Minggu, 25 Desember 2016

Ingin dan Jangan

25 Desember
14.12

Aku ingin kembali. Mendatangi dan mengabadikan momentku di sana. Aku telah berkorban banyak. Aku telah bertaruh untuk ini.

Tidak akan kusalahkan, anggap saja aku yang kelewatan. Anggap saja aku berlebihan, selesai dengan demikian. Lebih baik tidak datang, daripada kelak hari buruk ini membuatku membenci tempat ini.
Butuh berapa lama hingga ku lekas tak sendirian ?
buruh berapa waktu lagi, agar ku tak merasa sakit sendirian ?

Aku Menyukainya !

Anyar, 25 Desember 2016
10.54

     Sudah lama, entah kapan tepatnya sangkaku sudah menghilang. Duduk berlama lama, asyik diam merasakan kesunyian. Menemukan kembali diriku yang lama, memikirkan banyak hal. Memikirkan apapun yang terlintas, bukan hal berat yang memusingkan. hanya sampah.. dan kenangan.
     Tidak ada kehidupan lainnya, hanya aku, laut, dan hewan hewan di sekitarnya. Tidak ada manusia ! Tempat yang indah sekali, syukurku menemukan ini. Deburan ombak yang menghantam karang dan bibir pantai. Angin bersepoi sepoi, ah ayunan ini.. aku suka sekali.
     Untung kita bertemu, sebelum kesalku berambisi menguasai hasratku untuk PULANG ! Sebelum kesalku menyalahkanku untuk ikut.
     
menjelang 120 menit...
Aku suka tempat ini.

Selasa, 06 Desember 2016

Pintamu

Rumah, 14 November 2016
00.10

Aku menginginkanmu. Seperti bulan yang menginginkan bintangnya. Seperti martabak yang menginginkan telurnya. Seperti aku yang menginginkan kamunya.

Rinduku gegabah, mengkhawatirkan tak jua ada. Tapi ucapmu menenangkan. Kau bilang aku untuk tenang. Atas segala kemungkinan dan prasangka buruk tentang kita, kau memintaku bersabar. Dan rinduku kini lebih lebar

Berhenti

Sudirman, 6 Desember 2016
16.50

Saling menemukan, karena kau mengaminkan. Atau kita sama sama saling mendoakan ?

Senja itu ayahmu berkunjung datang, menggenggam secarik siluet wajah yang harusnya kukenal saat itu. Sayangnya, tak ada aku saat perjumpaan itu. Hanya ada ayahku, dan ayahmu tentunya.

Senja itu ayahmu meminta untuk kita saling disatukan. Kamu, pria yang selalu aku semogakan. Dalam dekapan sajadah sepertiga malamku. Ayahku tak tau, begitupun ayahmu dan kamu tentunya. Hanya Tuhan, yang mendekap doaku dalam kabulnya.

Ayahmu tak berhenti sampai disitu. Kali kedua, senja yang berbeda ia berkunjung. Keadaan yang sama, tak ada aku disitu. Tak ada kamu, hanya ada ayahmu dan ayahku. Dan ia kembali membicarakan kita.

Sudahkah kamu berencana ? Untuk Mengatur semua pertemuan ayah kita ? Untuk menghadirkan ayahmu di ruang tamuku. Untuk meminta agar kita dijodohkan, agar menjadi cerita yang tak disengaja?

Entahlah, tetaplah berkunjung seperti biasa. Denganmu aku suka. Denganmu aku ingin hidup lebih lama, berdua. Denganmu, Tuan yang kabul-Nya dihadirkan. Semoga kita benar benar didekatkan.

inspirasi dan untuk temanku LISK~

Sabtu, 05 November 2016

Aku Akan

20 November 2016
16.48


Aku akan ikhlaskan, dari sebenar benarnya aku berjuang.
Jika tak ada lagi aku, 

untuk apa ada kita ?


Aku akan berlaku biasa, tak seperti wanita yang menuntut kau pastikan.
Aku akan menatapmu dengan wajar, dengan senyum simpul saat tak sengaja ku temukan di hadapan.

Semuanya sudah cukup. Tidak ada main permaikan.
Selesai. Aku anggap telah usai.

selamat tinggal~

Kamis, 13 Oktober 2016

Pulang

Jakarta, 13 oktober 2016
22.58

Patahku kini tlah berpulang, datang kembali berulang.
Tak ada kamu, di pagi siang malam dan waktuku.
Bukan lagi kamu, yang lagi berjalan denganku.
Beriringan di senja sore itu, berbincang hangat lontong sayur di pagi kita.
Siapa lagi kita? Bahkan kini pagiku tak kembali bermakna. Yang kutunggu hingga berlama lama.
Siapa lagi aku? Saat kini tak ada lagi kamu.

Untuk segala cinta dan kasih sayang, aku. rindu. kamu.

Kamis, 06 Oktober 2016

Dekat Denganmu

Manggarai, 6 oktober 2016
17.17

Menghabiskan sisa sore dengan berkunjung ke tempat ini. Menuntaskan kewajiban menjalani setengah hari di dunia kampus, disinilah aku.

Ditemani Mrs. strawberry top yang baru pertama aku coba, dan sungguh Mr. choco top dan mc flurry oreo itu terbaik banget. Selanjutnya ditemani Mr. potato, karena mrs. strawberry top sudah habis. Agar tidak merasa sendiri banget.

Tanpa alasan, aku tidak mungkin berjalan sendirian. dan sekarang, aku beralasan.

Aku sedang merindukan seseorang. Seorang kawan lama, yang kini tlah dicuri waktu dengan kesibukannya. Tidak ada lagi seperti dia di duniaku. Mungkin banyak aku yang membuat ia lupa di dunianya.

Mereka suka bercerita, mengeluhkan masalahnya, mempertanyakan cintanya. Katanya, mereka beruntung bertemu aku. Selalu memberi saran, tanpa berdebat karena lelah mendengarkan. Dan aku beruntung pernah sedekat itu denganmu.

Aku tetap menganggapmu kawan dekat, sangat dekat. Bahkan seperti takdir, kau dan aku selalu beriring. Membuatku tak dapat berpindah, bercerita dengan selain kamu tentunya.

Aku merindukanmu, yang telah hilang di kesibukan fajar hingga petang.
Aku ingin seperti dulu, atau berbincang di sela waktumu saja..
aku sudah merasa cukup.

Kamis, 22 September 2016

Tanpa Alasan

jakarta, 22 september 2016
21.22

kamu seperti mama. selalu menerima saat aku pulang. walau bukan martabak manis yang aku bawa, tapi masalah mendera. dengan segala problema yang
berkecamuk dalam rasa.
hei aku kembali...

Aku tidak suka ia ! Bukan caranya melangkah, bukan pula pilihan di hidupnya. Aku.. aku tidak suka mengakui dia hebat. Aku..aku tidak mau menghadapi cermin dan melihat, siluet wanita di depanku terlihat menyedihkan. Kusut dengan pikiran semrawut. Kalah disisa keyakinan, alasan terakhir mengapa terlahir.

Semua berputar. Percaya diri selama ini tidaklah mudah untuk dibangun, tapi saat ini..
untuk kamu yang seperti mama, aku hilang akan percaya itu. Aku hilang semangat, dengan hasil yang kembali seperti awal.

Aku terlahir tidak untuk sebuah jawaban.

Kamis, 08 September 2016

Kenyataan Akhir

Jakarta,  8 september 2016
21.15

      Dalam malam,  serta lenggang kereta Sudirman-Bogor. Aku bersyukur,  atas hari ini. Untuk tetap membersamai,  semoga sampai akhir. 
       Kau tau,  ditinggal sendirian itu tidak enak! Bahkan menyakitkan. Dilepas dengan segala tanda tanya,  aku terhempas.  Aku terbuang.
      Lari dan lari,  kau selalu saja berlari.  Kau tau?  Aku muak dengan semua ini !
Meninggalkan sendiri,  memintaku untuk bekerja sendiri.  Bersama mereka.  Menyelesaikan masalah,  yang bahkan tlah kita mulai.
       Menangis dan menangis, aku berat dan kau takkan perduli. Meski kuatku tlah memerah lemah. Semua katamu yang kukira benar,  bahwa tak kan ditinggal sendirian. 

Pada nyatanya... Tak ada kalian. 

       Tetap kumerasa beruntung.  Kau meninggalkan,  mereka memperhatikan.  Memahami meski kau tak mau mengerti.  Kita kepala yang tak hanya satu pendapat. 

Pengecut! 
Bahkan kau kabur dan meninggalkan.

