Minggu, 27 Desember 2015

Kecoa

Jakarta, 15 Desember 2015
22.12

Kecoa, bagaimana kabarmu? Apa kau baik baik saja setelah kehadiranmu tidak diharapkan di dapur. Ketika ibu menakut nakuti kamu dengan sapu, yeah kamu duluan sebenarnya yang menakut nakuti ibu. Sebenarnya aku tak mengapa, kau hinggap dimana saja asal jangan mati terkapar di depanku saat mencuci piring itu....menjijikkan. (-_-)~

Kecoa, kamu merasa bagaimana jika lebih dari separuh  penduduk bumi takut dan tidak mengharapkan hadirmu. Sebagiannya lagi menerima selama itu tidak mengganggu. Contohnya aku. 

Sudah biasa bukan berarti rasa sedih dan kecewanya sudah menjadi terbiasa bukan? Tidak diharapkan. Mengapa kau dilahirkan, bila burung memakanmu, bukankah masih ada jenis lainnya. Bahkan kau hanya alternatif disaat tidak ada pilihan.


Seputar kamu

Jakarta, 26 Desember 2015
 00.25

Membicarakanmu itu seru. Membuat ingatku berjalan, mundur beberapa langkah. 

Mendengar mereka membicarakanmu, menertawakan tingkah konyol ku yang lalu. Membuatku tersenyum, aku pernah sebodoh itu. 

Kini mereka bercerita, menyukai seseorang yang bahkan jalan fikirannya yang tak bisa mereka terka. Melibatkan perasaan dalam hubungan yang seharusnya telah menjadi teman, tidak mudah. Mereka telah berada di persimpangan, tetap berjalan mengejar atau melangkah bersama bergandeng tangan dengan seseorang di belakang. Aku pernah..merasa hal serupa. Jadi kuberikan saja mereka pilihan kemungkinan yang akan terjadi. Seperti seorang ahli..

Membicara dan mendengarkan semua tentangmu, membuatku tau..

Aku pernah sebodoh itu, berjuang dan mencintai kamu dengan terlalu. 


Sabtu, 19 Desember 2015

New

Jakarta, 18 Desember 2015
23.18

       Aku bersyukur, telah hidup hingga sekarang. Aku berterima kasih, pada takdir yang tlah membawaku ke bumi. Melihat langit dan hujan yang aku suka, merasakan secangkir kopi, ice cream, dan nasi goreng Ibu serta tempe goreng Bapak. Mendengar lantunan rangkaian nada Piano dan suara Tulus. Merasakan tuts orgen yang kusuka dan belum lanjut kuselesaikan. Mengenal banyak rasa, senang, sedih, marah, terharu, menyesal, bangga, dan lainnya. 
 
Kau tau....aku bahagia telah terlahir di dunia. Di bumi. Di Indonesia. Di tengah keluarga Agus Sutopo.

Perjalanan hidupku tidak pernah mudah, jika kau bercerita karena kau dikucilkan teman teman, sebelum kau hendak bercerita aku sudah pernah alami. Atau kau kesal karena keluar masuk ruang BK karena kau bermasalah, akupun pernah mengalaminya. Atau kau merasa tertolak dunia, karena tak ada yang bisa kau tawarkan atas kelebihan dirimu, akupun sudah pernah merasakannya. Atau hal lainnya, saat kau kalah dalam lomba dimana semua berharap Padamu, aku tau bagaimana rasa tertekan dan malunya saat kau kalah. Atau kau ingin bertanya mungkinkah aku tidak pernah tertolak pria, secara kau lihat semua serba sempurna. Aku pernah merasakan,  rasanya saat lelaki yang kau suka sejak lama lebih memilih teman sebangkumu, atau diduakan saat pertama kali aku memutuskan menjalin hubungan. Atau saat kau berusaha dekat dengan seniormu, setelah perlakukan dinginnya padamu. Atau saat kau berusaha mengembalikan seseorang yang telah pergi..tapi kau tidak berhasil. 

     Banyak hal hal yang menjadikan ku mengerti dan belajar, untuk menjadi lebih dan lebih dari sebelumnya. Dulu saat aku tidak memiliki teman, aku berfikir untuk pintar. Mungkin aku akan memiliki teman banyak jika aku pintar. Aku belajar dan selalu mendapat peringkat pada masa itu. Memang benar aku memiliki banyak teman. Dan aku mengambil hipotesis bahwa kau harus memiliki nilai jual untuk mendapat banyak teman. Dan kepintarannya membuat guru guru tidak terlalu mempermasalahkan masalah yang sering kau buat. 

      Lalu saat selanjutnya aku sedang di masa masa malas untuk belajar. Malas sekolah, sehingga saat masa itu aku tidak mendapat peringkat apa apa. Merasa dihilangkan dari daftar teman di lingkunganmu, karena tidak ada yang bisa kau jual pada mereka. Dari itu aku belajar mengenal siapa teman yang benar benar teman. 

      Saat masa itu, masa kemalasan ku untuk belajar. Aku menyukai Senior lelakiku, aku berusaha dekat. Huh kau harus tau bagaimana sulitnya aku mencari topik agar ia mau membalas pesanku lebih dari dua suku kata. Dan aku mendapatkannya, mendapatkan perhatiannya, mendapatkan ke seruan yang adalah dia sesungguhnya, mendapatkan balasan cepat bahkan lebih panjang dari balasan yang kuberikan. Kufikir senior lelaki itu mulai menyukai, tapi ia hanya menganggapku teman yang seru. Apa kau berfikir aku menyatakan duluan? Haha tidak! Aku mencari tau informasi dari berbagai hal, ternyata wanita itu teman sekelasnya. Ia cantik, modis, baik, dan pintar. Aku belajar hal lain... Aku membutuhkan kepintaranku dan laki laki suka wanita modis dan anggun yang enak dipandang

      Hal lainnya, aku pelajari saat menjelang tahun kelulusan. Saat itu aku baru pertama kali merasakan, benar benar menyukai laki-laki. Berjuang seseorang kembali dan mengikhlaskan adalah kedua hal yang sulit dilakukan. Aku belajar, untuk mencintai orang selagi mereka ada. Karena yang sudah pamit pergi, akan tak mudah diajak kembali. 

      Jika menulis adalah terapi hati, mungkin itu benar. Banyak orang berbeda melakukan perenungan dalam hidupnya, aku melakukan perenungan ku sendiri melalui menulis. Melalui ketikan ku pada setiap alphabert yang ada pada layar Ponselku. Banyak hal yang merubah ku hingga saat ini. Pengalaman menjadikanku potongan mozaik yang akhirnya mampu membentuk diriku sesungguhnya. Kau tau, aku hanya boleh tertolak 2 kali. Teman sekelasku, dan kamu. Aku hanya boleh kalah saing 1 kali dengan seniorku. Aku hanya boleh 1 kali mengalami tidak memiliki teman. Aku hanya boleh 1 kali tidak diharapkan karena tidak memiliki hal menarik yang ditawarkan. 

    Tidak lagi ada penolakan. Karena diriku adalah baru. Karena aku, adalah wanita yang kehadirannya tidak diabaikan, aku adalah wanita yang tidak akan pernah tertolak. Aku tidak akan memutuskan mendekat lebih jauh atau bertindak hal hal bodoh lainnya. 

     Tidak ada lagi aku yang dulu. Karena aku merasa berhasil atas pencapaian hidupku atas target target yang mulai tercoret tanda terselesaikan. 

Edang Rachmawati 

Kamis, 17 Desember 2015

Banduunggg

Perjalana menuju IPTEK, Bandung  
17 Desember 2015
@KM 99

08.22

       Dua jam 22 menit, kendaraan berisi 35 seat meluncur bisa dikategorikan lambat. Untuk saat seperti ini, aku berharap lebih pada supir untuk menaikkan kecepatan spedometer nya. Entah aku atau lainnya juga, tubuhku sudah mengeluarkan reaksi dinginnya. Aku butuh lebih banyak jaket. Aku butuh roti ku yang entah hilang kemana. Aku butuh kamu. Eaa haha

      Sambil ditemani suara sumbang karoekean teman teman di belakang, seperti bukan gaya ku jika bernyanyi seperti itu. Aku sadar diri -__- baru pertama aku perjalanan bersama teman teman yang cowonya sedikit. Banget. --"

       By the way, perjalanan menuju Bandung itu indah banget ya di tol nya. Masih banyak hutan dan seperti perjalanan ke puncak. Aku suka perjalanan seperti ini, terlepas dari proker, Llmj, rundown, walaupun masih ada tugas tapii...itu anggap aja cuma formalitas. Haha ada untung juga dapet dosen yang suka jalan jalan, sekalian masuk dalam penilaian UAS. Fiuh engga sabar libur~~
   
      Oh ya belum aku ceritakan ya perjalanan untuk mata kuliah apa.. Hari ini aku melakukan perjalanan untuk mata kuliah fisika. YA FISIKA :""" oh NOO. Aku sengaja untuk banting stir ke sosial, tapii... Tetap ketemu BIOLOGI, FISIKA, MATEMATIKA :| yes yes yess!!!
    
        Tangan aku udah kaku untuk ngetik, aku juga kebelet pipis :| kapan sampenya inii. Semoga sesampainya di Bandung menyenangkan yaa!!! 

Muach !!!!


Endang Rachmawati 

Rabu, 09 Desember 2015

Amanah yang harus selesai~

Jakarta, 9 Desember 2015
16.28

    Angin menyapa, berhembus santai dan romantis. Apa yang kulakukan di sini? Banyak hal tiba tiba yang terjadi, tanpa permisi tanpa bertanya apa yang aku inginkan hari ini. Evaluasi yang gagal, dan kini kita duduk melingkar menceritakan banyak hal terkait permasalahan. Ck~ terlalu banyak masalah, mencoba menyelesaikan dengan curhat bergantian. Ck~ doakan semoga berjalan dan terselesaikan haha..
    
    Btw, hidup adalah proses. Dan aku sedang melangkah menjalani proses, melawan semuanya. Melawan ego, melawan malas, melawan semua yang membuatku enggan beranjak dari posisi nyaman. My bed. My room. Seperti hari ini, manusia pemalas yang dipaksa untuk berjalan itu.. Susah. Rumit. Seperti jalan fikiranmu yang selalu rumit, tidak pernah bisa kuselesaikan dengan mudah. Haha next~~
     Hidup itu proses. Hidup itu pilihan. Dan semua pilihan itu memiliki tanggung jawab. Mungkin jika bukan karena dia, karena teman yanh sudah harusnya ku dukung sejak awal. Jika aku berfikir ini demi organisasi yang aku ikuti, tidak disini seharusnya. Kau tau? Bahkan aku sendiri tidak merasa nyaman di organisasi ku sendiri. Seperti temanku, aku merasa...bahkan jika aku tidak adapun, tidak banyak yang akan merisaukan. Sedari awal memang tak ada aku untuk mereka. 
    Tapi demi amanah. Hanya karena amanah yang seharusnya diselesaikan. Karena aku yang sudah terlanjur memulainya atau aku akan kehilangan semuanya.Lagi. 
Kehilangan semua kejadian yang harusnya bukan cuma bisa dikenang. Atau melihat dari jauh dan merangkai kegiatan semuanya yang pernah ada. 

