menikmati setiap detikku bersama mereka. Karena waktu dan kesehatan adalah anugrah Tuhan terbesar untuk manusia. Maafkan aku yang tidak lebih bersyukur atas karunia-Mu. berilah aku waktu lebih lama bersama mereka. Aamiin
Endang Rachmawati
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Beerkomentarlah dengan bijak