Rabu, 17 Agustus 2016

Tak ada yang dapat dipungkiri..
Bahkan tulisku tak pernah salah alamat...
Sungguh,  pada nyatanya pun
Akan tetap sama.
Aku.  Cinta.  Kamu. 
:)

Jumat, 12 Agustus 2016

dari Awal

Halte UNJ, 12 Agustus 2016
16.57

Aku tak suka menunggu.  Terlebih terlalu lama seperti ini.  Jika masih dapat ku hitung mundur,  mungkin banyak kemungkinan aku dapat maafkan.  Tapi ini bahkan lebih dari berkali lipat perhitungan yang direncanakan.  Aku salah.  Dan aku marah.

Aku marah.  Membuang percuma,  atas segala waktu yang kupertaruhkan.  Seperti judi,  aku kalah dalam pertarungan. Kau benar benar membuat semuanya terlihat rumit. 

aku..
Memilih mu diantara kemungkinan yang ada. 
Kau tak membuatku melelahkan diri. 
Seharusnya aku benar,
dari awal...
Tak seharusnya aku bertahan.

Minggu, 31 Juli 2016

Seharusnya Ia Tidak Menghilang

Jakarta, 31 Juli 2016
21.11

Seharusnya..
saya terfokus pada kamu.
Tapi dia, membuat fokus saya terpecah.

Seharusnya..
Dia tidak pergi.
Membiarkan mereka meraba jalan.
Menerka langkah, kegamangan arah.

Seharusnya tidak saya.
Seharusnya bukan saya yang berdiri di sini.
Ia bahkan telah pergi. Ia berani mengambil langkah pergi. Meninggalkan saya sendiri.

Seharusnya..
Bukan seperti ini. Jika saya tak tau diri, bahkan sedari awal sudah saya melangkah.
Jika saya tak tau diri,  seharusnya tak ada saya berpindah.

Ia membuat saya tak dapat berpergian.
Dan kenyataannya saya ditinggal sendirian.

Saya Cukup

Jakarta, 31 Juli 2016
21.39

"Saya bangga padamu. "
Satu kalimat terucap di bibirnya. Menujuku, padaku. Seperti api yang berbentuk kembang di udara, aku merasa. Padamu, aku membuncah bahagia.

"Dahulu saya tidak secemerlang kamu, lihat ! Tanda tanganmu ada di sini, tanda tanganmu berharga."
Bukti yang mengejutkan, darimana ia temukan? Bahkan aku tidak pernah menganggap itu sebuah adalah hal besar, yang bahkan tak seharusnya aku banggakan. Tapi kau ? Itu terlihat. dan aku tau.

"Saya bangga padamu."
Kau mengucapkan itu dua kali. Bahkan tak perlu kau ucapkan berkali kali, aku sudah merasa bahagia sejak awal kau mengatakannya. Tak perlu aku khawatirkan, melihatmu sekarang, aku sudah yakin mengambil jalan benar.

"jika kau menang, berjanjilah berlaku seperti pemenang sejati. Jika kau menang berlaku biasa saja, jika kau kalah. Kau sudah tahu akan hendak kemana."
Sebelum kau mengatakan itu, bahkan aku sudah mempersiapkan aku untuk tidak berangan terlalu. Di sini..
aku sudah merasa cukup. :)

Minggu, 17 Juli 2016

Pertemuan hari ini

Jakarta, 17 Juli 2016
21.24

Bahkan kau tak kan bisa melupakan walaupun ia hanya singgah sebentar, karena dengannya kau pernah merajut rencana.

Malam belum terlalu larut, baru menggelap seperdelapan. Berjalan seperti biasa, menikmati makanan seperti  biasa. Tapi malam ini, sepertinya takdir sedang berbuat sengaja mempertemukan kita. Diantara kegiatan saat ini adalah  hal biasa, kita tidak pernah bisa biasa.

Aku menemukanmu dengannya. Sedari dulu, bahkan kini aku telah berganti tapi kau ? Masih saja dengan wanitamu. Melihatmu hari ini, mengingatkanku akan banyak hal. Atas kesalahan, kita belum benar benar saling memaafkan. Atas melepaskan, mengapa tidak dulu bukan kau yang ku perjuangkan. Bahkan jika kau tau, yang kuperjuangkan tlah meminta untuk dilepaskan .

Dulu kau bertanya 'mengapa bukan aku ?' mengapa bukan kamu yang ku perjuangkan. Kau menyatakan 'padahal aku yang mencintaimu amat besar, mengapa harus aku yang dilepaskan ?'

Kini aku melihatmu, menatap punggung itu. Kau tertawa dengan nya. Dengan wanita yang mencintaimu. Tawa yang dulu hanya untukku. saat cinta membuat seginya, kau tetap memilihku. Katamu 'setidaknya ia mencintaiku, tidak akan melepaskan semudah kamu. Setidaknya ia bisa menjadikanku bertahan .' dan benar hingga kini...kau benar benar bertahan dengan wanita itu. Bahkan saatku telah berganti dan berpindah.

Pada malam yang biasa ini, aku kembali mengingatmu. Ingatan yang takkan pernah dilupa.

Karena denganmu, aku pernah bahagia..

Karena Segalanya #3

16 Juli 2016
21.35

Aku tak terlalu banyak bicara. Mengungkapkan yang kurasa. Menyatakan betapa aku cinta dan denganmu aku bahagia. Aku rasa..berdua denganmu. Berjalan bersisian seperti ini, melihatmu tertawa sedih marah saat kau bercerita. Menjadi pendengar dan ikut tertawa saat kau tertawa. Menguatkanmu saat kau bercerita yang membuatmu terluka. Aku rasa..itu sudah lebih dari ungkapanku bahwa aku cinta. Dengan selalu ada bersamamu, bersabar menerka maksudmu. Aku fikir itu adalah caraku mencintaimu.

Tapi kini kau datang dan mengatakan 'aku tak tau hatimu.' mempertanyakan 'apakah disini hanya aku yang cinta ?' lantas selama ini untukmu aku apa ?  jika menurutmu mengutarakan cinta lewat kata, bukan berdiam menjadi pendengar terbaikmu untuk bercerita. Lantas selama ini untukmu aku bagaimana?

Dan aku tau kini, cinta menurutmu tak sesederhana berjalan bersisian dan selalu ada mendengar ceritamu. Selalu ada untukmu.  Cinta menurutmu aku harus selalu ucapkan berkali kata 'aku cinta kamu'

Kamis, 16 Juni 2016

Pilihan

Jakarta, 16 Juni 2016
18.19

Akan ku tulis, semua kata penuh dengan rasa. Duniaku. Dunia kita. Yang penuh dengan ratapan, cacian, kesedihan, semua yang kutau, hingga semua rasa tlah berlalu.

Beberapa hari ini lelahku berasa terlalu, membagi banyak waktu untuk banyak kamu yang ingin melewatkan buka bersama dan untuk kegiatan yang telah menyita sedari dulu. Jika ada lebih waktu, akan kuberikan untuk banyak kamu. Agar kamu tau, bahwa banyak kamu adalah utamaku.

Melepas sebuah perayaan, yang ditunjuk untukku. Jika ada ku disitu. Tapi telah ku pilih bersama banyak kamu. Bukankah pilihan, harus merelakan satu hal lainnya yang berkaitan? Bukankah pilihan, harus merelakan pikiran negatif yang mereka fikirkan?

Aku telah memilih. Hingga berakibat tak ada aku disitu. Di kegiatan yang seharusnya ada aku. Dan sesalku tak pernah meringis, karena hidup adalah pilihan yang seharusnya membahagiakan.

Selasa, 07 Juni 2016

Lakon

Jakarta, 7 Juni 2016
01.57


Hei malam ! 
Lama sekali kau datang. Membuatku menunggu hingga resah tak kau kunjung. Tak kah kau tau..
Topeng topeng ini, ah sial!
Akan kulepas kan saja. Membuatku berkeringat. Membuatku tak ingat.
itu adalah siapa. 

Ini aku.
 Malam menjelma menjadi diriku. Tulisanku mengisyaratkan aku. 

Itu bukan aku. 
Tertawa dan terus tertawa, seakan semua adalah bahagia. Terlihat begitu sempurna. Tak ada yang dipermasalahkan. Tertawa karena apa. Tertawa untuk apa.
Bagaikan lelucon, aku hanyalah artis dalam lakon yang telah dibuat waktu. 

Mungkin bisa.. 
Aku pergi, melangkah berlari dan menjalani lakonku sendiri.
Memilih akan menjadi apa, bermain dengan siapa.
Memilih bertahan pada apa yang membuatku sayang.
Memilih berjuang pada akhir yang ku rencanakan.
Menjadi diri yang terlahir berbeda, sejak diutus Tuhan. 

Tapi tak kubisa sejak itu, 
Sejak ku sendiri, tak ada yang mau berperan dalam lakonku.
Sejak ku patah, tak ada yang mau menjaga hatiku.
Sejak atas segala waktu yang membuatku tau.
aku harus segera pergi. 