Endang Rachmawati 



Kamis, 03 Desember 2015

1543

    Kamu sedang apa? Duduk di depan seperti bukan kamu. Seperti bukan tingkah kamu yang aku kenal seperti biasa. Bertingkah sangat bijaksana dan tegas, menjawab pertanyaan dengan mantap dan membuat semua terpukau.
    Kamu adalah sisi lain berlainan, seperti mata koin. Ada sisi wibawa yang tak kulihat sebelumnya, nampaklah sekarang. Pantas kamu ditunjuk menjadi kandidat. Padahal sebelumnya siang tadi, aku melihat sikap manja dan ambigu mu masih menempel pada diri kamu. 
    Sempat semalam aku mendengar kamu bercerita banyak, tapi kini.. Kamu telah berjalan menjauh dengan sibuk yang mengikatmu. Apakah kamu baik baik saja, kawan? Apakah kamu merasa tertekan? Aku ingat kau pernah bilang, jika ditanya kesiapan kau hanya siap 1% dan 99% adalah dari Allah yang menentukan kamu siap atau tidak. 
    Selamat berjuang kawan. Semangat untuk berjalan, melangkah lebih lebar dan lebih jauh. Semangat. :D

Endang Rachmawati 
     

Senin, 30 November 2015

Menuju kampus

Kereta, 30 November 2015

      Pagi menjelang siang. Pukul 10.30. Sebenarnya bisa dikategorikan aku sudah telat, dan kenyataan aku masih. Sangat. Santai. Haha~ bukan tidak ada dosen, bahkan dosen sudah hadir dalam pertemuan. Entah mengapa hari ini aku merasa malas sekali untuk bergegas . 
      Pukul 09.20 aku baru saja berangkat dari rumah, kenyataannya 20 menit lagi jam perkuliahan kedua dimulai. Pukul 10.00 aku baru naik kereta, karena kereta menuju sudirman saat aku sampai di stasiun masih di cilebut. Owowow~~
Seharusnya aku bisa saja tidak terlambat, jika aku sampai di stasiun pukul 09.30, tapi... Entahlah hoho..
      Yeah.. walaupun aku merasa tak nyaman, dan berfikir ulang untuk tidak hadir dalam pertemuan. Aku malas saat hadir ditengah perkuliahan, betapa malunya kau tau. -_- tapi mau bagaimana lagi, absensi lebih penting dari rasa malu. Semoga aku beruntung. Semoga tidak hanya aku yang terlambat~~

Kamis, 26 November 2015

KJMB2024

Jakarta, 25 November 2015
20.24

Hari ini aku bertemu, dengan seseorang yang terlihat lucu bahkan aneh. Terlalu banyak bergerak padahal sedang tidak ada ruang bergerak. Tapi dia baik. Dan sepertinya kita akan sangat kompak, jika dipertemukan kembali. 

Ah semoga saja aku masih dapat mengenalimu dengan jelas, saat kita bertemu lagi. Ya jika takdir memberi ruang pada kita untuk bertemu. Kawan :)

Endang Rachmawati 

Senin, 23 November 2015

Ketika

Menyedihkan, ketika kau bahkan tak menghargai hidupmu secara benar. Seperti bunga yang terlepas dari tangkai, mengembara tanpa tau hendak bermuara. Hendak menepi tapi kau malah sakit sendiri. Terlalu banyak bunga yang indah, kau indah tapi tak merasa semenarik bunga lainnya.

Apa yang salah? Jika bunga ingin sama terlihat indah. Mungkin hidup mereka yang berlebihan, atau hidupmu yang bermasalah sejak awal berjalan. 

Senin, 16 November 2015

00.09

Jakarta, 16 November 2015
00.09

Menjelang pagi esok, apakah aku mampu melewatkan tanpa ada kamu? Untuk nanti dan hari yang berlalu..Semoga rindu tak segera berebut untuk bertemu. Baik baiklah selalu..

Untuk kamu..
Laki laki di duniaku :)

Senin, 09 November 2015

Mauku Berbicara tentang Rindu

Jakarta, 9 November 2015
19.14

     Sudah lama aku tidak berbicara dengannya. Bahkan banyak hal yang ingin ku bagi dengannya. Tidak seperti yang lama aku bisa berbagi dengannya setiap saat, kini kami perlu meluangkan waktu untuk bertemu. 
      Aku rindu dia, yang kini tlah hilang dalam kesibukan. Aku rindu dia, berbincang panjang di sore hingga petang. Tertawa dan membicarakan ke absurd an dunia kita. Bersamamu aku gila. Bersamamu aku suka. 
      Kau tau, hal paling mustahil di dunia adalah menginginkan seseorang untuk seperti dulu. Menemani sepanjang waktu. Jika ku berfikir aku akan baik baik saja, ternyata tidak semudah itu. Aku tlah kehilangan ceritaku. Aku tlah kehilangan dunia kita yang kini berbeda muara. Aku ingin kamu ada di sampingku, itu sudah lebih dari cukup untuk menyempurnakan hidupku. Yang kau tau? Lebih baik dari saat kita sekolah dulu. Aku hanya ingin kamu.
      Apakah kamu baik-baik saja dengan duniamu? Apakah kau sempat kehilangan sosok ku dalam bayangan perjalananmu? Seperti aku yang tlah kehilangan seseorang yang menemani Langkahku. Seseorang yang menemani tawaku. Sekali lagi. Aku rindu kamu. 
      Dongeng mengajarkan kita untuk percaya akan keajaiban. Jika kini aku berusaha percaya itu, apakah akan benar terjadi di duniaku? Tak ada yang seperti kamu. Tlah kucari hingga berlalu, yang kutemukan orang orang yang berbeda. Sangat berbeda dari kamu. Aku hanya mau kamu. 
      Sekali lagi. Aku rindu kamu. Aku hanya mau kamu. Aku hanya ingin denganmu. 

Endang Rachmawati 
      

Minggu, 08 November 2015

Seputar cinta

Jakarta, 7 November 2015
23.24

Selamat malam~
     Setiba ingin aku menulis, tentang hari ini menjelang esok pagi. Sebelum pukul 00.01 aku ingin menceritakan tentang hari ini. Kau tau apa yang kulihat? Hari ini aku melihat banyak sekali cinta. Mungkin lebih tepatnya... Orang jatuh cinta.
      Jika cinta diungkapkan sebagai sebuah perasaan irrasional, tidak masuk akal. Dan perlu dikendalikan secara kuat oleh nakodha pemiliknya. Banyak orang berbeda mengekspresikan cara ia jatuh cinta. Senior laki laki di kampus, mencintai teman seangkatan yaitu senior saya di organisasi yang sama. Cara ia mengekspresikan cintanya? Cukup unik, bisa dikategorikan jarang mereka chatting tidak seintens orang yang akan pacaran. Mungkin lebih ke wanitanya yang tidak ingin pacaran, tapi cara senior laki laki saya mengekspresikannya dengan tindakan. Bahkan untuk orang seperti dia, terlihat berbeda saat jatuh cinta. Saya yang bahkan adiknya tidak diperhatikan seperti itu. Tapi kau tau? Wanita itu mencintai sahabat dari lelaki tersebut. Dan lelaki itu bahkan tidak lelah mencoba menarik hati wanita itu. 
     Ada lagi, ini terjadi pada teman angkatan saya satu organisasi. Hal ini terjadi pada wanitanya, ia bukan orang yang suka dandan atau kegiatan cewek lainnya. Tapi sejak ia dan laki laki teman saya menjadi dekat dalam suatu acara, mereka terlihat lebih sering berdua. Mereka tidak pacaran, mungkin dekat. Tapi kau tau, wanita teman saya kini menjadi lebih suka dandan dan memakai lipgloss. Lalu saat jam makan siang tadi aku di sebelah mereka, laki laki itu bertanya "kamu mau makan apa? Aku yang beli aja." Oh No. Bahkan belum 1 menit yang lalu laki laki itu baru berbicara dengan sikapnya yang jail kepadaku, tapi seperdetik kemudian berubah menjadi lembut kepada wanita itu. Bukankah aku juga belum makan? .....
      Kejadian ketiga, hal ini terjadi pada teman wanitaku satu organisasi. Ia menyukai senior kami, sejak masa orientasi ia sudah menyukainya. Entah ini cinta apa namanya, jika sudah tersebar bahwa wanita ini menyukai senior kami. Bukan karena dia genit atau sebagainya, perangainya yang asli orang betawi membuat gaya bicaranya ceplas ceplos. Hal itu tanpa sadar membuat banyak orang tau ia suka senior kami. Tapi tragisnya, senior kami tidak suka padanya. Bahkan ia menyukai wanita lain dan bergonta ganti pacar. Mungkin yang ia rasakan sudah kebal, dan dengan entengnya wanita itu bilang "terserah dia mau sama siapa aja sekarang, yang penting dia jodohnya sama gue." 
      Kejadian terakhir, hal ini terjadi pada temen wanita saya dalam satu organisasi yang sama. Ia menyukai senior kami. Tapi ini adalah cinta diam, bahkan senior kami sudah memiliki pacar. Saat aku tanya kenapa tidak mencoba mendekat, dia bilang "setidaknya dia masih ada di jangkauan pandangan gue. Itu udah cukup buat gue bertahan di organisasi ini."
     Banyak sekali, ekspresi manusia ketika jatuh cinta. Apakah kau masih ingat perasaan pertama kali jatuh cinta? Untukku, aku masih mengingat jelas. Satu hal yang membuat aku merasa bahwa kali ini adalah cinta, yaitu semangat. Aku menjadi semangat pergi sekolah, menjadi indah banget warna dunia tidak lagi abu abu. Setelah putus cinta, puluhan diksi diksi romantis mengudara di fikiran. Menuangkannya dalam sajak kepedihan. Bahkan jika mengingat hal itu, aku merasa bodoh dan sudah tak punya harga diri di depannya. 
     Tapi itulah cinta. Saat pertama merasa manusia paling bahagia di dunia. Namun saat cinta membuatnya jatuh merosok hingga ke jurang terdalam, membuatmu perlu lebih dari waktu cinta itu tumbuh di hatinya untuk melupa. Setelah sampai di atas, ada hal lain yang membuat kau takut untuk jatuh ke jurang kembali. Dan kau lebih hati hati. Tak tau siapa yang kelak jatuh hati Padamu, kau tetap jaga hati takut ia membawamu ke jurang seperti sebelumnya.
      Mungkin banyak orang berfikir hal ini termasuk lebay, seakan menuntut perhatian, tidak tau diri, jahat, tukang gantungin orang, dan sebagainya. Tapi terkadang banyak hal, yang butuh proses tidak sebentar. Bahkan sebelum benar benar ia siap untuk mencintai kembali. Kau tau yang membuatku sulit berkomitmen? Karena aku menjaga hati, untuk tidak luka lagi. Hanya takut. Untuk segal sakit yang terjadi. Kau siap jatuh cinta berkali kali? Aku tidak, bahkan aku seperti menaruh luka untuk hati yang lain.  
      

Rabu, 04 November 2015

:}

Kamar, 4 November 2015
12.01

Hei manusia, masih adakah kamu di dunia ? Tak kutemukan kamu dimana - mana. Aku rindu kamu. 

Hei manusia, entah tahun keberapa ini. Bahkan tahun ini akan segera berakhir, tak kutemukan kamu. Ada yang ingin kuberikan untukmu.

Hei manusia, bagaimana dengan harimu? Tak tau kapan terakhir kali kau bercerita tentang dirimu, apa ada sesuatu yang baru di hidupmu? Ada banyak yang ingin ku bagi denganmu. 

Hei bahkan tulisan ku semakin berantakan saja huh, sepertinya aku butuh kursus menulis -_-. Seperti tak layak dibaca, sempat aku berfikir untuk menutup blog ini. Lalu aku kursus menulis dan menjadi penulis profesional haha. Bagaimana dengan ide ku, apakah cukup bagus? xD 

Berbicara hal lain, bagaimana kalau kita berdamai ? Yeah.. Tidak sekali aku memintanya dan kembali terulang. Tapi seperti game yang memiliki tombol new game untuk nge-restart dari awal, bagaimana jika restart ulang ? 