Senin, 16 Mei 2016

Untuk kamu sang kepala

Jakarta, 16 Mei 2016
20.37


Hari ini kau bertanya kembali, ada apa denganku. Mengapa tak terlihat begitu baik, berbeda. Tak secerah biasa.

Hari ini kau memintaku berterus terang, akan cerita yang ingin aku lakukan. Yang ingin aku kau perbolehkan. Katamu, biarkan saya pertimbangkan. 

Kau bertanya aku kenapa? Bahkan aku sendiri tak tau ini apa. Yang aku tau, ada hal yang melatarbelakangi semua. 

Kamu dan dia, alasan aku mencoba bertahan. Mungkin sejenak lebih lama. Mungkin sejenak lebih bersabar. Kamu dan dia, membuatku tetap melaju. Sebagai pemenuhan janji untuk bersatu. 

Satu untuk kamu. Satu untuk kita. Bersatu sampai akhir mencapai batasnya. Bersatu sampai mereka telah layak untuk dilepas. 

Kamu dan dia sekali lagi, menjadikanku bertahan dan kuat dari segala pandangan. Entah sejak kapan, aku tak merasa untuk dilibatkan. 

Jika kamu terbiasa tanpa aku, untuk apa aku tetap ada?  Jika tak perlu lagi aku, untuk apa kamu tetap menggenggamku begitu kuat. Begitu kencang. Tak ingin terlepaskan.

Sudahlah, dunia kalian tidak akan berubah. Tetap 24 jam, tidak ada yang berkurang. Jika kalian bisa berlari kencang tanpaku, untuk apa tetap menggenggam. Bahkan ini memperlambat. 

Kau tau... 
Mungkin duniaku tak seharusnya berada disitu. 

Endang Rachmawati

Rabu, 13 April 2016

Kereta, 13 April 2016
07.31

Entah apa yang difikirkan orang orang ini, sungguh.. Aku bersungguh-sungguh untuk tidak lagi seperti ini saat aku kerja nanti. Cukup..cukup sampai pada kelulusanku kuliah. 

Bukan aku yang tidak suka dunia seperti ini, bukan berarti aku tidak mencintai kereta. Cinta datang karena terbiasa, seperti kecintaanku pada kereta. Aku pernah sering mengutuk kereta, saat ia tidak datang tepat. Saat ia bermasalah dan aku berpayah pindah. Namun setidaknya ia membuatku menghindari kemacetan. Kau tau kan wilayah sudirman itu seperti apa. Setidaknya selama hampir 2 tahun, inilah rutinitas ku. Inilah hidupku. 

Demi mengejar uang makan, mereka sampai harus seperti ini. Terhimpit dan berlari mengejar absensi. Tanpa sadar waktu mereka tlah habis untuk dinikmati. Tanpa sadar dunia hanya akan berupa kenangan. 


Rabu, 06 April 2016

Kejadian hari ini

Jakarta, 6 April 2016
18.49

Siang tadi aku sangat merasa terkejut. Benar benar kenyataan yang menampar. Menunjukkan kesia-siaan. Media sosial.
Tadi ada salah satu senior laki lakiku, aku sedang bersama temanku yang kenal dengan dia. 

Senior laki lakiku menyapa temanku, dan aku menyapa senior laki lakiku. Tanpa terduga...dia memanggil temanku dan dia lupa nama ku. Astaga. Kenyataan yang pahit, secara kita sering memberikan love di Path dan Instagam masing masing. Seharusnya dia dapat mengenaliku. Karena kita pun sering bertemu.

Pait. Pait. Benar benar seperti tertambat keras, menyadarkan akan satu hal..media sosial tak berguna. Mereka mungkin akan mudah memberikan love atau like pada postingan aku, tapi tidak benar benar peduli atau menyadari apa yang sedang aku hendak sampaikan. Bisa jadi kebahagiaan, keresahan, atau lainnya. 

Ya.. Mereka tidak benar benar perduli.  

Jumat, 01 April 2016

Hari ke-4 Pengabdian

Kereta, 1 April 2016
07.42

18 menit menuju jam delapan. Awal bulan adalah awal mimpiku. Awal cerita baru. Awal terciptanya kenangan. Hari ini aku tampak santai sekali, seperti tak ada beban. Bahkan hari ini hanya satu mata kuliah. Haha, kalau bukan karena ingin merayakan ulang tahun seorang teman, mungkin hari ini akan kugunakan absen yang belum terisi. 

Aku ingin bercerita terkait kemarin. Seusai dinyatakan lolos ke tahap berikutnya di lomba PKM, aku mulai mengadakan kegiatan selama kurang lebih 3 bulan. Dengan dua pertemuan setiap satu minggu, benar benar menguras tenaga dan dana. Kegiatan diadakan setiap rabu Kamis, dan kau tau saat kegiatan hari rabu minggu ini dari 20 peserta pelatihan hanya ada enam guru yang hadir, karena sebagian guru sedang mengurus pajak. Hal itu yang membuat aku sempat Down, jika berkurang secara terus menerus itu akan membuat penilaian berkurang. 

Jujur, aku benar benar ingin hingga taham PIMNAS. Aku benar benar ingin sampai IPB, tak mengapa jika tidak menjadi juara setidaknya aku dan tim ku pernah merasakan wawancara di PIMNAS. Setidaknya perjuangan kami membuahkan kemajuan, walaupun tidak berhasil.

Lalu saat semangatku tidak ada, saat kebosanan sudah melanda. Keajaiban, saat pelatihan hari Kamis guru guru banyak yang berdatangan. Walaupun mereka telat, tapi karena ada beberapa urusan seperti rapat dan kelasnya baru selesai, setidaknya ada setitik cerah di kegiatan kami. 

Seusai kegiatan selalu aku mengucapkan terima kasih sebanyak banyaknya, terima kasih sudah tidak bosan. Terima kasih semangat kalian menentukan langkah kami selanjutnya. Terima kasih untuk tetap tidak merendahkan kami. Semoga mereka masih mau berjuang hingga akhir, hingga 3 bulan berakhir. 

Terima kasih.. 




Pilihan

Bekasi, 1 April 2016
21.04

Malam ini aku lalui dengan perasaan tidak baik. Perjalanan menuju Bandung dalam acara jalan jalan perpisahan. Mungkin awal terasa menyenangkan, tapi sekarang kuping ku menjelang koma nya. Berdenging. Berisik. 

Aku fikir dia terlihat sangat menawan dengan prestasinya. Cantik, pintar, berprestasi, baik. Bahkan saat pertama mengenal kampus, dan melihatnya aku ingin seperti dia. 

Tapi semakin lama aku tau, bahwa dia telah membuat pilihan di hidupnya. Berprestasi tapi tidak memiliki teman, atau menjadi biasa tapi kehilangan prestasi. 

Dia telah membuat pilihan di hidupnya. Atau bahkan sikapnya yang membuat ia seperti itu. Ia tak memiliki teman. Atau hanya aku yang melihatnya demikian? 

Seperti tidak tau kondisi, ia terus bernyanyi. Seperti dunia punya sendiri. Baru tau, mungkin seseorang yang terlalu berprestasi harus kehilangan banyak hal. Termasuk kepekaan dan pertemanan. 

Aku bersyukur, hingga hari ini masih ada yang perduli. Setidaknya aku tidak kehilangan apapun. Terima kasih..

Jika bisa aku memilih menjadi biasa tapi tetap ada.  Setidaknya tidak terlalu terang menjadi cahaya yang menyilaukan, dan membuatmu sendirian. 

Kamis, 31 Maret 2016

Seharusnya Kau yang Lebih Tau

Kereta, 31 Maret 2016
17.43 

Semua hal yang terjadi akhir akhir ini, seharusnya lebih mengutamakan  logika. Tidak hanya perasaan ataupun insting seorang wanita. Seharusnya kau lebih hati hati. Menempatkan hati yang tidak seharusnya berhenti. Berhenti di dirinya. 

Mungkin ia adalah seseorang yang bisa dikatakan paket lengkap. Semuanya ada di dirinya. Tapi tidak semudah itu membuat ia menyukaimu. Atau bisa dikatakan tidak secepat itu. Secepat kau memutuskan berhenti padanya. Secepat kau berfikir ia menyukaimu karena ia memperlakukan kamu berbeda. 

Kau adalah temanku. Banyak wanita sebelum kamu yang ia temui. Bisa jadi tidak hanya kamu wanita yang ia perlakukan berbeda.  Bisa jadi tidak hanya kamu yang dipanggil seperti itu.  Banyak hal yang bisa terjadi, jadi kau tak perlu berseri seri. 

Tak seharusnya kau jatuh. Jika ia biasa biasa saja, hanya menganggapmu sebagai kenalannya. Jika wanita itu bukan kamu? Bagaimana dengan pertemanan kalian yang kau anggap luar biasa itu? Sangat spesial.