Endang Rachmawati 


Selasa, 03 November 2015

Hujan di awal November

Jakarta, 2 November 2015
20.10

Mungkin rasanya akan sama seperti biasa, jika kutemukan hujan saat musim hujan. Tapi rasanya akan sangat berbeda, jika hujan hadir mencoklatkan tanah yang mulai terbelah. Membasahi daun yang sudah mulai menguning layu.
Selamat datang..
Selamat datang hujan pertama di awal November :)~

Selamat datang, bukti kebaikan alam pada kami penduduk bumi. Aroma tanah yang khas, bukti kebahagiaan tumbuhan dan seluruhnya. Setiap orang memiliki cara sendiri untuk menikmati hal yang disukai. mataku terpejam, menikmati setiap angin yang berhembus menerbangkan kekecewaan dan memberikan harapan baru untukku. Ditemani secangkir kopi, aku mencoba menulis. Mengumpulkan segala rasa dan memori yang sedang kucoba rekam dan simpan di Ingatanku terdalam. 

Hujan mengingatkanku pada banyak hal, tetang hujan disetiap moment, tanggal, waktu, jam, dan..orang yang berbeda. Satu hal yang sama saat kurasa ketika hujan, perasaan nyaman dan tenang. Perasaan bahagia dan syukur untuk tetap hidup hingga sekarang. 

Setidaknya...
Janji janji kehidupan masih berlaku. Setidaknya tidak selamanya kering itu kemarau. Setidaknya, hujan masih memberikan janji untuk ku. Janji untuk tetap berjuang. Untuk aku yang tahunan silam, dan aku di kemudian. Hujan tetap hujan. Menemani dengan keindahannya yang kusyukuri. hujan tetap hujan. Menawarkan kesan yang berbeda disetiap rasaku yang sama. 

Endang Rachmawati 

Kamis, 29 Oktober 2015

Tunggulah nanti

Jakarta, 29 Oktober 2015
15.56

"Bisa jadi kau membeci sesuatu, padahal itu baik bagimu. Dan boleh jadi kau menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Sungguh, Allah Maha Mengetahui segala sesuatu yang tidak kau ketahui."

Benar. Allah mengetahui lebih dari yang kutau. Tapi harus terulang seperti ini. Jika sakit adalah cobaan kesabaran dan pengguguran dosa. Bagaimana dengan aku, yang benar benar menolak. Aku tidak suka seperti ini, esok adalah hari yang kutunggu dengan tabah, tapi seakan bertaruh untuk berlari kencang. Aku terkapar di pertengahan. 

Esok adalah hari ku. Hariku setahun yang lalu. Saat menjadi peserta, dan kini mimpiku terwujud untuk menjadi panitia di acara PKMJ (Pelatihan Kepemimpinan Mahasiswa Jurusan) 2015. Aku ingin melihat, ingin mengulang aku yang setahun silam. Menurutku ini adalah kebanggaan, mimpi pertamaku di dunia kampus terwujud, menjadi Badan Eksekutif Mahasiswa. Mimpi keempatku ingin kembali mengikuti rangkaian proses PKMJ. Entah takdir apa di esok lusa, bisa atau tidak aku tetap memiliki harapan untuk berangkat besok.

Aku lelah, dan aku hanya ingin menjadi sekalian lelah bersama di rangkaian PKMJ. Bersama angkatan ku yang berjumlah 30 orang. Bersama adik adikku yang berjumlah 300 orang. Aku hanya ingin minta waktu sehat hingga selesai Rangkaian PKMJ. Setelah itu? Aku akan istirahat. Ya istirahat untuk beberapa saat.

Jika kau berkata aku maniak organisasi? Mungkin itu pendapatmu yang tidak mengikuti organisasi. Karena aku hanya menjalankan amanah yang sudah tersampir di pundak. Aku hanya ingin menata duniaku, yang tidak boleh rusuh karena salahku. Aku akan memperbaiki, agar benar benar...bukan aku yang salah pilih. Dan bukan salah kepercayaan yang salah mereka beri. 

Endang Rachmawati 

Mengenal :)


Jakarta, 20 Oktober 1015
07.19

    Ini adalah cerita yang sebenarnya sudah terlewat. Ini adalah cerita, tentang duniaku. Yang lagi lagi baru~
------------------------------------------------
    Di duniaku, berkenalan itu sulit. Terlebih dalam lingkungan baru, dimana mereka tak sendiri. Di duniaku, tak semudah untuk dekat dan membuat mereka tertawa. Bukankah dalam perkenalan perlu menampilkan kesan menawan, dan hal yang membuat mereka tertawa adalah perkenalan paling ampuh untuk cepat mendapat sahabat. Tapi aku tak bisa menampilkan kesan seperti itu, satu satunya cara adalah dengan menjadi baik buat mereka. 
      Not bad, aku berbicara pada banyak kawan. Walaupun saat awal ingin kurasa pulang, karena sendirian itu menyebalkan. Terlebih tiba tiba temanku membatalkan ikut, tidak hanya ikut orientasinya tapi tidak mengikuti organisasinya. Menyebalkan. Menyedihkan. Itu yang kurasa awal. Tapi penerimaan buatku mengikhlaskan. Aku belajar membuka diri dengan obrolan atau join bareng saat mereka ngobrol, aneh banget sih tapi tahan malu aja untung aku memiliki teman kelompok. 
      Jika kau berfikir ini mudah, aku merasakan kesulitan. Karena dalam posisi ini aku termasuk senior yang berada di lingkungan didominasi maba. Memang ada beberapa yang seangkatan bahkan lebih tua, namun mereka memiliki teman satu jurusan. Dan aku you know lah :' 
     Tapi setelah aku mencoba menjalani, tidak seburuk yang dibayangkan. Aku mengenal banyak orang, aku berdiskusi dengan orang orang berbeda fakultas dan karakter. Belajar mempresentasikan pkm yang sedang aku ikuti bersama teman sejurusan. Setelah acara ini selesai, aku menambah teman dekat. Setidaknya aku memiliki koneksi di beberapa fakultas. Tidak hanya melulu pgsd. 
     Di hari kemudian, aku memiliki alasan untuk terus datang ke sana. Ke acara LKM( lembaga kajian mahasiswa) setiap haru selasa-Kamis, dengan materi berbeda. Ada public speaking, bedah buku, dan menulis. Kau tau? Ada seseorang yang membuatku selalu ingin kembali ke sana. Mungkin sudah terbiasa apapun itu namanya. Dan aku sedang mengerjakan proker pkm bersama kelompok yang berbeda. Ya kelompok aku di lkm. 

Terima kasih, setidaknya aku pernah mengenal kalian 😊 
      

Kamis, 01 Oktober 2015

Surat untukmu

Stasiun cawang, 1 Oktober 2015
17.44

Surat ini kutulis khusus untukmu. Surat terakhirku, saat kau akan segera berpergian jauh. 

Assalamualaikum, 

    Apa kabar Kak? Pertanyaan bodoh, padahal sudah kutau kabarmu. Anggap saja formalitas, seperti surat lainnya yang bertanya kabar terlebih dahulu. Haha
      Kak, aku tau kau tidak baik. Tapi sejak kemarin, sejak kutau kau sedang berjuang aku berharap dan terus berharap kau dapat bertahan. Kau tau, kau yang paling baik menurutku. Mungkin dibanding yang lainnya, bertemu denganmu meninggalkan kesan untukku. Perjumpaan kita yang tak dapat kusebutkan kebetulan atau memang sudah takdir Tuhan. Tapi aku bersyukur, pernah mengenalmu dihidupku. Pernah berbincang sangat lama, sangat dekat. Mungkin Tuhan cemburu, kau terlalu dekat dengan aku dan duniamu, sehingga ia menginginkanmu dekat dengan-Nya. 
    Kak, terima kasih. Atas pertemuan singkat kita di acara MPA. Atas bimbinganmu yang luar biasa. Atas lelah kita, dengan hasil yang sangat menakjubkan. Seperti katamu, "Jangan sampai dunia membuat kita terus berleha-leha. Biarkan lelah perjuangan kita di dunia, dan surga menjadi tempat peristirahatan kita."
    Kau tau Kak, seperti tanpa firasat apa apa kau berbicara seperti itu. Aku mengingat betul, mungkin itu adalah obrolan terakhir kita. Selamat beristirahat Kak, kau sudah berjuang. Sangat lelah kau berjuang di dunia, semoga perjuanganmu menjadi amal ibadahmu di surga. Selamat beristirahat Kak Suci, selamat malam. :')

Endang Rachmawati

Rabu, 30 September 2015

Jika saja bukan

Kereta, 28 September 2015
07.02

Kau bukan laki laki terakhir di dunia
Jangan berlaku hanya kau yang tersisa
Jika ia sudah cinta, kau mau apa?
Bertingkah seperti hanya kau yang mampu membuat ia kembali berkali-kali.
Jika ia kembali, kau mau apa?
Apa kau akan memberikan sedikit perhatian, dan membuatnya kembali bertahan.

Lantas kau berkata ini salahnya, masih saja tak bisa mengikhlaskan segalanya.
Hei Tuan, jika cinta bisa memberinya sedikit kompromi.
Sudah sejak lama ia melepasmu pergi.
Bahkan jika kau bertanya soal hati, ia sudah amnesia karena bahagia.
Bahagia karena yang ia cinta bukan lagi kau, Tuan.

Endang Rachmawati

Minggu, 27 September 2015

Pesan Secangkir kopi dan pisang bakar

Jakarta, 27 September 2015
18.13

     Setiba aku ingin minum kopi. Ah seberti kebetulan sekali, kopi yang kuingin kunjungi tutup rupanya. Yasudah aku pergi ke Warkop dekat rumah. Takut menyesal, kalau asal berhenti. Setidaknya aku pernah kesini. 
     Kau tau, aku memesan makanan yang sama. Saat pertama aku ke tempat ini. Pisang bakar dan kopi. Makanan seperti nenek nenek, haha. Tapi memang aku menyukai kopi, kopi panas tentunya. Tapi rasanya berbeda, entah mengapa.. Tak seenak dulu, mungkin sekarang karena engga terlalu lapar. Atau mungkin karena saat itu aku tidak sendirian disini. 
     Aku hanya mencoba memberi waktu pada diri sendiri, seperti yang lalu. Seperti 9 bulan yang lalu. Tapi sekarang aku merasa aneh, memang benar kata orang "makanan enak hanya ada tiga alasan, memang makanannya enak, makan saat lapar, atau dengan siapa kamu makan." Mungkin alasan kedua dan ketiga bisa menjadi masuk akal kenapa makanannya engga enak sekarang. 
     Aku suka menulis, karena menulis adalah terapi hati. Setidaknya baca saja, tak perlu berkomentar atau merasa itu untuknya atau itu untukku. Jika ibu berkata tulis di diary apa yang aku rasakan, lalu jika aku merasanya sekarang apa harus aku ke rumah, mencari pena, dan menulis. Ah aku pernah mencoba dan mood menulisku hilang semua. Biarkan kau anggap aku tak ada rahasia, setidaknya yang kubahas adalah rutinitas dan kisah cinta. Bukan masalah keluarga atau curhatan sahabat atau masalah lebih kompleks tentunya. 
    Sudah dulu ya aku mau lanjut makan. Dan bergegas pulang. Aku pura pura lupa atas warning ibu untuk pulang sebelum Magrib haha. See ya.. 

Endang Rachmawati


Tak seharusnya

Kamar, 27 September 2015
06.51

Untuk beberapa waktu lalu, aku merasa resah sendirian..

Bagaimana tidak, salahku tlah kembali berulah. Tak seharusnya itu kamu, sayang. Tak seharusnya rinduku menuju kamu, berotasi di kamu, dan berputar di duniaku. 

Tak seharusnya itu kamu, Sayang. Tak sekali aku berjalan meninggalkanmu pergi. Tak pernah sekali, tapi berkali kali aku harus mencoba dari 'nol' kembali. Apa yang salah? Mungkin hari baik yang kau buat terlalu berbekas, hingga kau tak bisa pergi lekas. 

Tak seharusnya itu kamu,Sayang. Aku bukanlah wanita yang suka berkhayal, terlebih tentang waktu yang kusebut kenangan. Tapi denganmu, aku seperti wanita meminta perhatian. Aku tak pernah sendirian, apalagi kesepian. Tapi denganmu aku seperti tak pernah bisa berpergian. 

Sekali lagi tak seharusnya itu kamu, Sayang. Aku tak pernah baik untuk ke depan, jika seperti ini terus menerus. Aku tak akan menghakimi, memori yang tlah berlalu pergi. Aku siap melangkah, aku harus berpindah.

Endang Rachmawati 


Selasa, 22 September 2015

Program Kreativitas Mahasiswa

Jakarta, 21 September 2015
18.55

Seperti keberuntungan menjatuhi ku bertubi tubi. Hari ini, ketika saya dan kelompok kecil saya sudah pasrah untuk mengganti dosen pembimbing untuk mengikuti acara PKM (Program Kreativitas Mahasiswa). Awal kami berencana akan memilih dosen pembimbing sebut saja Bu Ika. Tahun kemarin beliau mampu meloloskan mahasiswa hingga tingkat dikti(Direktorat ilmu komunikasi teknologi dan informasi), saya dan kelompok saya sangat berharap untuk bimbingan beliau dengan konsep kami yang matang mampu mengantarkan kami menuju tingkat nasional atau PIMNAS. Namun karena saat dihubungi beliau sedang sakit, jadi beliau tidak menyanggupi hal tersebut dan merekomendasikan dosen lain yaitu laki laki. Sebenarnya tak apa siapapun dosennya, tapi untuk saya dan tim kecil saya yang belum tau banyak hal tentang PKM ini, sangat membutuhkan bimbingan. Dan dosen yang direkomendasikan tersebut walaupun memiliki kemampuan yang bagus tapi beliau terkenal cuek. Tapi hari ini, Bu Ika memberi kabar kembali bahwa beliau bisa untuk membimbing kami. Alhamdulillah. Saya merasa bersemangat sekali untuk memulai project kami yang harus selesai kurang dari satu bulan.

Mungkin kamu penasaran sebenarnya apa yang sedang saya bicarakan. Baiklah akan saya jelaskan. PKM adala Pekan Kreativitas Mahasiswa, acara ini adalah acara bergengsi untuk mahasiswa dan universitas. Karena di PKM ini, mahasiswa diizinkan untuk mengeksplor apa yang ingin di lakukan dalam bentuk penyerahan proposal ke Dikti dan akan disaring, proposal yang lolos akan lanjut ke PIMNAS yaitu tingkat nasional. Saat penyeleksian di Dikti, proposal akan ditindaklanjuti apakah sesuai dengan yang tlah ditetapkan dan memiliki judul serta konsep menarik. Setelah lolos akan dibiayakan sekita 70% untuk pelaksanaannya. Kurang lebih RP2.500.000 - Rp12.500.000. Setelah terjun ke lapangan akan dilakukan evaluasi untuk penerapannya, hasil evaluasi tersebut akan menentukan apakah lolos ke tingkat nasional atau tidak. Jika lolos akan dilakukan presentasi mengenai project yang dilakukan. Nah PKM terbagi menjadi beberapa bagian, yaitu penelitian, pengabdian masyarakat, karsa cipta, wirausaha, dan penulisan artikel. Saya dan kelompok saya yang terdiri dai dua angkatan yaitu Bianca(2014), Ka Annisa(2013), ka Astria(2013), dan Retno(2014) lebih memfokuskan pada Pengabdian Masyarakat. 

Pengabdian masyarakat yang akan kami lakukan adalah dengan pelatihan membuat media belajar untuk guru guru sd. Jadi saat mengajar guru tak perlu lagi terpaku pada buku atau media belajar dari orang lain. Guru guru mampu membuat media belajar berbasis IT agar guru guru tidak lagi gaptek dan akan membuat suasana belajar lebih menyenangkan. 

Saya dan tim kecil saya akan mengerjakan dengan semaksimal mungkin. Entah nanti lolos atau tidak, setidaknya kami pernah mencoba dan memiliki pengalaman yang berharga. ;) 

Wish me luck ^^ 

Endang Rachmawati

Sabtu, 19 September 2015

Jangan kau katakan berulang

Sabtu, 19 September 2015
21.02

Jangan pernah kau katakan akan menungguku.
Karena hal yang kan kau temukan adalah kesia-siaan.
Jangan pernah kau katakan kau menyukaiku. 
Karena ku bukanlah embun yang kau rindukan kehadirannya di setiap pagi harimu. 
Jangan pernah kau mengulang segala pernyataanmu itu. 
Bukankah sudah kukatakan sejak kau mulai mengatakan. 
Jangan lakukan hal percuma, menungguku dengan waktu yang lama.
Jangan lakukan hal yang kau tau akhirnya, hatimu akan patah. 
Karena keputusanku tetap ada, sejak awal kau mencoba.

::tetap tidak untuk kesekian kalinya

Endang Rachmawati 


Rabu, 09 September 2015

Dunia Commuterline


Selasa, 8 September 2015
18.26 

KEREEEN !!! 
     Hari ini keren banget. Menakjubkan.       
Pertama, pukul 12.00 aku, Nia, Amy, wita, rani, bianca, euis siap siap untuk pulang. Harusnya hari ini rapat BEMJ Departemen Kaderisasi, tapi beritanya simpang siur dan engga pasti. Rencana awal jam 14.30 dan berhubung sekarang masih jam 12.00 jadi aku memutuskan untuk pulang. Selama perjalanan diselingi obrolan dan tawa, tak kutemukan kakak kakak BEMJ. Niat sudah dikumpulkan untuk pulang, ah bahkan jiwaku tak lagi di sana. Kemudian sampai di stasiun sudirman, tak perlu lama menunggu kereta aku, Euis, Bianca, Rani segera naik kereta. 
      Di sinilah cerita dimulai. Handphone ku berdering lama, tanda ada telepon masuk. Tanpa melihat nomor aku angkat saja, ternyata itu telepon dari salah satu kakak Kaderisasi, dan dia menanyakan aku sedang dimana. Mungkin karena aku terlalu jujur atau bahkan polos, aku menjawab di manggarai. Dan kamu tau? Aku diminta untuk berbalik arah menuju kampus atau dia jemput di manggarai. OH NOO!! kau tau apa rasanya kan? Udah seneng seneng ingin pulang, sudah memikirkan mau beli pop ice, dan sebagainya, daann..... Aku disuruh ke kampus lagi atau aku turun manggarai nanti dijemput -_-. Miris banget. Dan aku menyanggupi untuk kembali lagi ke stasiun sudirman. Di sekitar stasiun aku dijemput sama salah satu seniorku. Berakhirlah aku dengan rapat kaderisasi di kampus. 
     Kedua, selesai rapat pukul 15.00 aku dan Anna sudah bergegas pulang, sebelum ditanya hal lainnya. Aku kembali bersemangat, tiba tiba keinginan untuk membeli jajanan gorengan yang baru buka. Setelah membeli, aku melanjutkan perjalanan menuju stasiun sudirman. Sesampai disana, aku bergegas menuju peron 2 dan kudapati kereta Feeder manggarai tlah menanti. Segera saja aku naik, berfikir nanti naik lagi kereta meuju bogor dari manggarai. Kereta sangat cepat, aku merasa tambah senang. Seperti keberuntungan memihak, tapi aku tak seberutung itu saat kereta terkena sinyal masuk manggarai. Memang sudah biasa, untuk kereta dari sudirman terkena sinyal masuk manggarai terlama selama 15 menit. Tapi tunggu.. 30 menit berlalu, masih tidak ada pergerakan. 45 menit berlalu, masih tetap diam. Puncaknya 90 menit, baru kuketahui adanya kerusakan pada kabel atas kereta. Mungkin sebentar lagi akan selesai, tapi ini tidak sebentar sudah hampir 120 menit aku duduk menunggu. Udh tidur, ngemil, membalas pesan, update path, baca buku, tidur lagi, kereta belum juga jalan. Dan ibu ibu di peron sebelah sudah mengeluh, jurus ampuh yang membuat pintu darurat dibuka.  Hahaha, setidaknya aku tidak mati bosan di dalam. Akhirnya seluruh penumpang yang sangat sedikit turun dari kereta. Pengalaman yang menarik adalah kami berjalan bersama menuju peron manggrai. Aku ku posting fotonya, agar kau tau seberapa jauh. 

Aku melangkah dengan pelan, memastikan tidak ada moment yang terlewatkan. Aku akan mengingat ini, mengingat Langkahku di rel kereta. Hal yang sudah kutinggal lama. Terakhir aku seperti ini saat aku balita, kisaran umur 3-4 tahun. Bahkan dulu aku tidak mau makan jika tidak berdiri disamping rel sambil melihat kereta. Dulu rumah nenek begitu dekat, keluar gang langsung bangunan yang menutupi rel kereta. Dulu tidak seperti ini, dulu bahkan tidak ada yang terfikirkan untuk mengabadikan moment di kamera handphone. Sekarang? Bahkan semua orang mengabadikan di kamera handphone, dan mengupdate di media sosial. Memberitau keseluruh dunia bahwa mereka ada di moment itu. Well aku pun mengabadikan, tapi hanya untuk keperluan dokumentasi blog. Oke next, aku melangkah ditengah rel. Dari barisan terdepan hingga aku adalah penumpang terakhir yang berjalan sampai kereta membunyikan klakson untuk aku menepi saat berjalan. Saat mendekati peron, kusempatkan untuk memuat badan, berbalik dan menatap lebih lama moment yang tlah ku lewatkan. Ada kereta yang tadi aku naiki, di depannya ada orang orang yang sedang membetulkan kerusakan. Aku baru tau mereka menggunakan tangga yang dibawahnya orang memegang untuk menjadi tumpuan, mengerikan sekali. 

Setelah sampai peron langsung datang kereta menuju bogor. Akhirnya tidak terlalu penuh, setidaknya aku bisa bernafaskan lega. Eh tunggu!! Keretanya tidak selenggang yang kurasakan, sesampainya di stasiun Tebet banyak ah tidak... Tapi sangat banyak. Sampai setasiun selanjutnya dan selanjutnya. Jujur, selama hidupku menaiki kereta baru kali ini aku benar benar remuk bukan lagi menjadi pepes. Sebenarnya penuhnya tidak seberapa, tapi mungkin karena aku naik di gerbong kereta khusus wanita. Jadinya kau taulah, bagaimana jika segerbong bersama ibu ibu yang repotnya minta ampun. Turun dari kereta, badanku langsung lemas dan lebam didorong dorong. Oh No. Mereka tak pernah bisa sabar. 

Tapi kau tau, seburuk dan menakutkan ya dunia kereta. Aku benar benar mencintai kereta. Aku mencintai stasiun dengan ke pengapan saat aku berangkat dan pulang kuliah. Aku mencintai pemandangan melihat orang orang berlalu lalang, melihat berbagai karakter manusia. Merasakan berdesakan desakan, bau khas kereta yang kusuka. 


Foto Langkahku dan penumpang lainnya menyusuri rel menuju peron kereta. 

Endang Rachmawati 


Minggu, 06 September 2015

Berjauhan

6 September 2015
00.04 

 Banyak hal yang ingin kutau darinya. Di malam ini, kuingin lebih banyak tau tentang ia. Kau tau, ia terlihat unik dengan kekhasan yang dia miliki. Yang kubayangkan, tak seribet yang ia fikirkan. Perbedaan yang membuat ia terlihat berbeda.