Mungkin kau mau ada dia di masa depanmu. Tapi apakah dia setuju? Bisa jadi, sekali lagi bukan kamu wanitanya. Ia terlalu banyak kelebihan. Tapi kamu ?Katamu cinta bisa menyempurnakanmu, tapi apakah bisa dipastikan kau akan dipilih olehnya ?

Jangan bermimpi.
Dunia tidak seindah lukisan dongen imajinasimu. 
Laki laki seperti dia tidak mungkin menginginkanmu. Terlebih untuk masa depannya. 
Laki laki seperti dia tidak mungkin memilihmu. Meski kau telah memutuskan menunggu. 

Berfikir rasional akan membuat kau tau, 
Bahwa ia tak semudah itu jatuh padamu.
 


Rabu, 30 Maret 2016

Katakanlah bahwa itu aku

Jakarta, 30 Maret 2016
17.53

Mendekatlah padaku,
agar aku tau kemana hatimu kan menuju.
Ungkapkanlah beberapa kata,
yakinkan aku bahwa akulah wanitanya.
Jangan menghindar dan tak perduli.
Jika cinta soal berjuang, aku harap kau demikian. 

Tak perlu bersama, aku hanya ingin tau harus menunggu berapa lama? 
Aku adalah sepi, yang kau coba ramaikan.
Datanglah, dan katakan aku adalah wanitanya.
Datanglah, dan katakan aku adalah alasan kau berjuang. 
Berjuang dalam kariermu..
Berjuang dalam agamamu..

Katakan,
dan aku akan menunggu sampai kau datang

Endang Rachmawati 




 

Minggu, 27 Maret 2016

Sebuah Pertemuan

Jakarta, 27 Maret 2016
21.18

Jika nanti tlah kutemukan.. 
Kamu yang membuatku jatuh pada dirimu, sekurang apapun itu tetap terlihat hebat untukku. 

Jika nanti kita berjumpa..
Akan kupastikan kau takkan kulupa.
Entah pernah ada atau kamu baru menyapa,
aku akan mencintaimu secara sederhana. 
Sesederhana aku ingin membahagiakanmu. 
Sesederhana aku ingin tetap terlihat cantik untukmu. 

Jika nanti kita bersama..
Entah di umur kita yang ke berapa, 
ku pastikan aku ada di saat pertama kau minta..
Untuk menjadikanku wanita satu satunya.

Jika nanti kau yang membuatku cinta..
Kupastikan kau sosok lelaki diantara semua kriteria,
 kau adalah satu satunya..

Aku akan mencintaimu secara benar. 
Sebenar benarnya langkahku yang ingin menggenapimu.
Sebenar benarnya aku ingin pantas untukmu.

Aku di sini
Masih di sini untuk kau temukan. 

Endang Rachmawati 

Selasa, 22 Maret 2016

Sejak senja

Jakarta, 22 Maret 2016
07.25

Aku telah melihatmu sore itu..
Kau adalah senja yang tertinggal..
Saat itu kau tertawa, di bawah sinarnya 
Aku diam, duniaku terdiam, 
sejak kapak kau menjadi begitu menarik?

Aku telah menatapmu lebih lama di sore itu.. 
Kau tau ?
Aku mulai menyukaimu.. 

Aku telah membayangkanmu sehabis sore itu..
Sebut saja itu kamu..
Entah apa yang akan kulakukan esok, apa harus aku menyapa ? 
Entah apa yang akan ku kenakan esok, aku ingin terlihat cantik olehmu..

Pipi ku memerah, reaksi tubuhku berlebihan. Aku semakin suka kamu. 

Seperti takdir..
Aku dan kamu adalah kebetulan kebetulan,
yang disengaja Tuhan..

Endang Rachmawati 

Minggu, 20 Maret 2016

Cukup

Jakarta, 19 Maret 2016
21.51

Aku mengenalmu sudah lama..
Bahkan sangat lama saat aku belum mengenal dunia.
Kamu adalah keajaiban di bumi, bukti cinta Tuhan pada kami.

Kami adalah sekumpulan aku, yang bersyukur tlah punya kamu.
Sekumpulan orang sepertimu, adalah tempat teraman. Saat seluruh pedang mencoba menusuk kami. 
Sekumpulan orang sepertimu, adalah tempat ternyaman. Saat tak lagi ditemukan kasur hangat di kamar. 

Atas diri seperti kami..
Bahagiakah kamu? Saat kami menghentikan masa mudamu.
Senang kah kamu? Saat kami bahkan menghentikanmu dari pekerjaan yang kau perjuangkan sejak lama. 
Secukup itukah kebahagiaanmu? Melihat orang seperti kami tumbuh sehat dan bahagia.
Saat seluruh dunia menawarkanmu kebahagiaan yang mewah.

Kamu, adalah dirimu yang megah. Yang membuat kami selalu ingin merebah.
Kamu, adalah dirimu yang sederhana. Sesederhana kata 'cukup' untuk membuatmu bahagia. 

Endang Rachmawai 






Sabtu, 19 Maret 2016

Untuk kamu : laki laki di perapian

Jakarta, 19 Maret 2016
11.06


Sekarang musim apa ?
Tadi pagi hujan dan kini panas, tapi bunga bermekaran di pekarangan. 
Sekarang sudah bulan keberapa ?
Apakah bulan kedua? Ketiga? Bahkan tak kutau bulan keberapa ini sejak tlah diputuskan saat itu. 

Sudah berapa jauh? Sudah seperti apa kita kini? Langkah kita sudah semakin lebar, mengambil semua kesempatan. Sejak saat itu, kita menghilang. Sama sama menghindar. Kesibukkan membuat aku dan kamu saling melupakan. Sama sama sibuk dan mengabaikan.

Tak ada salam perpisahan, ataupun janji akan perjumpaan. Kau tlah hilang, dan takkan kuperdulikan. 

Selamat tinggal. Laki laki di perapian..


Endang Rachmawati 


Rabu, 16 Maret 2016

Namanya Nayara

Kereta, 15 Maret 2016
07.18

Maaf baru menulis kembali. Dua minggu kemarin entah mengapa jadwal ku sangat penuh. Aku sibuk. 

Bukan kesibukan tidak jelas, tapi kesibukan yang sangat jelas. Jelas untuk masa depan. Jelas dapat penghasilan. Yap aku mengajar private. Dan kegiatan lainnya aku mempersiapkan segala hal yang berhubungan dengan PKM.  Lomba yang kami menangkan waktu itu.. ;)

Sekarang aku akan menjelaskan pengalaman mengajar private dulu ya. Terkait PKM akan kujelaskan pada postingan berikutnya..

~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•

Namanya Nayara, umurnya 11 tahun. Sekarang ia duduk di kelas 6, di salah satu sekolah International School di daerah Cilandak, Jakarta Selatan.

Nayara adalah anak yang aktif, ia sangat suka bermain. Lebih tepatnya menciptakan permainannya sendiri, kreatif bukan? Nayara cepat sekali bosan, tapi dia tidak menyusahkan ku dengan keengganan atau mencari cara agar tidak belajar. Jika sudah bosan, ia akan mengajakmu bermain permainan tik tak tok dan lainnya. Nayara adalah anak yang manis, dia baik, dan suka bercerita. Dia bercerita bahwa teman temannya mengatakan ia teman yang baik, dengan gaya bicaranya yang formal dan bercampur dengan bahasa Inggris aku tersenyum. Kamu memang baik Nayara. 

Nayara memiliki rambut sebahu, ia tomboi dan lihat. Ia masih mengenakan seragam sekolahnya, saat aku tanya mengapa ia tidak ganti baju, ia mengatakan i like my School, and i love my uniform. Dia menyukai sekolahnya..

Hari itu, adalah hari aku pertama kali mengajar Nayara. Aku suka dengan Nayara. Aku nyaman. Tapi ada satu hal yang membuatku tertekan, Papi Nayara. 

Papi Nayara bertubuh tinggi dan memiliki perut agak buncit. Ia adalah laki laki yang soleh, dan aku salut ia mampu mengarahkan keluarganya dalam agama. Saat adzan magrib, Nayara pamit untuk solat magrib berjamaah. Penanaman Papi Nayara terkait agama, mampu membuat Nayara mengagungkan dan membanggakan agamanya. Dengan berbagai hal alasan yang dapat aku terima dengan logika. 

Namun, Papi Nayara yang berumur sekitar 40-50 tahun membuatku tetap tegang, mungkin aku mengerti untuk pertama perlu diawasi. Tapi terkadang ada yang membuatku risih dan tidak nyaman, Papi Nayara mengacak sistem ngajar ku. Mungkin ini terlalu cepat, temanku yang lain masih dalam tahap mengobrol santai tapi berbeda denganku. Yang harus dituntut untuk Nayara mengerti dalam sekali ajar. 