     Berbicara perbedaan, mungkin aku bisa menerima perbedaan yang ia miliki. Perbedaan keminatan dan pola fikir, yang membuat kita terus berdebat. Ia tak suka kopi, dan aku suka kopi. Ia menyukai pakaian yang ia sebut "gembel" aku suka pakaian rapih dengan warna serasi. Jika semakin lama kita didekatkan, mungkin akan semakin banyak perbedaan yang terkuak. Tapi aku tak pernah permasalahkan itu, sudah kubilang dari awal ia unik. Dan kutegaskan takkan ku permasalahkan. 

Kami dekat, ya bisa kukatakan seperti itu. Akupun bisa mengatakan ia seru, bisa membuatku terus menunggu balasannya. Entah apa yang ia bicarakan, meski ia moody an. Dalam sehari bisa berubah mood berkali kali, tingkah seperti anak kecil. Belum pernah kubertemu orang seperti itu. 

Perbedaan, sudah kujalankan jika ku mampu menerima perbedaan yang ia ciptakan. Entah apa tujuannya, aku harap kami akan memiliki kesamaan. Kami sama sama pecinta Sherlock Holmes dan makanan pedas.  Walaupun hanya itu kesamaan kami, tak apa setidaknya masih ada yang sama. Haha. Kembali lagi menuju perbedaan. Aku masih bisa menerima segala perbedaan yang ia ciptakan. Perbedaan itu indah. Iya indah jika yang kau temukan perbedaan hanya dari dirinya, dari pola fikirnya, dan bukan dari Agamanya. Aku menemukan perbedaan besar diantara kami. Mungkin jika tak karena perbedaan itu, aku bisa mengikuti langkah yang ia mau. Mungkin tidak berpisah seperti ini, kesalahpahaman yang membuat kami mulai berjauhan. Sungguh, tak dapat ku jelaskan alasan Agama. Agama adalah hal krusial yang tidak boleh dibahas di muka umum. 

Aku ingin bersamanya. Aku ingin membersamai ia sebagai seorang sahabat. 

Endang Rachmawati 

Rabu, 02 September 2015

Ekspedisi II

Jakarta, 1 September 2015
20.55

Hari ini ekspedisi memindahkan 2015 ke E telah berlangsung di hari kedua. Seperti biasa pembicaraan kami ringan saja, dan lebih memainkan alam bawah sadar mereka. Menjelaskan dan memaparkan fakta fakta dan kemungkinan lainnya

Menyedihkan sekali adik adik saya, terutama di kelas G. Mereka adalah satu satunya kelas yang terasing kan, berada di gedung fakultas ilmu pendidikan saat kelas lainnya menikmati ruangan baru di gedung baru UNJ bernama gedung kartini atau IDB. Naas bahkan untuk mahasiswa BARU, tak geratis pulalah mereka berkuliah. Tapi kelas mereka kekurangan bangku. Hampir setengah dari mereka duduk di lantai. Naas sekali, untuk perguruan tinggi negeri, di Jakarta, tak mereka terima geratis, tapi bangku saja tak mencukupi. Seharusnya jika tau seperti ini, tidak seharusnya birokrat membuka lebar dengan menyediakan 7 kelas kosong. Lihat sekarang? Seakan semua dipaksa dengan sekelas ada yang hampir 45 orang. Tidak masuk akal untuk seorang mahasiswa dengan teman teman sebanyak itu di kelas. Ini bahkan bukan sekolah, yang harus diikuti segala macam peraturannya. Ini adalah universitas, dunia kampus. Membodohi manusia yang pergerakannya ditakuti, tapi dibiarkan memahami dengan mengatakan sedang dalam perubahan lebih baik. 

Saya tak mengerti, mengapa kampus saya bisa membuat saya merasa malu untuk mengakuinya. Merasa malu untuk mendeklarasikan dengan bangga. 

Lebih baik terpisah, daripada dipaksakan untuk lebih banyak sabar karena aturan dan perilaku yang bahkan tanpa disadari hanya merusak budaya pgsd kami. 

Endang Rachmawati 

Selasa, 01 September 2015

Hingga kelak

     Saat itu aku telah berjanji padamu untuk menuliskan sesuatu. Menuliskan tentang rasa yang kau mau tau. Kali ini tidak akan kugoreskan kata penuh luka, yang ku lupa bahwa kau ada. Kali ini akan kuucap bahagia untuk sebuah kehadiranmu yang nyata.
       Katamu aku dapat membuatmu bahagia, kesederhanaan perasaan yang ada. Dan atas semua cinta yang kau punya, aku merasa istimewa. Tetaplah ada dan jangan berdiri di tempat yang tidak dapat kujamah. Aku tidak tau, apa yang Tuhan mau dengan menghadirkanmu. Entah untuk selamanya atau persinggahan, tapi tetaplah ada. Hingga kelak dan semoga aku juga bisa merasa bahagia seperti yang kau rasa. 
       
"Doa yang terbaik untuk kita" 

Endang Rachmawati 

Ekspedisi

Kereta, 31 Agustus 2015
18.00

Hari pertama..

Senin, 31 Agustus 2015 adalah hari pertama aku menemui mereka. Tidak dalam balutan almamater dan berkalungkan kartu tanda kepanitiaan Masa Pengenalan Akademi UNJ 2015. Senang rasanya mengunjungi mereka kembali tapi dengan hal baru, yaitu sebagai kakak. 320, jumlah yang tak sebanding dengan kepanitiaan kecil yang kami bentuk. Ah semoga aku ingat untuk berfoto dengan mereka, agar kau dapat mengetahui siapa saja yang bersamaku dalam satu misi, mengembalikan teman teman 2015 ke Kampus E. 

You know, ini seperti melakukan pergerakan action di novel yang suka kubaca. Kau memerlukan stok keberanian yang besar, Ketahanan mental, dan ketepatan dalam strategi. Hal pertama yang kami lakukan adalah pencarian data. Disini aku yang bertugas mencari data terkait 2015, lebih tepatnya aku, Iqbal, Anna, Taufik yang turun langsung menghadap teman teman 2015. Ingin sekali ku menulis maba saja, tapi slalu diperingatkan sama ka Novan jika ada yang berkata maba. --" jadi bisa kita biasakan untuk menyebut teman teman 2015, karena jika aku menyebut maba aku disuruh membaca buku memanusiakan manusia -_- berat..

Di sana kami menyampaikan banyak hal terkait budaya pgsd NO KAOS NO JEANS NO SANDAL, terkait kenyamanan mereka di kampus A, pengisian krs dan permasalahannya, membicarakan dosen, dan lainnya. Mungkin awalnya kami hanya ikut ikutan, terlebih saya dan Anna adalah kaderisasi dan iqbal advokasi. Kami akan gagal jika 2015 tidak secepatnya kembali ke E. Karena tugas kami sebagai eksekutive adalah melayani mahasiswa baru. Jika bahkan kami gagal untuk mengembalikan mereka ke tempat semestinya, silahkan lupakan segala proker dan rangkaian kegiatan yang telah berteriak ingin diperhatikan, kami gagal. Kami telah gagal menjadi kaderisasi dan kami telah gagal menjadi Bem. Oh ya advokasi itu bagian kemahasiswaan, mereka sangat diperlukan dalam ekspedisi pengembalian 2015 ke kampus E.

Oh ya team kedua itu bagian yang berbicara ke birokrat. Itu sudah bukan tugas saya lagi, itu adalah tugas ka novan, ka Latief, Iqbal, ka setyo, ka Imam. Sebenarnya semua dosen sudah setuju dengan rencana kami memindahkan mereka ke kampus E. Tapi kau tau? Ada satu dosen ia adalah pembantu rektor yang kuasanya lebih besar dari jumlah dosen yang ada. Sebut aja bu Iva. Ah bahkan kukesal sekali, sepertinya sudah lama ia mengajar di pgsd tapi baru tau kalau pgsd memiliki budaya pakaiannya sendiri. Ia bahkan ingin merombak dan membebaskan pakaian di pgsd. Dia tak tau? Susah payah kami menerapkan budaya itu, bahkan ketua jurusan kami tak berkutit di depannya. Tapi ada satu kelemahan dia, dia luluh sama cowo ganteng. Hahahaha, semoga saja sebagian stok cowo ganteng di BEMJ yang diserahkan untuk membujuk ia agar mensetujui rencana kami. Ia akan lemah dengan cowo ganteng tapi ia akan galak dengan cewe cantik. Jadi aku tau diri untuk tidak mencoba berbicara padanya. Hahaha oke next.

Dari pembagian team tersebut, berharap saja kau dapat membaca tulisan keberhasilan ku memindahkan mereka ke kampus asalnya. Jika kau tau, betapa bobroknya sistem akademis dan pelayanan kampus UNJ -_- 
Bisa kau bayangkan? Pgsd adalah penyumbang terbanyak mahasiswa di fakultas, bahkan universitas. Berbicara mahasiswa, mereka adalah penyumbang terbesar untuk kampus. Tapi lihat? Mereka diperlakukan tidak sangat baik. Kembalikan saja pada kami, setidaknya kami akan menjaga adik adik kami dengan baik. 

Endang. Rachmawati 




Senin, 31 Agustus 2015

Kamu adalah

Jakarta, 31 Agustus 2015
23.32

Kau tau, apa yang tlah cinta katakan padaku saat bertemu kamu?
Ia memintaku untuk melangkah lebar, menuju kamu. 
Ia memintaku untuk berjuang perlahan, agar kudapatkan hatimu. 
Aku suka kamu. 
Aku cinta kamu.
Hingga berjuang dan melangkah hal biasa yang dapat kulakukan sekarang asal untuk kamu. 

Perjuangan pertama, kau anggap ku becanda.
Perjuangan kedua, kau tertawa seakan ku sedang berupaya membuat kau tertawa. 
Perjuangan ketiga, ke empat dan ke sekian, cinta tlah berujar padaku untuk tinggalkan kamu. 
Seperti kata mereka, cinta hanya ada dua perkara
Kau senang hingga kau melambung di udara 
Atau kau sedih hingga patah hati kau rasa.

Aku memilih yang kedua, karena kau hanya mampu membuatku melambung di udara tanpa kamu tau, kamu adalah pinjakan untuk aku melangkah..


Endang Rachmawati

190516051809 11011321

Sudirman, 31 Agustus 2015
07.10

Dimana mana aku melihatmu..
Di kereta, di jalan, di tengah keramaian
Mungkin hanya orang yang kebetulan saja mirip kamu.

Banyak saat aku melihatmu..
Pria hitam berkacamata 
Mungkin saja sekali lagi karena hanya kebetulan mirip..

Semoga tak ada pertanda yang membuatku sesak berasa..
Semoga kau tetap baik baik saja 

Endang Rachmawati

Jumat, 28 Agustus 2015

Kamu itu..

Kereta, 27 Agustus 2015
17.07

Hei kamu..
Kamu itu seperti mainan lama
Unik dan berbeda
Kamu itu seperti makanan ringan
Membuatku tertawa tanpa beban. 

Kamu itu terjaga
Hanya aku yang kamu punya
Kamu aneh, suka tertawa pada segala
Dan aku semakin aneh, melihatmu pun aku tertawa juga. 

Dunia ini aneh..
Mungkin saja karena aku suka. 


Endang Rachmawati 


Rabu, 26 Agustus 2015

Selamat datang untukmu

Jakarta, 26 Agustus 2015
07.08

Sehari setelah hari itu, aku merasakan kerinduan dengan mereka. Adik adik baru ku. 311 orang, jumlah yang sangat banyak untuk sebuah jurusan perkuliahan.

Sehari setelah hari itu, aku benar benar terbebas. Dari segala beban amanah menekan pundak. Entah aku merasa ingin bertemu kembali dengan mereka. Ingin tertawa lagi, ingin ditanya setiap malam hingga pegal kuberasa membalasnya . Dari "iyaa de 😊" sampai "iya" .Dari membalas "sama sama de" sampe engga dibales. Memang awalnya ku merasa kesal karenanya, waktu ku terbuang untuk menjawab pertanyaan mereka. Ah tapi sekarang, saat ku sedang duduk saja, santai, aku merindukan mereka. Adik adik baruku.

Segala kegiatan, segala rangkaian yang telah saya dan teman teman  persiapkan. Mungkin tak terlihat jelas dimata mereka, tak terlihat jelas bahwa kami yang lebih berkorban untuk mereka. Mungkin di lapangan, terlihat tim legistatif atau TIPE(tim pengawas) yang lebih perduli dengan mereka, mungkin kalian mengagungkan mereka yang sebenarnya.. Tidak membantu apa apa di acara kalian. Mungkin mereka seperti malaikat yang membantu kalian dari kesulitan, mungkin Tim Disiplin Keamanan adalah iblis dimata kalian. Haha dunia ini sungguh terbalik, dulu saya juga berfikir seperti itu. Tapi topeng itu perlu dipasang agar kalian dapat menghormati kami sebagai kakak. Mungkin topeng itu perlu dipasang, agar kami mampu melakukan peran dengan baik. Dan seiring berjalan waktu, kalian akan mengerti bahwa kami yang lebih perduli. TIPE hanya bertugas mengawasi acara, tapi kami akan terus mengawasi kalian dan membantu hal yang menurut kalian membuang waktu. Lihat saja nanti, siapa yang ada di samping kalian hingga akhir. 😊 

Selamat Datang Mahasiswa Baru 2015 jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar FIP UNJ

Minggu, 23 Agustus 2015

Organisasi

Kamar, 23 Agustus 2015
23.35

Baru sempat berkunjung, rindu rasanya ingin menulis. 
Berbicara rindu, ternyata aku merindukan sesuatu. Selama hampir 3 tahun ini, aku tlah kehilangan sesuatu. Ah pantas saja aku merasa ada yang hilang sejak ia tertinggal. Kesibukan organisasi. Sudah lama aku tak merasakan sibuk seperti ini, sibuk berorganisasi apalagi aku mendapatkan posisi koordinator acara MPAJ alias OSPEK. Senang rasanya, dapat bekerja bersama dalam sebuah agenda, terlebih aku memimpikan posisi ini sebelumnya. Sangat menyenangkan rupanya. Berdiskusi, berbicara dan dipandang dengan baik oleh orang orang, dibutuhkan, pantas semua orang ingin menjadi sosok penting dalam organisasi. 

Mungkin aku terlalu cepat berpresepsi, jika menjadi koor itu sangat menyenangkan. Adapula menyebalkan, terlebih setiap koor acara MPAJ selalu menangis. Dengan bangga saya mengatakan belum menangis, ya menangis di depan mereka. Awalnya terasa santai, bahkan aku masih bisa bermain. Tapi sekarang? H-2 menjelang acara, membuat seakan semua masalah menderap. Seakan semua topeng jahat bermunculan, berusaha menghancurkan tokoh utama yang gemulai cantik jelita. Haha next.. 

Tapi benar, pantas saja mereka pada menangis. Merasa tak kuat ingin segera menuju akhir. Benar kata ka Novan, "Yang kalian temukan adalah orang seperti ini, orang orang yang power ya lebih kuat. Orang orang yang sengaja ingin merusak perspektif kalian. Hal yang dapat dilakukan? Pertahankan perspektif kalian. " aku benar benar merasakan perjuangan untuk menghadapi ulah legistatif ini yang selalu mencari kesalahan. Dan aku belajar tiga  hal, pertama jika ada orang marah diamkan saja, toh dia akan merasa bersalah dan meminta maaf. Ini terbukti saat saya tak membalas chat personal seseorang, dan dia meminta maaf. Nanti akan saya tunjukan. 
Kedua, jangan mudah bilang iya. Aku memang orang yang sukar menolak. Apalagi nolak es krim haha.. Waktu itu sempat karena langsung mengiyakan rundown jadi berantakan. Bukan jadwalnya tapi konsepnya. Karena aku bilang 'iya' hampir saja pada bertengkar karena merasa paling benar -_- . Ketiga, jangan merendahkan diri sendiri. Untuk menghindarkan disalahkan saya merendahkan diri sendiri dengan bilang 'saya orangnya pelupa.' Tanpa sadar ucapan saya dapat membuat main set staff saya berbeda. 
Banyak sekali pelajaran yang didapat dari kegiatan ini, tidak ada pilihan untuk saya keluar dari organisasi ini. Walaupun tak akan saya dapatkan kawan baik , tapi setidaknya saya dapat kenangan yanh akan saya kenang saat tua nanti. 

Endang Rachmawati 

Rabu, 19 Agustus 2015

Perpindahan

Jakarta, 19 Agustus 2015
17.00

Karena hidup adalah tentang perpindahan itu sendiri...
     Senyaman yang kurasa, waktu akan tetap berputar dan aku harus segera berpindah. Seperti Bang Radit bilang hidup seperti pindah rumah, butuh beradaptasi. Senyaman yang kurasa, sebanyak kenangan apapun disana, di rumah baru harus membiasakan diri untuk nyaman. 
     Mungkin benar, memaksakan untuk lupa hanya akan merusak pada kenangan di rumah itu. Memaksa untuk tak ingat, hanya membuat bersama hati yang tak mampu berdamai. 
     Mungkin benar, atas segala kenangan, ingatan, dan harapan, aku harus tetap berjalan. Mungkin benar, kenangan harus tetap di belakang. Karena kenangan hanya untuk dikenang, bukan untuk diulang. Tapi bisakah, atas kemungkinanku, aku berharap tetap kamu? 

Endang Rachmawati 

Minggu, 16 Agustus 2015

Kini tlah hilang

16 Agustus 2015
22.41

Hei selamat malam..
Selamat pukul 22.41 
Malam telah lengkap dengan heningnya, membuat kesendirian semakin mencekam ku malam ini. Membuatku ingin menangis saja. Lupakan. Lupakan tentang ucapan, janji janji, atas tangis aku tak lagi. Bukan soal cinta seperti yang lama, ah bahkan aku sudah tak mampu merasakan perasaan seperti rasaku yang lama. Bahagia, sedih, marah, bahkan aku seakan tak diizinkan tuk merasa. Hambar. Seperti wanita yang tak memiliki emosional. Seperti wanita yang tlah kehilangan kegilaannya. Dan kini wanita itu hanya mencoba menjalani rutinitas yang sama setiap hari. 

Wanita itu pernah berkata, dunianya yang sekarang tak seindah dunianya dulu. Tak semenarik, dan mungkin ia telah meninggalkan tawanya ketika berjalan menuju saat sekarang. Mungkin.. Wanita itu kini harus benar benar mencari. menemukan sesuatu di hidupnya dari mati suri. 

Wanita itu.. 
Pernah bercerita, dengan lain orang ter percayanya. Bertanya dan mengeluhkan mengapa hanya kupu kupu yang bertemu dengan kupu kupu lainnya di bunga matahari itu, dan mereka terbang berdua menyusuri bunga lainnya.. Padahal sudah tentu mereka dari kupu kupu dengan ras berbeda. Terlihat dari sayap dan fisiknya, ah mereka tak satu spesies rupanya. Tapi mereka mampu terbang berdua, kau mengerti kan maksudku? Anggap saja mengerti.

Mengapa hanya wanita itu, yang tak memilikinya. Wanita itu.. Ia merindukan kembarannya. Ia merindukan dunia akan baik baik saja jika bersama dia. Wanita itu merindukan seseorang dari spesies yang berbeda. Di dunianya kini... Wanita itu harus dipaksa mengerti. Dipaksa untuk memahami. Dipaksa untuk tidak boleh emosional. Dipaksa untuk hal hal lainnya yang.. Bukan diri wanita itu. 


Wanita itu, 
tlah kehilangan semua yang ada di dirinya...

Endang Rachmawati 

Minggu, 02 Agustus 2015

Menjadi Stalker

Jakarta, 2 Agustus 2015
02.28

Malam sebelum larut, aku sedang melihat sebentar akun sosmed seseorang. Menahan kantuk yang sedari tadi kutahan. Jangan kau tanya siapa, seperti kebanyakan wanita hanya ingin melepas rindu saja, itu awalnya. Dan akhirnya kau membaca habis semuanya. Namun kau tau, menjadi stalker sosmed seperti membaca diary. Hanya dengan melihat postingannya rindu itu terobati, membaca  tulisannya kau seperti sedang mendengarkannya bercerita tentang masa lalunya. Itulah kehebatan sebuah rangkaian kata, kau merasa dekat dengannya, seakan berbincang dengannya. Padahal kau dan ia sedang tidak bersama. 

Menjadi stalker memang menyebalkan, sudah tau kau akan merasa terluka. Entah itu hanya masa lalunya. Tapi kau tau sendiri wanita, lebih mengedepankan rasa penasaran daripada jeritan perasaannya yang meminta untuk hentikan. Namun menjadi stalker bisa pula membuat kau merasa beruntung dan amat dicintai. Ya walaupun lebih banyak sakitnya.. Tapi itulah wanita, tetap menjadi stalker abadi. 

Berbicara pula menjadi stalker, saat kau rutin mengikuti postingan di jejaring sosial nya. Atau setiba saat kau tiba tiba ingin membukanya, kau tau? Kau sedang merindukannya diam diam, bahkan kau saja yang menyangkalnya perlahan. Pada hal jelas, kau ingin tau "apakah ada aku disana? Di dalam postingan terbarunya." Meskipun tak kau temukan sesuatu untukmu, tapi kau terus berharap setiap hari. Seperti hari ini, kemarin, dan hari hari kemudian :)

Untuk kamu..

Endang Rachmawati

Sabtu, 01 Agustus 2015

Awal Agustus

Bekasi, 1 Agustus 2015
19.09

Malam ini terlihat sangat ramai. Entah karena apa alasannya, mungkin bosan menjalar berdiam di dalam rumah. Berjalan ringan sebentar, sambil menatap langit yang terang membuatnya terlihat semakin anggun. Sambil Berbelanja dan makan bersama teman teman, menghabiskan uang bulanan karena awal bulan. Malam pertama di awal Agustus. 

Lapar, kemacetan membuatku merasa lapar. Perut meronta meminta makan, yang tak diisi dari siang. Langit terlihat menawan, dengan keramaian berlalu lalang. Langit pertama di bulan Agustus.
Banyak harapan yang langit sanjungan pada malam ini. Karena itu ia terlihat menawan. Banyak doa doa dipanjatkan dari orang orang seperti kami yang menatap keramaian malam. Banyak harapan harapan akan kesenangan di bulan kemudian, dari orang orang berlalu lalang. Berharap mereka mampu membelanjakan keinginan mereka, tanpa perlu takut kehabisan uang hingga bulan depan. Merupakan kesenangan para pedangang, atas kebiasaan konsumtif mereka. 

Awal bulan, banyak doa, keinginan, dan harapan yang mereka panjatkan. Untuk kebaikan mereka hingga bulan kemudian. Seperti kebanyakan orang aku pun memanjatkan harapan, semoga aku tetap menjaga perasaan. Atas segala kemungkinan mendatang. Kau tau bukan, aku harus menjaga agar aku tidak terbawa perasaan. Padanya atau pada kalian.  

Selamat malam, aku sedang mencari makan di pinggir jalan. Jangan memintaku untuk menawarkan, nanti aku terlihat pelit. Haha.. 