Mungkin ini rasanya mengajar private, memiliki banyak tuntutan harus membuat siswa memahami. Berbeda dengan menjadi guru bimble yang asal mengajar saja sudah bisa, tidak dibutuhkan untuk mencari cara agar dia mengerti. 

Nayara..
Semoga kita bisa cocok ya :))
Kalau tidak, mungkin aku akan berpindah saja.. 

Endang Rachmawati 

Jumat, 04 Maret 2016

Disalahkan

Kereta, 2 Maret 2016
07.30

Halo hari kedua di bulan Maret :D Halo kereta. Halo kamu yang sudah lama tidak bertemu, tadi kita papasan loh. Halo kesesakan yang semakin sesak hari ini. 

Pagi ini ku awali dengan bangun terlambat. Sangat terlambat. Mungkin efek terlalu lelah pulang pukul 9 dua hari ini. Hari ini tidak aku saja yang terlambat bangun, tapi seluruh keluargaku. Alhasil kami terburu buru dalam segala hal, termasuk mandi. Untung saja aku sudah duluan masuk kamar mandi. 

Pukul 06.30 aku dan Tyo sudah berangkat menuju stasiun terdekat. Tapi ada satu masalah, tiba tiba motor mati di tengah jalan. Setelah banyak hipotesis kami menyimpulkan bahwa bensinnya habis dan kami membelinnya di bensin eceran terdekat.

Sesampainya disana tempatnya belum buka namun ada kakek kakek di dalem. Kemudian beliau datang menghampiri dan aku bilang ingin membeli bensin. Ia memberikan botol kaca coca cola, dan memberikan corong bensin. Lantas ekspresi aku berubah bingung, di sana pak motornya. Aku sambil menunjuk tempatnya. Tiba tiba diluar dugaan aku malah disemprot alias diomeli. 

"Engga tau orang lagi ribet apa. Tokonya belum buka, malah beli disini. Udah bagus saya kasih bensin, malah minta saya layanin juga. Di sini ada orang lagi sakit sakitan, saya capek. Bla bla" ekspresi aku langsung melongo,  pagi pagi udah diomelin. 

Setelah kejadian itu, aku sampai kampus terlambat. Soalnya berita awal dosennya tidak ada, namun tiba tiba pukul 8 ada pemberitahuan di grup kalau dosennya udah dateng. Yeah aku presentasi hari itu, sial. Masih di stasiun sudirman.

Sesampainya di kampus langsung aku masuk kelas, dan melanjutkan presentasi kelompok ku yang baru datang satu orang. Lalu aku memberikan print an makalah dan ppt kepada dosen. 

Seusai presentasi, komentar pedas disampaikan dosen. Astaga saat dia mengangkat makalahnya, aku lupa jilid. Dosenku satu ini, berubah 180% dari semester sebelumnya. Aku lupa, satu hal makalah harus dijilid. Habis kelompok kami terkena kritikan pedasnya. Sebenarnya itu bukan tugasku untuk print materi. Sebenarnya kalau dikritik dosen aku tidak masalah, kau tau hal yang membuatku benci hari itu adalah temanku menyalahkan ku. Sial. Kita ini sekelompok, semua materi dikirim ke email ku, dan aku harus merapihkan dan menambahkan bab 1 dan 3. 

Setelah makalah dikembalikan, terlihat coretan demi coretan. Kesalahan kata, spasi, dan lainnya. Dan temanku menyalahkan. Itu lebih dari menyebalkan. Nada suara, cara berbicara seakan menyiratkan 'masa seperti itu saja tidak bisa'

Ingin rasanya ku kutuk ia untuk berhenti bicara hari itu. Pantas dia tidak memiliki teman. Kebiasaan untuk memendam amarah, membuat perasaan ku kusut hari itu. Seusai presentasi, temanku memanggil dan bertanya "Nanti jajan ngga?" Aku menjawab dengan anggukan dan senyum sedikit kecut. Lalu aku mencari tempat duduk, tapi dia terus memanggilku. Temanku satunya lagi sedang berbicara denganku. Karena kesal ia terlalu berisik aku membentaknya. "Kenapa sih Is?" dengan suaraku meninggi. Pertahanan ku hancur, seketika temanku langsung diam dan memalingkan muka. Maaf.. Tidak seharusnya aku seperti itu.. 

Hari yang buruk.. Sangat buruk

Rabu, 24 Februari 2016

Kamar, 24 Januari 2016
19.44

      Mungkin ini rasanya, menjadi salah satu dari 18 finalis mewakili universitas di lomba berengsi nasional. Mendapat ucapan selamat dari teman teman,  senior, web UNJ, bahkan dari Mapres (mahasiswa prestasi) UNJ.
        Senang rasanya diperlakukan istimewa. Saat kau datang ke ruangan Pembantu Rektor III/PR 3 sebagai wakil pemerintahan kampus yang mengurusi segala hal terkait perlombaan di UNJ termasuk lomba PKM (Program Kreativitas Mahasiswa), awalnya tidak ada yang menghiraukan kalian di sana. Tidak istimewa. Tapi ketika mereka mendengar kau adalah salah satu finalis dari lomba bergengsi tersebut, perlakuan mereka Padamu menjadi berubah. Bahkan kau dilayani yang menurutku lebih baik daripada saat kondisi mereka belum mengetahuinya. 
       Kau tau, ini adalah tahap pertama dalam seleksi perlombaan ini. Setelah di tahap pertama mengalahkan ribuan kelompok menjadi sekitar 200 kelompok, kini kami harus melalui tahap kedua yaitu pelaksanaan. Kami melaksanakan kegiatan yang telah disusun disertai anggaran yang pasti akan diberikan dibawah dana yang kami minta. Setelah melakukan kegiatan kami melakukan laporan kegiatan seperti LPJ(lembar pertanggungjawaban) setelah itu akan diseleksi kembali. Dan seleksi terakhir kelompok yang lolos akan mempresentasikan kegiatan yang telah dilakukan. Seleksi itu bernama PIMNAS (Pekan Ilmiah Nasional). 
         Aku tidak berharap banyak, karena masih banyak yang lebih dan lebih dari kami. Aku hanya berharap lolos sampai tahap presentasi. :) bissmillah..

Terbiasa

Lenteng, 24 Februari 2016
18.32

     Manusia adalah makhluk kebiasaan. Ia biasa makan jika lapar, maka ia melakukan hal yang sama jika lapar. Ia biasa tidur saat mengantuk, maka ia melakukan hal yang sama saat mengantuk. Begitupun kesendirian. Manusia akan terikat dan saling ketergantungan, bila dipertemukan secara terus bersama. Dipersatukan dalam berbagai keadaan, sehingga memaksa mereka untuk merasa nyaman dan saling ketergantungan. 
        Berbeda bila ikatan itu longgar dan membuat ia melangkah sendirian. Kebiasaan membuatnya sendiri dan terbiasa tidak menciptakan ketergantungan. Yang pernah ada di dirinya. Psikologi mengatakan membentuk kebiasaan butuh waktu 30 hari. Dan untuk hari keberapa ini hingga saat itu, kau akan temukan ia yang mampu berjalan sendiri. Tanpa kamu. Bahkan tanpa bayangannya sendiri. Hanya ia dan dunianya. :~


Endang Rachmawati 

Kejadian di kereta

Kereta, 23 Februari 2016
18.04

      Penuh sesak di tempat ini aku berada. Dengan tinggi yang tidak bisa disebut tinggi juga, aku berdiri diantara ketiak. Ya tinggi ku yang setinggi ketiak laki laki disini, ditempeli keringat mereka di lengan baju, yeah setidaknya mereka masih wangi. 

      Baru pertama sejak awal ditempatkan kuliah di sudirman, aku dapat masuk kereta menjelang pukul enam. Tak seperti biasa aku setidaknya menunggu dua sampai lebih setidkanya terlihat agak longgar. Ingin ku bagi seberapa sesaknya disini, atau di stasiun kau akan menggelengkan kepala, setidaknya inilah kami setiap hari hoho..