Jumat, 31 Juli 2015

Aku adalah

Angkot, 31 Juli 2015
15.10

Aku bukan tipe orang suka mengobrol. Di keramaian. Di jalan dengan orang yang tak kukenal. Ku lebih baik diam, biarkan lebih banyak mendengar. Mendengarkan orang berbicara di kelas, mendengarkan kelas ramai dengan kebisingan, mendengarkan mereka bercerita. Itu lebih dari cukup, daripada memaksa diriku untuk menjadi yang lain seperti SMA. 

Mungkin benar aku kini terlalu diam, tidak seheboh dan seaneh dulu. Bahkan aku sendiri bingung, kenapa bisa seperti ini. Tapi aku menikmatinya, berbincang banyak pada beberapa orang terdekat. Lebih banyak mendengar saat di keramaian.  Mungkin aku akan kembali..ke diriku awal saat ku menjadi diam. 

Aku rindu kalian, yang membuatku terlihat like abnormal :" kalian tau? Dunia kampus tidak semenarik saat sma. Bahkan teman teman di kelas ku, tidak ada yang seperti kalian. Aku kesepian...

Rabu, 29 Juli 2015

Mencintai menulis

Jakarta, 29 Juli 2015
Aku mencintai menulis. Sangat mencintai. Aku tau pasti sejak kapan kusuka menulis, mungkin sejak sd. Sejak aku memiliki buku diary. Tapi tak kuteruskan menulis disana, sifat ku yang cepat bosan membuatku tak pernah selesai menulis hingga buku habis. Dimana mana tulisan. Di dinding, di belakang buku tulis, di meja, di kertas ujian, di media sosial, di blog, dan dimanapun. Dimanapun selama tangan kanan sedang lenggang dan bingung ingin apa. 

Aku suka menulis. Mengingat saja tak pernah cukup untukku. Karena kejadian tak pernah hadir dua kali, dan hanya dengan menulis aku mampu kembali ke masa yang ingin kukunjungi. Dulu saat sd aku menulis semua kekesalan kebahagiaan kesedihan di buku diary. Tapi semakin lama aku semakin meninggalkan rutinitas ku. Dan membiarkan segala moment terjadi begitu saja tanpa ada dokumentasi. Aku menyesal seharusnya tak kutinggalkan rutinitas itu. Sudahlah jangan heran jika hidupku penuh penyesalan haha..

Beranjak SMP aku benar benar mulai menyukai, saat di saat itu aku menjuarai FLS2N juara 1 dan  kemudian juara 2 menulis puisi. Saat di tingkat DKI Jakarta saya kalah. Kau tau alasannya? Karena  saat lomba mengganti tema puisi dan selama rentan sampai lomba aku tidak memiliki mood untuk menulis itu membuatku frustasi. 

Berlanjut lagi hingga SMA, aku semakin suka menulis. Menulis hal hal yang kata orang aku terlalu sering galau. Mungkin ini kelebihan cewe perasa sepertiku. Pagi hari ku bisa tertawa terbahak bahak namun beberapa menit kemudian aku bisa berubah menjadi dingin dan diam. Perubahan perasaan membuatku harus menuliskannya..

Ketika kelas 2 SMA aku mengikuti kembali lomba menulis puisi FLS2N dan aku kalah. Kau tau? Aku tidak mood dan karena tertekan oleh tuntutan guru dan harus menang. Aku belajar satu hal, puisi adalah ungkapan hati. Aku harus memaknai dengan pasti apa yang kurasa, apa yang kuingin tuangkan. Menulis adalah ungkapan hati untuk menyentuh hati. Jika penulisnya bingung ingin menyampaikan apa, itu hanya akan terasa hambar. 

Tapi aku tak pernah berani mempublikasikan tulisan ku. Tak berani mengikuti lomba lomba menulis. Sementara riwayat penulis yang kubaca seperti Asma Nadia, tere liye, dan sebagainya sudah mulai menulis sejak sd , smp, atau sma. Dan aku? Hanya mampu menuliskan dan menyimpannya. Aku hanya takut tertolak. :' 

Aku bukan orang yang misterius, menjelaskan semua cerita hidupnya dengan diam. Aku terlalu periang, dan banyak bicara. Asal aku merasa nyaman dengan lingkungannya. Jika tidak ? Kau akan menemukanmu cemberut sepanjang jalan. Bahkan aku seakan tak memiliki privasi karena otak ku saja sudah transparan ._. Mudah terbaca 


Selasa, 28 Juli 2015

Dulu aku pernah terlalu setia

Jakarta, 28 Juli 2015
20.40

Dulu, aku pernah terlalu setia.
Mencintaimu sangat lama.
Hingga lain pria tak kurasa perasaan yang sama. 

Dulu, aku pernah terlalu setia.
Meyakinkan diriku, kita akan bertemu di persimpangan jalan. 
Dekat rukomu. 
Melepas rinduku yang terbelenggu.

Dulu aku pernah terlalu setia.
Meyakinkan diriku, bahwa aku akan baik baik saja.
Perihal kepergianmu yang tak kunjung pulang. 

Tapi kini, setiaku ia tlah menyerah.
Setiaku, ia tlah lelah. 
Menunggu kau yang tak kunjung pulang, saat rindu berebut datang.
Untukmu yang entah di daerah mana kau berada..
Maafkan..

::Saat kau pulang, rinduku tak lagi setia menunggumu datang.::

Endang Rachmawati


Halal bihalal keluarga besar

25  Juli 2015


Semua orang pasti pernah merasa, bertemu kembali. Dengan seseorang yang tlah lama tidak berjumpa. Seperti aku... Hari ini aku bertemu kembali dengan sosok itu. Aku bertemu di acara halal bihalal keluarga besar kakek /buyut Syarief Fatah dan kakek / buyut Murki. Aku akan menceritakan hal lain terlebih dahulu, sedikit bergeser dari tokoh utama yang akan ku ceritakan .

Halal bihalal hari ini adalah halal bihalal terbesar. Dapatkah kau bayangkan 250 lebih keluarga berkumpul dalam satu aula besar. Lokasinya di aula masjid AL Azhar, seperti acara wedding. Bahkan keluarga besar ku saja sudah merajai kwota undangan. Belum lagi keluarga suamiku, teman teman sekolah, teman teman di kampus, tetangga, rekan kerja, kenalan, daan sebagainya. Aku merasa seperti pesta rakyat hahaha...
Oh ya, aku juga memiliki sepupu baru. Sebenarnya sudah lama, tapi kemarin aku baru melihatnya. Dapatkah kau bayangkan?? Aku menjadi penerima tamu dan ia datang bersama keluarganya. Mungkin biasa untuk kalian bertemu aktris, tapi taukah? Aku sepupuan dengannya. Dia adalah Anisa Rahma, mantan girlband cherrybelle. Personil paling badai, tapi saat ku bertemunya kemarin ia terlihat biasa dan make up nya sedikit tebal. Dan dia datang membawa infotaiment hahaha..
Senang juga rasanya bersepupuan dengannya. Apakah masih ada aktor /aktris lainnya?? Atau aku dan Bapak Susilo Bambang Yudhoyono memiliki garis keturunan keluarga. Mungkin dengan bapak Darwis tere liye? Ah tak sabar aku menunggu kejutan sepupu/om/tante baru ku :) 

Tadi tlah ku ceritakan keluarga dari nenekku, sekarang akan ku ceritakan keluarga dari kakek ku. Ah bersabarlah kau, jangan terlalu terburu menanti aku menceritakan tokoh utama. Apakah kau tak tau tokoh utama itu diceritakan di awal atau di akhir. Dan aku memilih bercerita di akhir. Oke kembali lagi cerita keluarga kakek ku. Kakek ku itu berasal dari Makassar , sebenarnya aku memiliki darah keturunan Makassar tapi tak banyak. Kata ibuku, kakek dulu di kampungnya sangat kaya. Almarhum bernama Andi Amir Lahasan Baso. Kalau di Makassar aku cari tau, Andi adalah gelar untuk bangsawan di sana. Dan kau taulah, aku adalah cucunya bangsawan. Hahaha.. Perkenalkan namaku Andi Endang Rachmawati dan aku adalah bangsawan yang tidak mengerti kenapa aku tidak kaya xD 

Kau tau alasan kakek ku malah memilih menjadi orang biasa di Jakarta ? Karena cintanya pada nenek. Nenekku adalah orang betawi asli, saat kakek ku melihat nenek, ia sudah jatuh cinta pada pandangan pertama. Kakek ku adalah orang kaya di kampungnya, namun nenek tidak mau ikut kakek ke Makassar.karena cintanya, kakek meninggalkan hartanya disana dan hidup dari nol bersama nenek. Romantis bukan? Itu adalah cinta sejati. Aku iri. Hehe

Berhubung cinta sejati, baiklah akan ku ceritakan tentangnya. Setiap dua tahun sekali aku harusnya slalu bertemu dengannya. Karena acara halal bihalal diadakan dua tahun sekali. Tapi aku tak pernah memperhatikannya secara utuh. Baru akhir akhir ini, terakhir saat pengajian mingguan keluarga mereka di bogor aku dan ibuku hadir di dalamnya.  Aku menyadari sesuatu ada yang beda. Hahaha..setiap aku melihat dia dan keluarganya, ada kekuatan yang membuatku harus menjadi lebih baik lagi. Harus lebih dekat ke Allah lagi. Setiap aku melihatnya lebih dekat, sesuatu lansung menundukkan kepalaku. Setidaknya, mengingat ia dan keluarganya membuat hatiku slalu semangat beribadah. Jika kau melihatnya, kau akan bertingkah sama sepertiku. Sesuatu yang kecil menjadikan perubahan besar. Ia masih muda mungkin terpaut 3-5 tahuh diatas ku. Ia terlihat biasa saja, biasa dari definisi ku biasa dalam penampilan. Ia layaknya seperti teman teman seusianya, tidak ada pakaian/aksesoris yang mencolok. Aku suka orang seperti itu. Ia memiliki gaya yang biasa, tapi membuatku tak biasa. Setidaknya aku menemukan kebahagiaan yang pernah tertinggal di belakang, dan menemukan seseorang yang mengingatnya membuatku ingat pada Allah. :) aku rindu mentoring SMA ku, saat ku melihat mereka aku slalu membuatku mengingat Allah :' 

Endang Rachmawati

Jumat, 24 Juli 2015

Aku mengenalmu sejak lama


Aku mengenalmu sejak lama.
waktu, Inginkan kita tuk bersama.
walau tampak mengerikan dunia.
Aku aman selama kau ada.

Reeff: 
Kau membuat aku suka.
Berbincang denganmu aku suka.
Aku suka, aku suka.
Denganmu aku bahagia.

Aku mengenalmu sejak lama.
Berdua denganmu, aku suka.
Tak perlu mencari ke segala.
Kamu sudah aku punya.










    



Kamis, 23 Juli 2015

Harus baik baik saja

Tol, 23 Juli 2015
03.29

Sepagi ini aku terbangun. Aku rindu kamarku, tapi kenyataannya aku masih berada di kendaraan beroda empat ini. Dan entah, setiba aku ingin menulis. 
------------------------------------------------

Pernahkah kau merasa menghindar dari sesuatu ? Atau dari tempat, untuk sementara waktu ? Pernah kah kau saat kau menyebutkannya, semua kenangan itu berputar. Membuat kau sesak tak karuan. 

Aku pernah. Asal kau tau, aku tak pernah membenci tempat itu, bahkan aku sangat menyukainya. Ingin rasanya kembali, kembali berseragam resmi dan memperbaiki semuanya. Tapi saat mengingatnya, ada terasa sesak kuberasa. Semua tentangmu berputar. Aku pernah mencoba, mencoba ingat hal yang menyenangkan. Tentang kepedulian, persahabatan, dan cinta. Sedangkan kau adalah ingatan terakhir itu. 

Aku ingin pergi ke sana. Memaksa diri yang mungkin akan terbiasa. Tapi akhirnya aku menyerah, aku tak pernah bisa ke sana.
Karena ia tertinggal bersama kenangan baik dan menyenangkan.  Aku selalu punya alasan untuk menghindar. Kini mengingatnya membuatku sesak berasa. Setelah ku buka album lama bersama mereka, aku kembali sesak. Sekali lagi, aku benci. Aku benci harus menjadi wanita perasa.

Mungkin aku harus lebih jauh melangkah, mungkin harus lebih banyak orang yang kutemui. Karena menghindar adalah jalan satu satunya, yang kutempuh selama ini. Dan aku 'harus baik baik saja'

Endang Rachmawati


Selasa, 21 Juli 2015

Perpisahan

Perjalanan pulang dari Bojonegoro, 21 Juli 2015
20.20

Kata ibuku, hal paling menyakitkan adalah perpisahan. Entah perpisahan sementara ataupun selamanya. Hari ini, untuk kesekian kali harus aku alami kembali. Perpisahan, memang bukan selamanya tapi itu menyakitkan. Dua hari sudah ku biasakan dengan mereka, bermain, dan sebagainya. Walaupun saat itu aku ingin segera lepas pergi. Walaupun bosan melanda diri. Tapi mereka adalah keluargaku. Kesedihan pun pasti ada..

Akankah kutemui mereka di perjumpaan selanjutnya ? Atau itu adalah perpisahan selamanya.. Entahlah
Aku merasa, semua takkan lagi pernah sama. Semua kejadian, entah perpisahan dan perjumpaan takkan lagi sama. Kata salah satu seniorku, kejadian tidak akan menciptakan moment yang sama. 

Mungkin Lebaran selanjutnya, takkan kutemui salah satu dari mereka. Seperti tahun sebelumnya, aku harus kehilangan salah satu keluargaku. Padahal dua tahun lalu kami berbincang dan berfoto bersama. Merinding ku rupanya. Semoga kau tenang ya Lek Minti :) 

Aku selalu berharap, setiap hari akan seperti ini. Tidak akan ada yang hilang, tak kan ada yang pergi. Karena semua orang tak suka perpisahan. Jika saja boleh aku berharap seperti itu. Tapi di kenyataannya, entah kapan waktunya perlahan aku akan kehilangan satu persatu kawanku, atau bahkan keluargaku. Seperti tukang parkir di dekat rumahku, setiap hari saat berangkat sekolah sejak SMP aku bertemu dengannya, berbincang. Dan pada hari yang telah terlewatkan aku tak menemuinya, dan aku mendapat kabar ia telah meninggal. Innalillahi. Walaupun aku tak mengenalnya, tapi ada kesedihan yang mendera ku. Aku benci perpisahan. Aku benci kehilangan.

Jika kita masih bersama mereka, Tuhan sedang memperpanjang waktu kita bersamanya. Aku sedih menulisnya, aku sedih memikirkannya, dan aku menangis rupanya . :' ah lemah sekali hati kau Endang.

Jika mengingat ini, aku ingin terus menikmati setiap detikku bersama mereka. Karena waktu dan kesehatan adalah anugrah Tuhan terbesar untuk manusia. Maafkan aku yang tidak lebih bersyukur atas karunia-Mu. berilah aku waktu lebih lama bersama mereka. Aamiin 

Endang Rachmawati 

Mungkin benar

Bojonegoro, 21 Juli 2015
15.41

Senja telah datang, ayamku menuju pulang.
Tidak untukku, yang tetap diam.
Menatap alam mulai ramai akan kepulangan. 
Aku disini, menatap senja melalui kaca jendela.
Memikirkan banyak hal, yang entah..
rasaku tak nyaman sejak semalam .

Banyak orang berkata, rindu adalah ketika kau menunggu seseorang untuk 'pulang'. Sampai kau tak enak berasa sejak semalam, hingga sesak terasa mencekam. 

Mungkin aku bisa setuju
mungkin juga tidak
Entah

Tak tau apa yang sedang kurasa
Yang kutau,
ia telah pergi..
Membuatku terhenti, untuk melihatnya setiap pagi.
Membuatku tak berasa, cinta yang dulu istimewa
Melemahkan jiwa, karna hatiku kau bawa serta. 
Semua membuatku hampa tak bertenaga

Ah, mungkin benar
Aku hanya terlalu..
merindumu dengan selalu

Endang Rachmawati

Senin, 20 Juli 2015

Anggap saja khayalan, semoga jadi nyata

Bojonegoro, 19 Juli 2015
21.35

Malam semakin larut, dalam suasana yang berbeda. Selamat datang di kampungku, yah kampung bapakku lebih tepatnya~

Kau tau aku sedang apa? Aku sedang duduk di kursi kamar yang disediakan oleh mbah putri dan menunggu seseorang yang katanya rindu suaraku, ah membuatku tersipu. 

Aku sedang memikirkan sesuatu tentang masa depanku nanti, tentang keluarga kecilku. Ah aku tertular ia rupanya -_- tak apalah aku berkhayal sebentar. 
Kali ini aku akan menjalani semester 3 di kampusku, sudah tidak ada alasan lagi untukku tidak memikirkan masa depanku nanti. Kau tau aku sudah ditolak SBMPTN tahun ini, dan otomatis aku harus menjalani kampus keguruanku hingga selesai. Jika kau bertanya apa yang aku kejar, sudahlah lupakan. Aku harus mencari kesenangan di kampusku. Pertama aku harus mendapatkan beasiswa, itu sangat peting. Setidaknya aku harus pernah mendapat beasiswa berprestasi ._. Lalu aku ingin kerja parttime, harusnya jadi guru les tapi... Sama anak anak aja masih moody bisa bisa jadi guru galak. 

Kedua setelah lulus, dan aku akan ikut pelatihan SM3T yaitu pelatihan calon guru mengajar di daerah terpencil untuk beberapa jangka waktu seperti Indonesia Mengajar. Setelah itu aku harus mulai mengajar, di sekolah internasional. Aamiin. Mengapa aku tidak di sekolah negeri, kan lebih gampang? Jawabannya karena, kata dosen ku jadi guru itu harus dari sekolah terbaik dulu agar dapat membentuk guru berkualitas baik dalam pengajaran, pola fikir, maupun pendekatan ke siswa. Jika kau langsung ke sekolah negeri, yang mayoritas guru senior dengan pola fikir dan pengajaran tradisional, kita tidak akan berkembang dan mengubah pendidikan di sekolah tersebut. Aku setuju dengan pola fikir dosenku, jadi aku masukkan ke dalam planning berkhayal masa depan. Hehe..

Ketiga, aku ingin menikah di umur kisaran 24-25 yah semoga bisa dikisaran itu. Walaupun kata orang jangan membuat planning untuk umur menikah, tapi ya anggap saja aku sedang berkhayal. Alasan aku tidak ingin menikah muda? Prinsipku dua, pertama ingin memastikan semuanya. Kesiapanku dan keyakinanku pada pasanganku kelak. Pernikahan sekali seumur hidup. Dan prinsip kedua, ingin mensukseskan diri dulu. Kalau bisa abis s1 langsung s2, agar pas punya anak tidak lagi mengejar mimpi mimpi itu. Dan fokus ke anak. Karena aku tau..jadi anak pembantu itu tidaklah enak. 

Keempat, aku ingin lebih mengenal calon suamiku kelak. Untukmu calon suamiku yang entah siapa dan sedang apa, aku ingin menitipkan seluruh cintaku untukmu kelak yang belum pernah kuberi pada laki laki sebelum kamu. Aku harap kelak, kau akan mencintai keluargamu. Kau akan dekat dengan anak anak kita. Menjadi ayah, super Hero, dan sahabat untuk mereka. Karena aku tau, memiliki ayah yang asyik dengan dunianya sendiri itu tidak enak. Jadilah iman ku , jadilah sahabat anak kita kelak. seorang ayah mampu menciptakan keluarga seperti apa yang ia inginkan. Aku harap kamu akan berprinsip sama denganku. :)

Kelima, untuk calon suamiku aku ingin terus mencintaimu. Kau tau, aku seringkali bosan saat bersama pria sebelum kamu. Aku harap kau akan terus romantis, menciptakan kejutan kejutan kecil hal yang kusuka. Karena, aku akan lebih romantis lagi Padamu. Tolong imbangi aku, agar aku tidak bosan denganmu. Kau tau, aku akan mengabdikan lebih dari separuh hidupku bersamamu. Dan bertahan itu sulit.

Keenam,  saat aku berkeluarga. Aku akan menerapkan No Gadget. inikan khayalan, jadi kau harus mengikuti arah pemikiranku. Mengapa Aku menetapkan No Gadget? Karena kau tau Gadget atau alat elektronik yang semakin canggih, akan membuat anak menjadi pasif. Menjadi anak tidak mudah akrab dan tidak mau bergaul dengan lingkungannya. Menurunkan sel-sel kecerdasan di otak anak, saat sedang berkembang pesatnya. Membuatnya bisa menjadi pembangkang, karena ia akan melakukan apa saja bahkan melawan untuk mendapatkan yang ia inginkan. Aku tlah menerapka di sepupu dan keponakanku, saat mereka meminjam Gadget aku mengalihkan dengan mengajaknya bermain yang lain. Dan berhasil. Untuk calon anakku kelak, aku akan mendongengkanmu setiap malam sebelum kau tidur, setiap minggu aku akan mengajakmu ke perpustakaan dan setiap bulan kita akan membeli buku buku yang kau suka. Kau tau? Aku ingin kau mencintai buku. Karena ia adalah teman terbaikmu. Untuk calon anakku nanti, aku akan memasakkanmu makanan ringan yang kubuat dengan cinta, aku akan mengajarkanmu banyak hal tentang dunia. Aku akan menjadi ibu dan sahabatmu kelak.

Ketujuh, aku ingin membangun sekolah. Impianku sejak kecil jika aku tidak menjadi dokter. Aku tau menjadi guru yang disukai muridnya tidaklah mudah. Menjadi satu satunya guru yang akan slalu diingat muridnya, walaupun tlah banyak orang yang lebih hebat dari gurunya. Merek yang tlah ditemuinya di setiap belahan dunia yang ia kunjungi. Menjadi guru yang membuat muridnya mencintai belajar dan pelajarannya, karena kutau guru memiliki banyak pengaruh terhadap cita cita dan minat seorang murid. Dan terakhir menjadi guru yang mampu emnginspirasi muridnya. Karena guru adalah model untuk muridnya di sekolah. Dari caranya berbicara, tingkah laku, pola fikir, cara berjalan, dan cara berpakaian yang harus slalu selaras. Susah memang, tapi semua akan berjalan seiring waktu. Dan saat aku telah mampu, baik mental maupun finansial aku akan membangun sekolah. Bersama ibuku. Menciptakan sekolah yang kondusif dan lebih mengedepankan minat siswa bukan hanya memaksanya untuk menghafal semua pelajaran. Menjadikannya sekolah adalah kesenangan bukan sebagai rutinitas yang dicaci setiap pagi. 

Ah semoga saja planning khayalan hidupku ini akan menjadi nyata. Perlahan kutau walau tak semuanya akan terlaksana tapi aku akan mencoba memperbaiki diri dan memantaskan diri, agar aku terlihat layak bahkan lebih dari layak untuk mendapatkan semuanya. Aamiin. 

Sudah dulu ya, terlalu panjang bercerita. Sampai bertemu nanti, saat perlahan semuanya mulai tergenapi. :) 

Endang Rachmawati

Hidup di Jakarta Akhir akhir ini

Jakarta, 10 Juli 2025 17.22 Hidup di Jakarta akhir-akhir ini kenapa menjadi seperti ini. Udara yang semakin memburuk membuat saya malah terk...