       Rutinitas hari ini sungguh menyenangkan, mood baik tidak berubah dari pagi. Btw tadi ada kejadian kecil di kereta, termasuk romantis sih. Haha anggap saja penghilang penat. Tadi satu lagi menuju stasiun ku, saat hendak membuka jalan menuju pintu. Tiba tiba laki laki di sebelah, membuka jalan juga. Itu memudahkan ku untuk mendekati pintu. Setibanya di stasiun yang kutuju saat pintu terbuka aku langsung turun disertai lainnya. Tapi ternyata saat aku hendak melangkah keluar, ada yang bertanya pada sosok itu turun dimana dan ia yang sudah berdiri di dekat pintu sama denganku, mundur dan mengatakan stasiun yang ia tuju. 
       Stasiun itu masih lumayan jauh dari stasiun yang kutuju. Kau tau artinya? Aw setidaknya itu membantu apapun itu arti kebaikannya. Haha~ 
(Sambil berdiri di depan alfa nunggu dijemput) 

Selasa, 23 Februari 2016

Pengumuman PKM

Jakarta, 23 Februari 2016
07.04

        Pagi ini dilalui seperti biasanya. Biasa bangun. Biasa mengecek Gadget sebelum beranjak. Lebih tepatnya membuka grup kelas di line. Tapi ada yang berbeda, kamu tau secara mendadak aku langsung terkejut dan duduk seketika, saat membuka line dari salah satu teman..
        Pagi yang indah... Kami lolos PKM (Program Kreatifitas Mahasiswa). Alhamdulillah. Seperti cahaya yang mulai bersinar, aku kembali bermimpi. Aku kembali bersemangat, sangat bersemangat. Seperti sudah lama tak memperjuangkan apa apa, aku kembali hidup. Dengan sinar baru, harapan baru, dan mimpiku yang baru. 
        Baru tahap pertama sudah  membuat mood ku sangat indah pagi ini, tersisa dua tahap kami akan tingkat nasional. Dari universitas sendiri hanya ada 18 kelompok yang lolos dan melanjutkan ke tingkat selanjutnya. Tingkat pelaksanaan. Menurutku itu tingkat yang paling memacu adrenalin. Kau tau, semua rancangan yang telah dibuat dan tersusun rapih di proposal, harus mulai kami kerjakan. Seperti bermain game, kami mulai menyusun strategi. 
        Mungkin kami akan menjadi lebih sibuk sangat sibuk. Semoga saja cepat pulih total agar aku bisa melangkah maksimal. 
         Oh ya hari ini aku mulai melakukan test wawancara BEMP. Baiklah nanti akan aku ceritakan mengapa sekarang namanya BEMP bukan BEMJ. Aku ingin bercerita sekarang, tapi maaf tak sempat. Kereta Sudirmannya sudah datang, sampai nanti. :}
  (Terlihat tidak? Cari saja namaku) :}

Rabu, 17 Februari 2016

Pertemuan

Kereta, 17 Februari 2016
06.46

Kemarin, usai sudah janji terakhir terealisasikan. Bertemu dengan kawan lama, yang sudah sangat lama tak berjumpa. 

Kemarin, beban karena janji janji itu sudah menguap. Tidak lagi membebani. Ternyata banyak praduga yang salah,  seperti kamu yang slalu senang menduga. 

Aku tidak memiliki banyak teman, tapi dengan mereka aku merasa cukup. Karena kesalahan tidak menyempatkan waktu, hampir sudah aku kehilangan. Mereka yang pernah membuatku bahagia. Mereka yang membuat pandanganmu tentang dunia berubah. Setidaknya dengan mereka mampu membuatku menjadi aku yang sekarang. 

Terima kasih. Karena masih sudi menjadi sahabat. Terima kasih. Karena masih sudi bertemu dan menyempatkan waktu. Jika kutau berkumpul dengan kalian seperti ini terasa masih sangat menyenangkan, aku akan menyempatkannya sesering mungkin dengan kalian. 


Selasa, 09 Februari 2016


Jika tak berniat mewarnai hidup 

seseorang, jangan pudarkan warna 

aslinya. 

-Aditya I. 


Btw thanks kata katanya. 
Dan Selamat Malam !

Sesempurna Itukah ?

Jakarta, 9 Februari 2016
21.18

      Sejak aku mulai suka untuk menjadi pengamat, aku menyukai mengamati segala hal. Mengamati pergerakan langkah cepat manusia. Menyenangkan ketika kesibukan mulai beraktivitas mengitari sekitarmu, dan kamu duduk. Mengamati segala hal yang terlihat cepat ketika kita diam. Menatap kesibukan berbeda setiap orang. Ada yang bermain Gadget, mengobrol, berlari, makan, dan sebagainya. 
    
        Sejak dulu aku slalu bertanya apa kekurangan di dirimu? Apakah kau terlalu sempura, sehingga tak kutemukan cacat di dirimu. Seperti jelmaan bidadari tanpa celah kau bersikap sempurna. Aku suka menatapmu, mendengarkan kau berbicara ataupun tertawa, bahkan dalam berkomunikasi kau tidak memiliki cacat. Pantas kau dulu adalah primadonanya. 

        Mungkin hanya kau yang tak memiliki kekurangan itu, tapi hari ini. Malam ini, pertama dalam hidupku aku merasakan kecewa yang teramat. Sangat. Dalam. Menyakitkan. 

        Mungkin sudah biasa aku diabaikan tugas yang kau kerjakan, itu salah satu kekurangan yang berhasil kutemukan. Sejak kecil, aku tidak dibiasakan bersikap manja dan menuntut yang tak ada. Tapi seperti kucing ku di rumah, yang bertingkah manja. Malam ini aku menuntut diperhatikan. 

        Tak masalah apa yang kumakan hari ini. Seperti anak kecil meminta mainan, aku mengemis minta diperhatikan. Tapi tak diindahkan, kau tetap asyik dengan Gadget. Persetan untuk Gadget, hilang sudah semua perhatian. 

        Aku tak suka menjadi tua, hingga tak dianggap pantas aku bermanja. 3 bulan 10 hari genap 20 aku berusia. Setegar dan setenang apapun aku di luar sana. 

:: Denganmu, aku ingin bermanja lebih lama... ::
       


Endang Rachmawati 

          

mbeeer


       Jika kau mau merendahkan hati sedikit saja dan kembali mengingat pada hari di mana kau belum mengenalnya, kau akan sadar. Bahwa jauh sebelum hari itu, dia tidaklah berharga untukmu.

Bukankah memang selalu seperti itu?



        Yang sangat kau specialkan hari ini, dulu bukanlah siapa-siapa untukmu. Tanpanya kau tetap ceria. Tak ada dirinya kau bisa tertawa. Bahkan ada suatu masa di mana ketika dekat dengannya, kau merasa tak nyaman.

Lantas, apakah ketika hari ini ia memutuskan untuk pergi kau tetap melihatnya sebagai yang tak tergantikan?
Ya. Kau akan tetap melihatnya seperti itu. 



        Tapi, dua paragraf pertama di atas tidak mengartikan dan mengajarkan bahwa kau bisa melihat orang specialmu itu seperti seseorang yang tak kau kenal dulu. Itu tidak mungkin! Otak manusia tidak diciptakan untuk melupakan kenangan.

Dan kembali tapi, dua paragraf pertama di atas akan mengajarkanmu untuk berani melihat orang lain sebagaimana kau pernah melihat seseorang specialmu dulu itu. 



        Dia yang tak pernah special, akan menjadi special jika kau berani membuka mata dan melangkah. Dan apakah dengan seperti itu kau akan melupakan seseorang yang sempat meninggalkanmu tadi?

Tidak. Otak manusia tidak diciptakan untuk melupakan kenangan. Namun ia bisa dibuat untuk memilih kenangan mana yang akan kau kenang. Dan tentu, kenangan lama bisa digantikan dengan kenangan baru. Bersamaan dengan orang baru yang tak kau kira sebelumnya.



  Maka melangkahlah. 


Sebagaimana kau mencoba melangkah bersamanya dulu ketika kau belum tahu ia siapa. 


Semua yang pernah menjadi special. 

Dulu, tanpanya, kau pernah bahagia.


Dan semua bisa menjadi special. 

Ketika kau mengizinkannya.


Goodluck.

Selasa, 02 Februari 2016

Pertama kali

Kamar, 1 Februari 2016
01.47

Selamat malam menjelang pagi. Awal Februari, aku awali dengan tidak tidur. Baiklah aku belum mengantuk. Sebenarnya aku mudah tidur cepat. Tapi karena beberapa hal jadi tidur pagi, misalnya karena menonton anime. Seperti saat ini, sudah 3 jam aku menonton anime Kuroko, terbagi dalam 3 sesion dan saat ini aku baru menonton season 3 episode 12. 

Menyukai sesuatu karena seseorang. Itu aku. Anime diperkenalkan oleh adikku, dan hasilnya seperti saat ini..aku menyukainya.. 

Tidak seperti biasanya, aku tidak menyukai tokoh utama, tapi malah musuh namanya Aomine. Laki laki berkulit coklat ini tergolong manis, ia egois tapi tetap membantu temannya walaupun caranya jauh dari kata baik. Tapi aku menyukainya..
Dan entah sejak kapan aku mulai menyukai pria berkulit coklat. Padahal sebelumnya, sd dan smp aku menyukai cowok berkulit putih. Mungkin bisa dikatakan sejak aku memasuki sma..

Tahun 2014 aku resmi menjadi salah satu murid SMA negeri di Jakarta selatan. Dan sejak itu, aku mulai mengenalnya. Menyukainya dengan warna kulitnya yang coklat. Mendapatkannya tidak mudah, ia satu organisasi denganku. Mulai dari balasannya yang jauh dari kata ramah. Sulit, tapi itu yang membuat aku penasaran. Seperti diberikan mainan puzzle, aku menyukai saat menyusun bagian bagian itu. 

Mungkin setahun kurang untuk aku mendekat, meski ada perubahan dari respondnya. Ia menjadi lebih banyak bercerita dan tetap aku tidak berani menyapanya langsung. Hal itu membuat aku menyerah, dan aku memutuskan untuk menjalin hubungan dengan temannya. 

"padahal tinggal sedikit lagi." Ujarnya dan itu membuatku galau, karena ia sudah tau aku berhenti berjuang..

sedih kalau inget itu... 
Mungkin itu pertama kali aku menyukai cowok berkulit coklat. Hanya itu kriteria ku yang berubah, tapi entah mengapa aku lebih menyukai cowok cowok cerdas. Tanpa sadar itu adalah hal terpenting.. 

Minggu, 31 Januari 2016

Kamar, 30 Januari 2016
20.54

Berapa lama lagi aku harus menunggu waktu. Ah tidak, lebih tepatnya aku sedang menunggu kamu. 

Sempatkah bercerita? Jika tidak, sempatkanlah berkabar..

Baiklah baiklah.. 
Aku akan tidur. 
Entah mengapa, beberapa saat ini menunggu kamu berkabar seperti  dongeng baru pengantar tidur ku

Selamat malam.

Berbeda

Kamar, 30 Januari 2016
17.39

Cinta wanita itu berbeda denganmu, Tuan..
Tidak seperti cintamu yang menggebu di awal.

Cinta wanita itu berbeda denganmu, Tuan...
Tidak secepat cinta datang ke hatimu, cinta di hatinya terhitung lamban. 
Mungkin karena wanita tidak perduli waktu, ia menikmati setiap hal yang kau lakukan.
Tanpa sadar, cintamu kini mulai meredup.
Kau lelah dan mulai mundur perlahan.

Tanpa perduli apa yang telah  ditinggalkan, bertaruh dengan waktu kau kira sudah cukup. 
Sekali lagi, tak perduli apa yang telah kau tinggalkan. Hati wanita itu tak kau perduli kan. 

Kau lelah tak dicari, Ia terbiasa dicintai. 
Kau hilang pergi, ia mencarimu hingga tak sadar diri. 
Bahwa kini....
kau sudah tak perduli. 

Endang Rachmawati 




Karena kamu sama berharganya dengan kenangan itu..

Kamis, 28 Januari 2016

Selamat malam

Selamat malam. 
Untuk langit dan bulan, yang terlihat sibuk semakin malam. Untuk fajar dan mentari, yang telah di ninabobokkan senja. 

Selamat malam.
Untuk kamu yang sedang sibuk berurusan dengan laptop. 
Aku sudah mulai menarik selimut ku, menutupi sebagian wajah.


Aku mengantuk ! 
Dan Selamat malam . 




Rabu, 27 Januari 2016

Selain rindu


Kamar, 27 Januari 2016
22.59

Aku baru tau, selain rindu ada kenyataan yang sama-sama menyakitkan. Adalah ketika tidak dipercaya bahwa kau telah berusaha. sekeras apapun kau mencoba, sejauh apapun kau melangkah, bahkan berlari dan terjatuh terlihat baret an luka dimana mana, tidak akan ada yang percaya bahwa sekali lagi. Kau telah berusaha.

Jika melupa susah, setidaknya mencoba tidak ingat. Menyibukkan banyak hal, membahagiakan diri yang telah lama mengobati luka. Di tangan. Di kaki. Di hati. 

Jika membuat percaya susah, biarkan aku disini. Langkahku adalah diam dan ramaiku adalah puisi balada. Tak perlu bahagia. Aku sudah biasa merasa sakit luar biasa. 



::Aku akan baik baik saja.
 
Endang Rachmawati 




Takkan pernah

Kamar, 27 Januari 2016
22.55

Sebesar apapun aku berusaha, tidak akan membuat kamu percaya. Meyakinkan bahwa melangkah saja tidak cukup untukku menjauh, dan medekat ke kamu. 

Sekuat apapun aku untuk melupa, dan meyakinkan bahwa tidak akan kuingat ingat sebuah rasa, tidak akan menyalahkan praduga di fikiranmu.

Memang, kamu benar dan aku salah. Selalu. 
Memang, untuk wanita sepertiku tak berhak untuk melangkah. Dan diam di tempat adalah langkahku yang sebenar-benarnya. 

Bahkan jika ku ucap selamat tinggal, kamu tak pernah percaya itu. 


Endang Rachmawati 





Senin, 25 Januari 2016

Kesan

Jakarta, 24 Januari 2016
22.28

       Menjadi orang dewasa harus belajar, mengerti benar tentang anak anak. Tidak hanya benar atau salah, terlebih pintar atau bodoh. Tidak anak yang bodoh, hanya ada anak yang telah diberi label bodoh. 

        Menjadi orang dewasa harus belajar, bahwa tidak semua harus dapat menguasai ilmu eksak, sosial, terlebih matematika. Di negeriku terlihat lucu, anak dianggap bodoh bila tidak dapat menyelesaikan soal matematika. Sedangkan di luar sana, setiap anak dibebaskan untuk belajar yang ia suka. Bukan memaksakan yang tidak ia suka.

      Terkadang, selama proses belajar menjadi guru aku lebih banyak tau bahwa selama 12 tahun aku belajar dan diajar oleh guru, mungkin bisa dikatakan 10% guru berhasil. Guru terbaik adalah guru yang dapat meninggalkan kesan mendalam untuk muridnya. Ia memiliki sesuatu berbeda sehingga dapat terkenang. 

      Seperti hari ini, aku bertemu dengan seorang stand up comedy kompas TV. Namanya Alfi. Dunia bisa dikatakan sangat sempit, karena saat sd ia pernah diajarkan oleh Ibu. Ia tidak pintar matematika, tapi dengan bakatnya dalam dunia stand up membawa dia menjadi dikenal oleh masyarakat. Entah untuk temannya yang lain, mungkin ia lebih pintar matematika. Ia mendapat juara 1 di masanya. Apakah ia sudah dapat dikategorikan sukses seperti Alfi ? Tidak ada yang tau masa depan seorang anak, bahkan ketika ia terlihat bodoh.

     Berbicara kebodohan, seperti aku katakan itu hanyalah labelling dari lingkungan pada diri anak itu. Seorang anak akan tetap tegar saat teman teman, orang tuanya menganggap bodoh, tapi ia akan terluka dan jatuh sejatuhnya bila gurunya pun menganggap demikian. Menganggap ia tidak mampu, Menganngapnya hanya tim peramai kelas dan tidak terlihat keberadaannya  seperti hantu, tidak dibiarkan untuk mengerjakan soal di papan tulis. Karena hanya akan membuang waktu.

     Dipandang rendah, seakan sampah yang mengganggu proses pembelajaran. Anak anak terlalu peka untuk hal hal demikian, jika ia tidak nyaman dengan gurunya selamanya ia akan mengingat dan menjadi traumatis berlebih. Membuatnya tidak menyukai pelajarannya entah sampai kapan. Tapi jika beda hal jika ia menyukainya, seorang anak akan mengikuti gurunya kemana pun. 

      Seperti yang telah diceritakan, ketika seorang anak tau bahwa gurunya akan mengalami mutasi. Ia menceritakan hal ini pada orang tuanya, dan orang tuanya menemui guru itu dan berkata, "saya dengar ibu akan dimutasi ? Kalau ibu X pindah kamu langsung pindah aja ya nak." Seperti itu yang dikatakan orang tua siswa kepada anak dan gurunya. Dengan senang anak itu menganggukan kepala, kau dapat bayangkan berapa berbekasnya seorang guru. Bahkan anak itu tidak memikirkan apakah ia akan mendapatkan teman baru, bagaimana dengan teman teman di sekolahnya yang lama. 

     Karena guru adalah segalanya. Tingkah, tutur kata, gerak jalan, berpakaian, akan menjadi model untuk murid muridnya kelak.. :')


Endang Rachmawati 


Jika suatu hari

Kamar, 18 Januari 2015 
23.43

Jika suatu hari ada hal yang mendekatkan, semoga itu bukan untuk awal kita melangkah berjauhan. 

Jika suatu hari yang sudah terlewatkan, aku bersyukur untuk hari sekarang.

Dan jika suatu hari kita melepas topeng, pergi dari rutinitas menghilangkan diri yang sesungguhnya. Aku harap kita masih dapat tertawa, bahkan untuk hal hal biasa saja. 

Karena kita pernah sama-sama saling menemukan..

Maukah kamu bersanding denganku..
Agar tidak hanya aku, objek yang tertangkap kamera menatap nanar kekosongan ruang di sampingku.. 

Maukah kamu..
Bersanding denganku, Tuan ? 

Sabtu, 16 Januari 2016

Kuningan

Km 187 Tol Palimanan 
17.29

Selamat datang di Cirebon. Beberapa kilometer lagi menuju Kuningan. Baiklah belum pasti juga bisa dikatakan kilometer , puluh kilometer, atau bahkan masih ratus kilometer. Asal sebentar lagi perjalanan panjang jalur tol akan berakhir.  Yeay !! 

Sebentar, apa kau berfikir aku sedang pulang kampung? Haha kau salah, bahkan kampungku bukan di sini. Lantas, apa tujuan ku? Hm, LIBURAAN 
Untuk rencana yang sudah sempat gagal, awalnya aku bersama tujuh temanku akan ke Kuningan tempat salah satu teman kuliah. Jangan tanyakan identitas, kau dapat berfikir banyak nama untuk temanku itu. Lalu h-3 menuju keberangkatan, rencana berlibur menggunakan mobil temanku, karena banyak kendala yang rumit akhirnya kita memutuskan untuk menyewa mobil. 

H-2 menuju keberangkatan, teman teman secara tiba tiba tidak jadi ikut. Tersisa aku dan dua orang teman. Akhirnya kami memutuskan untuk naik bus. Setelah semua persiapan diselesaikan, aku siap backpackeran 2 hari 1 malam. Tidur lebih awal, siapkan baju untuk berangkat. Semua siap.

Esok pagi yang aku tunggu, keberangkatan pukul 2. Aku sudah tidak sabar, kuteliti semua barang kembali. Entah mengapa jam dinding berjalan begitu lambat. Pukul 09.00, tiba tiba temanku (tokoh yang aku bebaskan untuk kalian memikirkan nama) meminta diundur hari, entah alasannya apa. Baiklah, dia tuan rumah. Esok pagi pukul 6 harus sudah sampai di terminal rambutan. 

Esok paginya kembali, pukul 04.00 aku sudah bangun dan sengaja mengecek line. Rutinitas setiap pagi. Takut ada info penting. Daan benar, perjalanannya digagalkan karena kemarin ada berita bom di Sarinah. Salah satu temanku tidak diizinkan. Dan aku tidak diizinkan bila berdua saja dengan temanku satunya. Karena dia laki-laki. Oke sudah gagal semua, semua rencana dan aku sudah malas. Baiklah simpan uangnya saatnya bermalas malasan. 

Satu hari itu aku lalui untuk merapihkan kamar dan menonton anime serta drama. Oke sudah dilupakan. 

Esok paginya pukul 5 teman aku yang sekali lagi bisa kau kreasikan namanya siapa, chat aku dia mohon banget untuk aku dan teman teman datang. Ibunya sudah menyiapkan semuanya, dia tidak tega melihat ibunya kecewa. 

Lantas aku merasa bersalah dan aku mengajak temanku yang dua orang itu. Mengajak siapapun yang mau. Tapi yang balas hanya temanku yang cowok itu. Akhirnya dengan nekat dan izin ortu aku dan temanku berangkat menggunakan bus dari terminal depok. 

Mendadak sekali, sangat mendadak. Bahkan kami seperti mau mudik bersama . -_- bus berangkat dari pukul 2 dan 2 jam dari sekarang aku dan dia akan segera sampai Kuningan. 

Walaupun sempet baper dan kesel saam teman-teman yang awalnya mereka yang merencanakan tapi mereka sendiri yang menggagalkan, tapi disinilah aku bersama temanku. Menuju Kuningan . 

Sekali lagi.. 
Perjalanan ini adalah perjalanan yang seharusnya sudah gagal. Mungkin untuk trip selanjutnya aku harus mengikhlaskan terlebih dahulu~~

Endang Rachmawati 
 

Jumat, 08 Januari 2016

1/8

Kereta, 8 Januari 2016
07.31

Selamat pagi, hari ini adalah hari ke delapan bulan Januari. Tapi UAS ku tidak kunjung berhenti, seharusnya kini aku masih ngulet di tempat tidur. Menikmati cerahnya mentari dan seharusnya saat ini aku sedang membaca webtoon yang entah sudah berapa episode terlewatkan. Huh~

Tapi aku tertahan disini, di kereta bersama orang orang yang mayoritas satu tujuan denganku. Sudirman. Pagi ini tidak dilalui dengan mulus, baiklah dari semalam.. 

Printer rusak lagi, laptop engga mau nyala, tadi pagi alarm ku tidak menyalah atau akunya saja yang terlalu pulas? Haha.. Lalu aku lama memilih baju, karena hari ini saatnya aku uas Srategi pembelajaran terkait simulasi mengajar dengan menggunakan strategi berbasis masalah. Setidaknya tampilan menentukan perolehan skor ku walaupun  lebih banyak dari cara mengajarku apakah sesuai dengan strategi berbasis masalah. 
 
Lalu karena terlalu lama memilih pakaian, makan, daan ada bahan simulasi yang lupa aku kerjakan. pukul 7 aku Baru keluar rumah dan print bahan simulasi yang tertinggal. Untung aku memiliki adik yang baik (kadang-kadang) okeoke sering baik :p jadi dengan kecepatan 60km/jam sampailah aku di stasiun manggarai. 7.15. Aku sudah melangkah santai karena kereta sampai pukul 7.25. Tapi sesaat setelah aku hendak menyebrang, aku sadar penyebrangannya ditutup dan itu aku sudah ditengah jalan raya. Pantas sepi..
Dengan terpaksa aku harus naik tangga penyebrangan, dan alhasil aku lari larian ke stasiun lenteng.  

Sepertinya sudah lama aku tidak berlarian secepat dan sejauh ini mengejar kereta. Setelah lelah kau harus berdesak desakan di kereta, fiuh semua ini harus terbayar nanti~ 

Tapi aku masih dalam kategori beruntung, berlari mengejar kereta dan untung kekejar. Aku pernah entah kapan tepatnya, dengan kejadian sama kartu emoney aku habis dan aku harus membeli kartu harian kereta. Saat sedang mengantri kereta sudirman datang daan aku masih mengantri. Terkadang aku mengutuk rasa malasku untuk mengisi ulang emoney -_- 

Sekarang sudah sampai manggarai. Keretanya termasuk cepat. Semoga tepat sampai jam 8, dan sesampainya di sudirman aku harus sesegera mungkin menaiki ojek. Kenapa ojek? Karena kalau jalan aku capek haha. Becanda karena perjalanan dari sudirman ke kampus kalaupun jalan cepat itu bisa 15 menit haha. Jadi tidak heran jika berjalan 5 menit saja aku tidak merasa capek.. Kadang kalau sambil ngobrol bisa apaa 1/2 jam.. 

Sudah ya, keretanya sudah hampir sampai stasiun sudirman siap siap berdesakan keluar gerbong. Keluar aja desek desekan -_- udah biasa kok udah biasa banget~~~


Sabtu, 02 Januari 2016

Masih saja

Jakarta, 31 Desember 2015
19.44

      Aku kira semua sudah benar benar hilang. Bahkan tlah kuselipkan, ku tumpuk di bagian terdalam dan terbelakang. Tak ditemukan..sejak diputuskan untuk disimpan. 
     Sejak diputuskan untuk berhenti, menjauh dan melepas semua yang mengganggu. Semua tentangmu Tuan. Ah bahkan aku tak ingat menyimpan semua ini..
      Sejak awal aku mengenalmu. Sejak awal langkahmu menuju ku. Semuanya. Semua benda yang pernah bersinggungan denganmu, aku simpan dengan apik. Berharap jailku tak mengusik kediaman benda benda ini. Berharap kelak mereka adalah barang biasa tak lagi menyesakkan. 
       Melihat mereka seperti catatan lama, menimbulkan luka saat ku putuskan untuk membuka. Tuan.. Mengapa semua tentangmu begitu menyesakkan.. Mengapa debar ku masih terdengar hingga telinga.. Membiarkanku menari dengan rindu, menghiasi melodi berirama kamu. 
       Aku pernah membaca sebuah puisi lama dengan lantang ia berbicara, "bagian tersulit bukanlah patah hati, namun kenyataan bahwa kau sedang menjalani patah hati itu sendiri." 

Endang Rachmawati 

       

Hidup di Jakarta Akhir akhir ini

Jakarta, 10 Juli 2025 17.22 Hidup di Jakarta akhir-akhir ini kenapa menjadi seperti ini. Udara yang semakin memburuk membuat saya malah terk...